Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (24) Penjelesan Nyonya besar Bachtiar


__ADS_3

...🌾🌾🌾🌾🌾...


Sudah hampir satu minggu setelah Ayana masuk rumah sakit, Eyang belum berani membawa gadis itu tinggal di rumah miliknya.


Rasa takut dan khawatir kejadian tersebut akan terulang lagi, membuat Eyang memilih cari jalan aman.


Seperti yang di katakan Devan waktu itu, dimana sadarnya Ayana dari operasi minggu lalu kemungkinan besar akan ada perubahan sikap yang di perlihatkan gadis itu.


Devan sampai berulang kali membuang napas kasar menormalkan emosi dalam dirinya agar tidak meledak.


Perdebatan terus terjadi di ruangan kantor milik Ritz, datangnya secara tiba-tiba sang sahabat sedikit menimbulkan perasaan tidak enak di hati Ritz.


"Jika kedatangan mu kemari hanya untuk mengajak ribut, aku tidak bisa meladeni mu sekarang. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat." Tegas Ritz mengabaikan Devan


Mata Devan menatap nyalang ke arah Ritz, tanpa peduli ada orang lain selain mereka di sana.


Radit, asisten sekaligus sepupu dari Ritz itu hanya bisa diam seribu bahasa di ujung ruangan.


Hawa menakutkan yang mulai ia rasakan semenjak dua pria yang berbeda karakter itu bertemu.


Sepertinya aku akan menjadi saksi mata di sini. Jerit Radit dalam hati


Ingin rasanya pria itu keluar dari ruangan sang kakak, namun urung Radit lakukan. Ia takut bagaimana jika akan terjadi perkelahian, apalagi ini di kantor bukan di luar kantor.


Entah apa yang di bicarakan Ritz dan Devan, yang jelas hanya mereka yang tau. Jangankan menguping, satu kata saja tidak bisa di dengar Radit.


"Apa yang mereka bicarakan sih, kenapa aku tidak bisa mendengarnya." Kesal Radit begitu penasaran


Melihat Devan keluar dari ruangan, dengan cepat Radit menghampiri sang kakak sepupu di meja kerjanya.


"Kak, apa yang kalian bicarakan? Mengapa wajah kak Devan terlihat sangat marah?" Tanya Radit tidak sabaran


"Bukan apa-apa, lagi pula untuk apa kau mencari tahu?" Jawab Ritz balik bertanya


"Ckck, benar-benar pria yang dingin." Cebik Radit berlari keluar ruangan sebelum mendapat semburan dari Ritz


...****...


Dari masalah Eyang mengirim email pada orang tua Maira minggu lalu, wanita baya itu hampir setiap saat mendapat informasi mengenai keluarga tersebut yang mungkin tidak terima acara lamarannya di tunda.

__ADS_1


Kepala Eyang, rasanya mau pecah selalu saja di desak untuk memberi penjelasan yang tepat mengapa sampai ada penundaan, tak ingin kabar ini sampai di telinga anggota keluarganya terutama Ritz.


Mau tidak mau Eyang, harus menemui pihak keluarga Maira untuk memberikan penjelasan, beruntung ada Amalia yang di beri izin sang cucu untuk menemani wanita baya itu bila ingin pergi keluar.


Eyang mengirim pesan pada orang tua Maira untuk bertemu di salah satu Restaurant milik Ritz, wanita baya itu meminta pelayan Restaurant agar menyiapkan satu privat room untuk pertemuan.


Beberapa saat kemudian, orang tua Maira dan Maira sudah tiba di ruangan yang sebelumnya di minta Eyang pada pelayan menyiapkannya.


"Silahkan duduk Hendra, sekalian ajak anak dan istri mu juga." Ucap Eyang mempersilahkan


Hendra dan Alma duduk berdampingan, sementara Maira dengan PD-nya duduk di dekat wanita baya tersebut.


Amalia yang melihat tingkah naif calon istri dari Bos nya itu, rasanya ingin muntah dan mengumpat kesal.


Cih, ingin mengambil hati Eyang. Jangan harap kamu mampu menyingkirkan posisi Ayana. Desis Amalia dalam hati


Sebelum membahas masalah pembatalan lamaran, Eyang sengaja meminta Maira dan orang tuanya makan siang terlebih dahulu.


Wanita baya itu sengaja berlama-lama makan agar nantinya pembicaraan cepat selesai.


Eyang hanya punya setengah jam untuk memberi penjelasan pada orang tua Maira, hadirnya Amalia tentu sangat membantu.


"Jadi begini, aku langsung saja pada intinya." Ucap Eyang dengan nada serius


"Tapi kenapa harus di tunda acara lamarannya, Nyonya? Bukankah anda masih bisa pergi setelah lamaran selesai." Tanya Hendra belum puas dengan jawaban yang di berikan sang Nyonya Bachtiar


Wanita baya itu diam sejenak sebelum kembali buka suara, di tatapnya lekat-lekat Hendra beserta istrinya. Soal Maira, tidak perlu di nilai lagi kelakuannya.


Benar-benar keluarga yang berantakan. Bathin Eyang sambil menghela napas pelan


Sang Nyonya Bachtiar mengatur duduknya agar lebih nyaman berbicara.


"Hendra, pasti kamu tahu persis siapa aku bukan? Dan kamu juga sudah paham betul bagaimana aku mengatasi sebuah masalah, entah itu masalah sepele atau mungkin masalah besar."


"Aku paling membenci orang yang tidak bisa di ajak bekerja sama dalam satu masalah, maunya menang sendiri, berlaku sesukanya, suka membantah tanpa memikirkan resikonya, dan yang terakhir berlaku egois bagai orang serakah akan sesuatu."


"Semua yang aku sebutkan tadi dengan jelas sudah kamu pelajari bukan? Atau apa perlu aku mengulang lagi?"


Sang Nyonya Bachtiar, bukanlah orang yang mudah di singgung. Sudah di beri penjelasan, namun tetap saja masih menginginkan yang lain.

__ADS_1


"Jangan hanya karena salah satu cabang perusahaan ku menjalin kerja sama dengan mu, terus kamu sesuka hati melakukan apapun." Tekan Eyang dengan nada terkesan dingin


Hendra yang masih belum menyadari letak kesalahannya, seakan tidak mengerti dan terus saja berbicara.


"Maksud anda apa, Nyonya? Bukankah selama ini hubungan kita terjalin dengan baik, aku hanya ingin lamaran putri ku tetap berjalan sebelum Nyonya dan Ritz pergi ke Amerika." Sahut Hendra tanpa rasa malu sedikit pun


Melihat tingkah bodoh papa Maira, sukses mengundang tawa Amalia yang sejak tadi duduk diam di samping Eyang.


#Ops.


"Maaf atas kelancangan saya tuan Hendra." Kata Amalia berusaha menahan tawanya


Wanita cantik itu sampai berdehem cukup keras, kini saatnya giliran Amalia yang bicara.


"Tuan Hendra, Nyonya Alma dan Nona Maira. Sebelumnya saya mohon maaf, karena harus mengambil alih menjelaskan kembali apa yang terakhir di tanyakan. Saya paham maksud tuan Hendra, mengingat tanggal lamarannya sudah tersebar luas. Tetapi, semua itu terserah pihak kami mau mengadakan di hari yang telah di tetapkan atau mungkin bisa saja di tunda. Bukankah lamarannya nanti bersifat tertutup? Hanya orang-orang tertentu yang boleh menghadiri acara tersebut, orang luar tidak di perbolehkan." Jelas Amalia secara rinci


"Tapi," Sela Hendra dengan cepat di tahan Amalia


"Tuan Hendra jangan dulu menyela ucapan saya, pihak keluarga Bachtiar memang sudah menentukan tanggal lamarannya. Tetapi karena masalah mendesak di perusahaan pusat milik Nyonya besar mengalami masalah, dan itu bertepatan sampai dua bulan mendatang penyelesainnya. Demi tidak menghambat acara lamaran, kami mengambil jalur pintas yaitu menundanya dulu sampai semua masalah di sana selesai."


"Apa kalian mau jadi bahan omongan orang-orang, karena saat lamaran tetap di lalukan juga di hari itu tanpa adanya pihak keluarga inti? Kalian ingin jadi sorotan seluruh media? Begitu keras kepala melakukan pesta lamaran tanpa adanya Nyonya besar dan orang tua dari Bos Ritz."


"Jika kalian ingin acaranya tetap di adakan saat itu, tidak masalah. Asal jangan ada yang protes kalau sampai acaranya hanya di hadiri oleh Bos Ritz sendiri, sudah jelas kalau Bos Ritz tinggal di sini. Berarti yang membantu Nyonya besar di Amerika adalah kedua orang tua Bos Ritz."


Amalia berbicara panjang lebar sampai menguras tenaga dan emosinya, betapa bodohnya orang-orang ini yang hanya mementingkan diri sendiri.


Di samping kanan Eyang, sangat jelas wajah Maira merah padam antara menahan malu dan marah. Ingin rasanya wanita itu berteriak, mengingat hari yang sudah sangat dia nanti akhirnya pupus sudah.


"Mama, papa. Sebaiknya kita pulang saja, jangan mempermalukan diri sendiri seperti ini. Bukankah sudah aku katakan biar masalah ini aku yang selesaikan dengan Ritz." Bisik Maira sudah berpindah tempat di dekat orang tuanya


Melihat tatapan Nyonya Bachtiar yang sulit di artikan, akhirnya mau tak mau Hendra pamit undur diri terlebih dahulu bersama anak dan istrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jangan lupa di like dan kalau mau komen yang sopan yaπŸ˜€


__ADS_2