
Perdebatan berlangsung hampir setengah jam lamanya, karena Ritz tidak ingin pergi makan siang dengan sang kekasih, membuat Ayana di runduh sakit kepala.
Entah apa yang akan di katakan Maira nanti, bila tahu pria yang menjadi kekasihnya itu justru mulai terlihat sisi lainnya.
Mudah bosan adalah dua kata yang cocok untuk Ritz.
"Daddy pergi temui tante Maira ya," rayu Ayana lagi dengan penuh kesabaran meladeni sikap keras kepala Daddy nya.
"Ngga mau sayang." Tolak Ritz keukeh tidak mau dipaksa
"Ayana ngga apa-apa Dad. Kan, bukan pergi ninggalin Ayana. Cuma nemenin tante Maira makan siang kok ngga mau sih?" Gemas Ayana mulai terpancing kesal menghadapi sikap sang Daddy akhir-akhir ini
"Daddy udah janji loh bakal turutin semua perkataan Ayana." Cebik si gadis cantik dengan sorot mata tajam menatap Ritz
Melihat raut wajah masam putrinya membuat nyali Ritz menciut.
"OK, Daddy akan pergi. Tapi dengan satu syarat," jawab Ritz akhirnya mengalah.
"Syarat?" Tanya Ayana bingung
Ritz bukannya menjawab, melainkan ia malah menunjuk kedua pipinya dengan bibir yang tersenyum.
Ayana yang tentu sudah paham tanpa basa basi menarik lengan Ritz, agar lebih dekat dan langsung menciumnya.
Hanya kedua pipi saja dicium Ayana, membuat pria tampan yang awalnya tersenyum manis kini wajahnya berubah masam.
"Yang ini belum sayang," protes Ritz menunjuk bagian bibirnya karena Ayana memang tidak memiliki niat untuk mencium dibagian itu.
Mata Ayana sontak membulat sempurna mendengar perkataan Daddy nya barusan.
"Astaga Daddy, apa sekarang waktunya untuk main cium-ciuman? Lihatlah jam yang melingkar di tanganmu itu sudah pukul berapa sekarang?" Kesal Ayana mulai jengah dengan tingkah Ritz yang entah kenapa akhir-akhir ini mulai terlihat aneh dimata gadis itu
"Ya sudah kalau ngga mau, Daddy ngga janji pulangnya nanti jam berapa." Ucap Ritz merajuk ingin bangkit dari duduk namun dengan cepat ditahan Ayana
Senyumnya terukir dengan indah kala gadis itu mencium bibirnya sedikit lama, hanya sebuah ciuman biasa.
"Sana pergi jangan coba-coba ingkar janji, ingat ya sebelum jam 2 siang Daddy sudah kembali lagi ke kantor!" Tekan Ayana sedikit mengancam
"Hmm, jangan kemana-mana, Ok." Pesan Ritz sebelum berlalu keluar ruangan di ikuti Radit, tidak lupa ia mencium sayang kening putrinya sediikit lama.
Dirasa kedua pria tampan itu sudah hilang dibalik lift yang menuju lantai bawah, Ayana bangkit dari duduk. Melangkah pelan menuju satu pintu yang hanya bisa di masuki olehnya sebagai satu-satunya gadis kesayangan Ritz.
Di dalam ruangan yang luas dan serba lengkap itu, Ayana menyibukkan dirinya dengan menonton berbagai macam film di layar TV yang menggantung indah di dinding. Bosan tidak ada lagi yang menarik untuk di tonton membuat gadis itu memilih untuk merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Lambat laun matanya mulai tertutup rapat saking tidak tahan menahan kantuk yang tiba-tiba saja datang, gadis itu benar-benar melupakan makan siangnya dan memilih untuk tidur.
🍀
Ritz yang baru saja tiba di salah satu Restaurant dimana sang kekasih berada, langsung saja masuk ke dalam dengan langkah kaki yang sedikit cepat.
Dari arah jauh Maira sudah melihat kedatangan kekasihnya, tetapi baru saja dia akan bangkit dari duduk, sebuah tangan menahan kuat bahu kanannya agar duduk kembali.
"Hay Maira, apa kabar?" Sapa seorang pria memakai jas berwarna putih sambil tersenyum pada Maira
Maira dibuat terkejut dengan kedatangan pria itu di waktu yang tidak tepat, bagaimana jika Ritz melihat siapa pria yang berada dihadapannya saat ini.
"Pergilah dari sini, Ken!" Usir Maira terus melihat kearah depan dimana Ritz hampir sampai di tempat dia duduk.
"Ada apa denganmu, sayang? Belum lama kita bertemu dan kamu malah mengusirku," sentak Kenzi menatap tajam kearah Maira.
"Jangan membuatku berada dalam masalah Ken, cobalah untuk mengerti. Aku akan makan siang dengan Ritz, bisakah kamu pergi saja dari sini!" Pinta Maira seraya memohon agar pria itu mau pergi
"Nanti malam temui aku di Apartement!" Titah Kenzi sedikit mengancam kemudian berlalu pergi meninggalkan Restaurant
Hampir saja pria itu bertemu dengan Ritz yang sudah tiba setelah Kenzi pergi.
Tak ada peluk cium yang biasa dilakukan Ritz bila bertemu dengan kekasihnya membuat Maira sedikit heran.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Maira sedikit menaruh curiga
"Bukan karena ada sesuatu yang lain kan?" Tebak Maira menatap kedua mata Ritz dengan intens
"Bukankah kita akan makan siang? Kamu sudah memesannya atau belum?" Tanya Ritz tanpa menjawab pertanyaan dari kekasihnya
"Aku sedang bertanya padamu Ritz," tekan Maira masih tetap ingin mendengar jawaban dari pria itu.
"Jangan membuatku marah Maira, apa ini tujuanmu mengajak ku makan siang bersama?" Selak Ritz masih berusaha untuk bersikap tenang
"Lebih baik pesan saja makanan yang ingin kamu makan, waktuku tidak banyak. Jam dua nanti aku harus balik lagi ke kantor." Lanjutnya berbicara dengan nada yang dingin
Maira mulai merasakan ada yang salah dengan sikap kekasihnya saat ini, entah apa yang membuat pria itu enggan menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan.
Lima menit kemudian pesanan mereka sudah datang, Maira yang kebetulan sangat lapar memilih untuk makan apapun yang tadi di pesannya, sementara Ritz hanya meminum segelas jus jeruk tanpa ikut makan bersama kekasihnya.
🍀
Aneh tapi nyata, itulah yang dirasakan Maira setelah usai makan siang. Ritz mengajaknya pergi ke suatu tempat yang biasa mereka datangi selama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
__ADS_1
Maira sangat menikmati suasana tenang di tepi danau sambil menghirup udara yang segar, matanya terpejam sejenak merasakan ketentraman, mencoba terlepas dari beban hidup yang kian hari makin tertambah.
_Tidak ada yang berubah dari sikapmu Ritz, nyatanya aku tetap saja menjadi yang kedua setelah gadis itu._ Rintihan bathinnya yang menangis menahan sesak.
Tepat pukul 01:30, mobil Ritz sudah tiba di depan Apartement milik kekasihnya.
Waktu yang tersisa tinggal sedikit.
"Jangan kemana-mana lagi setelah ini," pesan Ritz seraya mendekap hangat tubuh langsing sang kekasih.
"Kamu aneh Ritz, tadi waktu di Restaurant bersikap dingin padaku dan sekarang kembali lagi seperti biasanya." Adu Maira yang mulai mengeluarkan isi hatinya
"Aku tidak memintamu harus setiap saat bersama ku, dan aku tahu sesibuk apa dirimu. Tapi bisakah jangan mengabaikan telefon dan pesan dariku? Rasanya sangat menyakitkan jika di abaikan Ritz."
Maira menangis tidak sanggup lagi menahan sesak sedari tadi.
Entah apa salahnya hingga Ritz menunjukkan sisi dinginnya di hadapan Maira, selama menjalin hubungan hampir dua tahun lamanya, ini pertama kalinya menurut Maira melihat sikap pria itu sedikit berubah.
Tidak ada yang di ucapkan Ritz selama kekasihnya terus mengeluarkan apa saja yang mengganjal di hati wanita itu.
Ia bukan lagi Ritz yang dulu di kenal Maira. Semua yang di ungkapkan kekasihnya hanya di dengar Ritz tanpa ingin menjawab atau sekedar buka suara.
"Sikap diam mu sungguh membuat ku bertanya-tanya Ritz." Lirih Maira kembali mengeluarkan air matanya
"Aku lelah sayang, jika telefon dan pesan darimu tidak di balas bukan berarti aku mengabaikan mu. Banyak masalah dan juga pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat, tolong mengertilah." Jelas Ritz meminta pengertian dari Maira
"OK, aku paham jika kamu memang sibuk di kantor. Tapi bagaimana bisa Ayana memegang ponsel mu sementara aku tidak pernah sekalipun kamu izinkan," selidik Maira meminta jawaban perihal ponsel Ritz yang katanya di pegang oleh Ayana.
"Dia ikut denganku ke perusahaan, sekarang sedang libur semester. Aku sengaja mengajaknya biar tidak keluyuran diluar sana." Jawab Ritz apa adanya membuat Maira sedikit merasa iri dan juga cemburu
"Jangan banyak berfikir yang tidak tidak, bukankah kamu tahu jelas siapa Ayana? Masuklah ke dalam! Jika aku tidak sibuk, nanti malam aku datang menemuimu, OK."
Ritz mencium kening sang kekasih sebelum wanita itu keluar dari mobil.
Maira tidak lagi bertanya apapun karena menurutnya jawaban yang akan dia dapatkan dari sang kekasih tetap saja akan sama.
"Jalan!" Titah Ritz pada sopir setelah dirasa Maira sudah hilang dibalik lift
Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum sampai di perusahaan.
Sejak tadi pikiran Ritz hanya fokus pada Ayana, si gadis cantik yang ia tinggalkan sendirian di ruangannya.
_Apa yang gadis itu lakukan sekarang? Bahkan aku tidak tahu apakah dia sudah makan siang atau belum_. Gumamnya berbicara dalam hati.
__ADS_1
Sebelum tiba di perusahaan Ritz mampir sebentar di salah satu toko kue kesukaan Ayana.
🍃🍃🍃🍃🍃