
...💕💕💕💕...
Sejak Ritz berpindah tempat duduk di samping sang Nyonya Besar Mahendra, tidak ada suara rengekan terdengar dari arah depan di mana ada Devan yang di sibukkan menggantikan posisi sang sahabat untuk menjaga si gadis cantik kesayangan mereka.
Dalam hati Devan tidak berhenti mengumpat saking lelahnya berada dalam posisi duduk dengan satu tangannya di jadikan bantalan kepala Ayana, tiga jam bukanlah waktu yang singkat baginya membiarkan gadis cantik itu tertidur nyenyak.
.
.
Untung nih anak gadis kesayangan keluarga Mahendra, kalau bukan sudah dari tadi gue buat dia terbangun. Mana tangan gue udah kebas lagi, pria brengsek itu kenapa belum kembali juga. Devan berbicara dalam hati
...****...
Selesai berbicara dengan sang Eyang yang memakan waktu kurang lebih tiga jam lamanya, barulah Ritz kembali duduk di kursi penumpang samping Ayana.
Pria tampan itu sontak tertawa setelah sampai di hadapan Devan yang masih setia memeluk Ayana sedari mereka bertukar tempat, sorot mata tajam sang sahabat menatap nyalang penuh permusuhan ke arah Ritz.
"Lo di belakang beneran lagi ngomong sama Eyang atau lagi ngapain sih?" kesal pria tampan yang berprofesi sebagai Dokter tersebut.
Tangannya hampir saja mati rasa andai sahabatnya itu belum juga datang dan menggantikan posisinya.
Ritz mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh seakan apa yang di katakan Devan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
"Berisik, udah gantian lagi." Sahut pria tampan itu sembari membantu Devan bangkit dari tempat duduk
Kedua pria tersebut kembali bertukar posisi seperti sebelumnya, beruntung si cantik kesayangan mereka tidak terganggu saking nyenyaknya.
Setelah Ritz sudah duduk di tempatnya barulah Devan berjalan ke belakang dan duduk di samping sang Nyonya Besar.
__ADS_1
.
.
Kecupan kecupan penuh kasih sayang dan cinta di berikan Ritz pada pucuk kepala gadis kecil kesayangannya itu, terlalu banyak yang ia pikirkan selama berada dalam pesawat menuju negara asal tempat di mana ia di lahirkan.
Bayangan akan wajah cantik milik seorang wanita yang sampai detik ini masih berstatuskan sebagai kekasihnya terus berputar di otak, bukan merasa rindu akan sosok cantik pemilik hatinya dulu sebelum Ayana menggeser posisi tersebut sekarang.
Melainkan, sebagai seorang pria yang menjalin hubungan Asmara hampir tiga tahun lamanya tentu dalam hati Ritz masih terselip rasa cinta dan sayang pada sosok wanita cantik bernama Maira tersebut, meski sekarang ini mungkin hanya rasa sayang lah yang jauh lebih besar.
Aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat sebelum masalah yang lain datang menghampiri. Bathin pria itu menerawang jauh ke depan
Katakanlah untuk saat ini julukan yang pantas baginya adalah pria brengsek yang nekat menggenggam erat dua kekasih sekaligus.
Namun, bukanlah itu poin utamanya menurut Ritz.
...****...
Pesawat yang terbang hampir lima jam lamanya akhirnya mendarat dengan sempurna di bandara, semua anggota keluarga dengan perlahan turun dari kereta besi itu yang di ikuti oleh penumpang lainnya.
Seorang Pramugari yang kebetulan melihat ke arah kursi penumpang di mana masih ada dua orang yang belum juga turun segera menghampiri guna mengecek keadaan mereka.
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" seru Pramugari cantik itu bertanya.
Ritz yang sempat kaget melihat kedatangan Pramugari tersebut masih terdiam, beberapa detik kemudian baru ia buka suara.
"Tidak ada, hanya menunggu gadis kecil ku bangun sebentar lagi" jawab Ritz seadanya tidak lupa seulas senyum yang singkat tercetak di wajah tampannya.
Hal itu sukses membuat jantung Pramugari cantik tersebut berdetak kencang melihat betapa sempurnanya ciptaan Tuhan di hadapannya itu.
__ADS_1
Ganteng banget milik orang. Pekiknya dalam hati
"Aah, maaf sudah mengganggu anda. Kalau begitu Saya permisi dulu," pamitnya sedikit gugup merasakan tatapan tajam dan aura dingin Ritz begitu pekat.
Karena hanya di balas anggukan kepala oleh Ritz, dengan perasaan malu Pramugari cantik itu berlalu pergi meninggalkan dua anak manusia yang menurut penilaiannya adalah pasangan kekasih.
"Mata mereka susah berbohong," gumam Ritz tersenyum miring.
Terlalu banyak wanita cantik dengan daya tariknya masing-masing yang ia temukan di mana-mana, tidak heran bila masih ada wanita yang terpesona akan parasnya.
Tidak berselang lama Ayana mulai menggeliat kecil merasa tidak nyaman, sesuatu yang sedari tadi terus mengganggunya sedikit membuatnya jengkel.
"Berhenti lah mencium wajah ku, Daddy!" rengek Ayana mulai membuka kedua matanya dengan perlahan.
Wajah cantik alami baru bangun gadis itu begitu mempesona di mata Ritz.
"Bangun sayang," seru Ritz sambil berbisik.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Ayana seraya matanya menelisik ke semua tempat duduk.
"Lima belas menit yang lalu, Daddy rasa semua orang tengah menunggu kita di luar." Jawab Ritz sembari bangkit dari tempat duduk
Tangan pria tampan itu menuntun Ayana berjalan keluar dari Pesawat, ada pun Pramugari cantik yang beberapa menit lalu menghampirinya terlihat menunduk malu tidak berani mengangkat kepala.
Ritz yang sadar memilih bersikap normal seolah tidak ada yang terjadi, baginya masalah seperti itu sudah biasa sering ia alami.
Resiko menjadi pria tampan dengan segalah kelebihan yang nyaris sempurna memang seperti itu.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1