
...☘☘☘☘...
Ayana segera melesat pergi meninggalkan area pusat perbelanjaan tanpa menunggu gadis manis bernama Letta kembali menemuinya.
Mobil yang sudah menunggunya di lobi parkiran langsung melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju perusahaan milik pewaris Mahendra.
Sepanjang jalan Ayana hanya duduk diam sembari matanya melihat ke arah luar jalan, bayangan akan wajah cantik dari seseorang yang tidak sengaja di lihatnya hendak keluar Mall begitu familiar.
"Tadi itu Bibi Cantik bukan sih?" gumamnya berusaha mengingat wajah cantik milik seorang wanita.
Ayana memamg tidak tahu siapa nama asli wanita yang sering di panggilnya Bibi Cantik itu, bertemu hanya dua kali itu pun pada waktu yang terbilang lumayan singkat.
...****...
Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit kereta besi tersebut sampai di depan halaman pintu masuk utama gedung pencakar langit Mahendra.
"Loh, paman ngga nungguin Ayana pulang?" tanya gadis cantik itu ketika Radit membuka pintu samping kemudi.
"Ngga. Ada sedikit pekerjaan yang harus paman urus di luar" jawab Radit kembali menutup pintu mobil setelah Ayana sudah keluar.
Gadis cantik itu hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
"Masuklah! Di bagian resepsionis ada Aunty Amalia sudah menunggu kedatangan mu," lanjut pria tampan itu.
Di usapnya pucuk kepala Ayana serta tidak lupa memberikan kecupan singkat di bagian pipi chubby sebelah kanan gadis cantik itu sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.
"Apapun yang kamu dengar nanti, paman harap jangan sampai ada kata benci dan sakit hati pada kami semua." Ucap Radit seraya tersenyum hangat
Ayana mengenyeritkan dahinya bingung.
"Maksud ucapan paman itu apa?" tanyanya sedikit penasaran.
"Tanyakan saja langsung pada kakak! mengenai apapun yang ingin kamu ketahui semua jawabannya ada pada pria itu." Jawab Radit enggan menjelaskan
__ADS_1
Bagi pria tampan yang memiliki kemiripan nyaris sama dengan Ritz itu, lebih baik diam dan pura-pura tidak tahu adalah solusi yang aman tanpa harus menimbulkan masalah.
"Apapun itu boleh Ayana tanyakan pada Daddy?"
Radit menganggukkan kepalanya iya.
"Termasuk keberadaan kedua orang tua ku?"
Lagi, Radit hanya mengangguk tanpa mau buka suara.
Hal itu membuat rasa ingin tahu gadis kecil nan manja kesayangan cucu pertama Mahendra itu semakin besar dan melebar kemana mana.
Ada satu sosok yang ternyata selama ini mulai di curigai gadis itu, mustahil bila kemunculannya hanya sebuah kebetulan semata dan bukan karena ada sesuatu yang lain. Pikir Ayana
Cukup lama Radit berdiam diri dalam mobil miliknya tanpa berniat untuk pergi, ia masih menunggu pertanyaan apa lagi yang keluar dari mulut Ayana.
"Paman," panggil gadis itu.
"Hmm, ada apa?" sahut Radit bertanya.
Sedetik kemudian gadis cantik itu tersenyum penuh arti seraya menatap horor ke arah Radit.
"Jangan menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal gadis kecil," seru Radit mulai bersikap waspada.
Ia sangat hapal kebiasaan gadis cantik kesayangan sang kakak itu bila sudah menemukan sesuatu yang menurutnya sedikit tidak masuk akal.
Sebelah alis milik Radit terangkat ke atas seolah bertanya pada gadis itu, ada apa?
Ayana mendekat ke arah pintu mobil dengan kaca terbuka besar, dia berdiri tepat di mana Radit duduk tenang di bagian kemudi tanpa membuka pintunya.
"Apa wanita cantik yang sudah dua kali Ayana temui juga berkaitan dengan Daddy?"
Skak!!
__ADS_1
Pertanyaan terakhir Ayana membuat jantung Radit sempat berhenti berdetak dalam beberapa detik, lidahnya terasa kelu dengan mata terpejam rapat.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya balik Radit.
"Itu loh, yang sempat kita temui sebelum pulang dari Australia" jawab Ayana sebenarnya kesal sebab yang dia inginkan adalah jawaban bukan malah pertanyaan.
Pria itu diam sembari menelisik waluruh wajah milik Ayana tanpa sedikit pun terlewati.
"Tanpa sadar kalian benar-benar mirip," gumam Radit masih bisa di dengar oleh Ayana.
"Mirip? Siapa yang paman maksud? Kalian siapa?" sosor gadis itu dengan pertanyaan beruntun tanpa jeda.
"Wanita itu," jawab Radit singkat.
"Wanita yang mana?" Ayana bingung.
"Yang sering kamu panggil Bibi Cantik,"
"Paman jangan bercanda."
"Kenyataannya memang kalian mirip," ketus Radit mulai malas.
"Aneh, memangnya dia siapa sampai harus di katakan mirip dengan ku" cebik Ayana memutar bola matanya tidak senang.
.
.
.
"Dia yang selama ini ingin kamu panggil dengan sebutan Mama,"
Radit segera menyalakan mesin mobilnya, kali ini ia benar-benar pergi meninggalkan area perusahaan tanpa sedikit pun menghiraukan ketika namanya terus di teriaki Ayana.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃