
πΊπΊπΊπΊπΊ
Tidak terasa satu minggu sudah Ayana berdiam diri di kediaman utama tanpa adanya keributan yang membuatnya harus menahan kesal.
Kabar mengenai pertemuan antara pria tampan kesayangannya dengan wanita cantik bernama Adinda Maira pun sempat menghebohkan dunia maya.
Bagaimana tidak, mengenai acara pertunangan antara dua keluarga yang sempat tertunda kembali menjadi topik pembahasan beberapa media.
Beberapa di antara mereka ada yang mengatakan jika keduanya mungkin akan tetap melangsungkan acara pertunangan dalam waktu dekat, tanpa tahu kebenaran apa yang sebenarnya tengah di sembunyikan.
.
.
.
#Restaurant
Lima menit yang lalu, Maira tiba di salah satu tempat favorit yang selalu dia datangi bersama Ritz.
Pria tampan yang memintanya untuk bertemu pun nyatanya sudah lebih dulu sampai, bahkan sudah ada segelas jus yang ia pesan tanpa adanya makanan.
Belum ada yang memulai percakapan, baik Maira atau Ritz sendiri masih setia duduk diam tanpa berani untung saling menatap atau sekedar menyapa.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit lamanya, akhirnya Maira sendiri lah yang buka suara terlbih dahulu.
"Maaf atas semua yang terjadi," ucapnya lirih enggan menatap kedua mata tajam Ritz seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Aku mengaku salah, tindakan ku bahkan tidak layak mendapatkan maaf dari kalian. Aku ..."
Ritz langsung meminta agar wanita cantik tersebut berhenti bicara, entah perasaan apa yang mengusik hatinya saat ini.
"Sudah cukup kamu berbicara, tidak baik untuk bayi yang berada dalam kandungan mu itu." Tegasnya ingin marah namun akal sehatnya mencoba untuk tetap bersikap tenang
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku tidak akan memperbesar masalah. Suruh pria itu untuk menemui ku dalam waktu dekat!" Ritz menatap datar ke arah Maira yang tidak memeiliki keberanian untuk melihatnya
Perasaan Maira campur aduk, takut bagaimana jika sewaktu mereka bertemu justru akan terjadi pertengkaran.
"Kamu tidak perlu khawatir, bukankah ia merupakan pria yang baik?" tanyanya dengan senyuman hangat seperti biasanya ketika mereka bersama.
"Biar kedua orang tua mu akan menjadi urusan ku nanti, pastikan saja pria itu mau bertemu dengan ku tanpa adanya dendam yang memicu pertengkaran!"
"Ia bukan orang seperti itu," selak Maira ingin meyakinkan jika kekasih hatinya atau lebih tepatnya Ayah dari bayi yang dia kandung adalah sosok pria baik hati dan penyayang.
Senyum tipis menghiasi wajah tampan milik Ritz, mungkin kisah cinta antara dirinya dengan Maira hanya sampai disini.
"Kamu membenci Ayana?" tanya pria tampan itu serius.
__ADS_1
Maira akhirnya berani mengangkat wajahnya yang sudah di penuhi oleh air mata ketika satu pertanyaan dari Ritz berhasil mengusik hatinya.
"Untuk apa? Bukankah sejak awal hanya gadis itu pemilik tahta tertinggi dalam hidup mu?" tanyanya balik.
"Apalah aku yang hanya menjadi pelindungnya agar kelak tidak ada yang mencoba untuk menyakitinya, bahkan sampai detik ini kamu masih menjadikan aku sebagai tameng agar dia selamat dari orang-orang itu.
Sakit rasanya jika berada di posisi Maira, andai waktu bisa di putar kembali. Mungkin sekarang dirinya sudah hidup bahagia bersama pria tampan yang begitu mencintainya tanpa melihat seburuk apa sikap sang papa yang penuh dengan ambisi terhadap kekuasaan.
"Jaga dia baik-baik!" Maira tersenyum setelah mengatakannya.
Namun belum sempat Ritz membalas, bunyi dering ponsel yang berada tepat di atas meja makan langsung mengalihkan perhatiannya.
Terlihat ada satu nama yang selalu membuat hati pria tampan itu menghangat.
"Ayana?" tebak Maira yang hanya di jawab anggukan kepala dari Ritz.
"Aku harus pulang, mungkin sekarang tengah terjadi keributan di rumah." Jawab pria tampan itu dengan kekehan
Melihat Ritz begitu bahagia sedikit timbul rasa iri dalam hati Maira, tetapi bukan haknya lagi untuk mengklaim jika hanya dirinya lah yang berhak atas pria tampan itu.
"Pulanglah! Jika ada kesempatan, aku pasti akan membuat kalian berdua saling bertemu muka."
πππππ
__ADS_1