
🌹🌹🌹🌹🌹
Maira pulang setelah pria tampan yang kini menjadi mantan kekasihnnya pamit lebih dulu karena seseorang yang menghubungi pria itu beberapa waktu lalu.
Sebuah mobil sedan warna putih bersiap membawa Maira pulang ke Apartement yang beberapa bulan terakhir ini menjadi tempatnya bersembunyi dari jangkauan media serta kedua orang tuanya.
"Langsung pulang, Nona?" tanya sang sopor melihat Maira sudah duduk di kursi penumpang.
Ada rasa kasihan melihat wanita cantik yang sebenarnya baik hati itu harus melewati hari-harinya dengan cara sembunyi-sembunyi.
Maira yang tersadar dari lamunannya hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, rasanya begitu lelah sekedar buka suara.
Semenit kemudian, kereta besi tersebut mulai meninggalkan area Restaurant menuju jalan raya yang ramai kendaraan berlalu lalang.
🌹
Lain Maira yang memilih pulang ke Apartement dengan perasaan campur aduk setelah bertemu dengan Ritz.
Berbeda dengan si gadis cantik kesayangan semua orang terutama seluruh anggota keluarga besar Bachtiar yang mendadak uring-uringan, hanya karena pria tampan yang membuatnya kesal nyatanya justru mengabarinya akan tiba di rumah setelah jam pulang kantor.
"Daddy ngapain lagi sih?" gumamnya pelan berusaha menghubungi Radit.
Hanya pria tersebut dapat menenangkannya sekarang, bertanya pada orang lain percuma.
__ADS_1
Hampir lima menit lamanya Ayana mencoba terus menghubungi Radit, hingga di panggilan ke enam baru pria itu mengangkat telefonnya.
Belum sempat Radit menyapa, justru rentetan pertanyaan dari Ayana membuatnya bungkam.
"Paman dimana? Kenapa lama sekali angkat telefonnya? Astaga ... betapa sulitnya menghubungi kalian," cecar Ayana dengan nada sedikit tinggi.
"Hallo, Paman. Apakah kau mendengar?" lanjutnya tidak sabaran ingin tahu keberadaan pria itu.
Sementara Radit yang berada tepat di samping kakak sepupunya alias Ritz, sekuat tenaga menahan diri agar tidak mengumpat kesal.
Ritz sengaja tidak mengatakan apapun perihal alasan mereka berada di perusahaan, sedangkan Radit tahu betul bagaimana Ayana ketika pria yang membuatnya uring-uringan tak kunjung pulang ke rumah.
...[Paman Radit ...]...
Teriak Ayana kesal pertanyaanya lama di jawab.
Radit langsung mematikan sambungan telefon secara sepihak, akan bahaya kalau sampai Ayana mengetahui keberadaannya.
Di rasa aman, Ritz akhirnya buka suara.
"Kamu berbohong padanya?" tanya pria tampan itu membuat Radit berdecak kesal.
"Apa kakak ingin agar aku jawab jujur? Oh ayolah. Lihat kekacauan yang ada sekarang! Apa kakak pikir Ayana bisa di ajak kompromi?" Radit menjawab pertanyaan sang kakak dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
Bukan masalah bila Ayana tahu, hanya saja untuk membuat gadis cantik itu mengerti sangat sulit. Belum lagi pertemuan Ritz dengan si mantan kekasih berhasil menyulut api cemburu dalam diri Ayana.
Beberapa berkas penting yang memerlukan tanda tangan sang Presdir nyatanya belum juga selesai, mustahil bagi kedua pria itu pulang tanpa menyelesaikan semuanya.
🌹
Ayana mulai diam setelah hampir setengah jam meluapkan emosinya dengan berenang.
"Nona, sudah waktunya makan cemilan." Seorang pelayan wanita berusia 30 tahun mendekat ke arah kolam renang sembari membawa beberapa cemilan lengkap dengan segelas jus jeruk
"Letakkan saja di meja!" sahut Ayana tanpa menoleh.
Dirasa pelayan tersebut sudah menghilang masuk ke dalam rumah, baru lah gadis cantik itu menghampiri meja yang terdapat cemilan dan jus.
Ayana menikmatinya dengan duduk santai mengahadap ke arah kolam renang, beberapa pelayan yang melihatnya enggan menyapa saking merasa takut kena amukan.
Semakin kesini, emosi putri angkat kesayangan Ritz tersebut sering berubah-ubah. Mudah marah dan sangat sulit di rayu bila kemauannya tidak terpenuhi.
.
.
.
__ADS_1
"Tunggu Daddy pulang, lihat apa yang akan aku lakukan."
🍃🍃🍃🍃🍃