
🌹🌹🌹🌹🌹
Radit mengantar Ayana ke lantai atas dimana ruangan milik sang kakak sepupu berada, ia tidak bisa berlama-lama karena ada hal penting yang harus di kerjakan.
Kedatangan Ayana di sambut dengan senyum bahagia oleh Ritz, ada banyak sekali pekerjaan yang harus pria itu selesaikan. Beruntungnya sekarang ada Ayana menemaninya hingga malam nanti.
"Aku sudah menjemputnya, ingat jangan membuat keributan selama aku tidak ada." Ucap Radit sebelum keluar dari ruangan
"Utamakan berkas penting yang ada di atas meja itu, kak!" imbuhnya mengingatkan pada Ritz.
Ayana tertawa geli melihat raut wajah masam Ritz yang hendak memeluknya tetapi urung pria itu lakukan ketika mendengar kalimat terakhir yang Radit ucapkan.
"Kau sengaja?" geram Ritz menatap tajam ke arah adik sepupunya itu.
"Aku hanya mengingatkan mu saja, Kak. Ingat, besok pagi kita ada rapat penting."
Usai mengatakan maksudnya, Radit langsung pergi meninggalkan Ritz yang menahan kesal.
"Daddy yang sabar ya," kekeh Ayana merasa gemas dan lucu.
Dia tidak menyangka bisa kembali melihat kejahilan Radit setelah apa yang terjadi kemarin.
"I miss you, Baby." Sahut Ritz manja
Pria itu meminta agar gadis kesayangannya segera mendekat, tanpa menunggu lama Ayana langsung berhambur ke dalam pelukannya sembari tertawa.
Rasa lelah dan pusing akibat terlalu lama menatap layar komputer perlahan menghilang, di gantikan dengan rasa nyaman dan tenang.
Ritz melupakan sejenak tumpukan berkas yang harusnya sebelum jam pulang kantor sudah selesai di periksa, mengingat ada beberapa dokumen penting yang Amalia minta untuk segera di tanda tangani.
"Aunty Amalia tadi berpesan agar Daddy jangan sampai lupa menandatangani dokumen penting untuk rapat besok." Bisik Ayana kala teringat pesan dari sekertaris Daddy nya
"Lima menit lagi sayang," sahut Ritz enggan melepaskan pelukan saking nyamannya.
"No, Daddy. Sebaiknya bereskan dulu pekerjaan Daddy yang Aunty Amalia minta," tolak Ayana segera bangkit dari atas pangkuan Ritz yang merenggut kesal.
Ayana tidak ingin memperlambat pekerjaan pria itu, meski rasa rindunya begitu besar terhadap sosok tampan yang berhasil merebut hatinya itu. Bukan berarti dia bisa seenaknya melakukan sesuatu tanpa memikirkan resiko yang ada.
__ADS_1
Pada akhirnya, Ritz benar-benar kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya tanpa melirik ke arah gadis cantik yang duduk tenang di sampingnya seraya memainkan ponsel.
Beberapa dokumen penting yang Amalia minta sudah di tanda tangani, meski ada sebagian yang pria itu tolak dengan alasan masih perlu di perbaiki lagi.
🌹
Di tempat lain.
.
.
.
Seorang pria tampan hanya mengenakan pakaian rumahan tampak begitu serius memeriksa beberapa email yang masuk lewat orang kepercayaannya.
Hampir satu bulan ia memilih tidak pergi ke perusahaan dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama seorang wanita cantik yang teramat ia cintai.
Banyak pro dan kontra yang harus pria itu terima setelah menyatakan ingin mempertahankan hubungannya bersama sang kekasih, mengingat ada masalah yang harus di selesaikan lebih dulu jika ingin mendapatkan pengakuan dari dunia luar.
Tidak ada satu pun wanita yang mau nama baiknya menjadi rusak hanya karena menjalani hubungan sembunyi-sembunyi, mungkin terdengar sedikit gila tetapi kenyataannya memang seperti itu.
Dan tidak sedikit orang yang mencari tahu seperti apa kehidupan pribadi Maira bersama sang kekasih yang katanya merupakan seorang pengusaha sukses ternama, ada saja berita yang muncul tanpa tahu kebenarannya di akui atau tidak.
Hal itulah yang menjadi beban pikiran seorang Kenzo beberapa hari terakhir, dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Pria itu harus segera membereskan kekacauan sebelum masalahnya semakin melebar kemana-mana, terlebih keberadaan Maira semakin terancam.
Dari arah pintu masuk utama, suara derap langkah kaki menggelitik indra pendengaran Kenzo. Tentu ia sangat hapal siapa yang baru saja datang dari luar setelah hampir dua jam lamanya pergi.
Senyum terukir indah di bibir tipis kemerahan Kenzo melihat kedatangan sang kekasih yang langsung di sambut dengan pelukan sayang.
Ciuman bertubi-tubi pun mendarat sempurna di setiap inci wajah Maira yang tergelak menahan rasa geli, betapa wanita itu merasa sangat beruntung tidak langsung menyetujui permintaan sang papa yang menginginkan pernikahan dengan pewaris Bachtiar Group hanya karena sebuah keserakahan.
Maira tidak bisa membayangkan akan seperti apa kehidupannya nanti, bila rencana licik yang bertahun lamanya di susun papa Rendra sampai berhasil.
"Kirain bakal lama pulang," kekeh Kenzo setelah pelukan keduanya terlepas.
Pria itu sadar bagaimana hubungannya dengan sang kekasih hati belum menemui titik terang, itu sebabnya ia tidak pernah melarang apalagi sampai membatasi kebebasan Maira.
__ADS_1
"Bosan ngga tahu mau ngapain lagi," adu Maira sembari tertawa geli dirinya kembali di cium.
"Ngga mual lagi kan?" tanya Kenzo khawatir.
Maira sering merasakan mual dan munta selama satu bulan terakhir, dan itu membuat Kenzo harus ekstra siaga bila terjadi sesuatu pada kekasihnya.
"Cuma tadi pagi kayaknya," jawab wanita itu.
Kenzo mengangguk paham, ia membawa Maira ke lantai atas untuk membersihkan diri.
🌹
Di dalam kamar, Maira sudah bersih dan wangi setelah berendam sejenak di dalam bathup.
Wanita itu mengenakan baju piyama berbahan satin warna biru, sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus dan bersih.
Pintu kamar mandi yang terbuka menampakkan sosok pria tampan hanya mengenakan handuk sepinggang dengan rambut basah sepertinya belum di basuh.
Maira dengan senang hati membantu Kenzo mengeringkan rambutnya, hal sepele namun terlihat menyenangkan bila di lakukan dengan orang yang sangat kita cintai.
Tepat jam makan malam, keduanya baru keluar dari kamar menuju lantai bawah. Tidak ada yang menempati bangunan mewah itu selain Kenzo dan Maira serta beberapa pelayan rumah.
Usai makan malam, Kenzo mengajak Maira untuk bersantai di ruang tengah seraya menonton TV. Sesekali terdengar suara gelak tawa dan jeritan Maira saking kesalnya menjadi sasaran empuk Kenzo yang menggigit gemas lengannya.
"Lama-lama bisa rabies aku tuh," kesal Maira seraya mengusap bagian lengan yang memerah dan ada bekas gigitan.
"Heh, memangnya kamu pikir aku apa?" cebik Kenzo tidak terima.
Perdebatan pun tidak terelakkan, ada saja yang membuat Kenzo begitu senang menjahili wanita cantik yang kini wajahnya sudah memerah antara marah dan malu akibat ulah pria itu.
"Berhenti atau aku tinggal!" ancam Maira berhasil menghentikkan gerakan Kenzo yang bersiap kembali menggigitnya.
"Astaga, lebih baik aku tidak cepat pulang." Kesalnya
"Kamu berani?" tanya Kenzo menatap tajam.
Maira hanya memutar kedua bola matanya malas, hampir saja dia melupakan pesan dari Ritz sewaktu mereka bertemu.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
🍃🍃🍃🍃🍃