Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (34) Benarkah?


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


#Sebulan Kemudian


Kondisi Ayana masih sama seperti sebelumnya, sifat emosional yang sulit di kendalikan serta perilakunya bagaikan anak kecil, di bilang manja sudah kelewatan apalagi saat gadis itu begitu senang melihat orang lain terluka.


Rumah kedua yang di tempati Eyang, sudah ada anggota keluarga inti ikut berkumpul. Tepat di ruang keluarga, Eyang sengaja meminta mereka untuk datang guna membahas sesuatu yang penting.


Sudah ada papa dan mama Ritz, Radit, Amalia, Devan, paman dan bibi Ritz, orang tua Radit serta Ritz dan Eyang yang baru saja tiba.


Ayana sengaja di beri obat tidur agar tidak mengganggu pertemuan mereka, kehadiran gadis itu hanya akan menghambat rencana Eyang.


"Baiklah, aku rasa semuanya pasti paham maksud pertemuan ini di adakan." Ucap Eyang memulai percakapan


"Dua hari lagi aku akan membawa Ayana melakukan pengobatan lebih lanjut di Australia." Lanjut Eyang berbicara santai


Semua orang yang mendengarnya langsung terkejut termasuk Ritz, pasalnya wanita baya itu belum mengatakan apapun pada mereka perihal masalah pengobatan Ayana.


"Maksud Mami?" Tanya Ririn bingung


"Mama serius mau bawa Ayana berobat?" Sambung Adnan tak kalah di buat bingung


"Eyang kenapa tiba-tiba memberitahukan kabar ini pada kami?" Timpal Radit sedikit kesal


Amalia yang kebetulan sudah di beri tahu wanita baya tersebut, dengan cepat membantu Eyang ikut bicara.


"Maaf atas kelancangan saya, sebelumnya Eyang sudah lebih dulu menceritakan masalah ini kepada saya minggu lalu, sekalian meminta pendapat perihal siapa yang bisa di percaya untuk ikut bersama Eyang." Terang Amalia


"Pertemuan ini hanya untuk sekedar meminta pendapat dari kalian semua, apakah ada yang tidak setuju dengan keputusan yang telah Eyang buat?" Lanjutnya seraya menatap ke arah Devan dan Ritz selaku dua orang yang paling berperan penting


Tidak ada yang buka suara atau protes termasuk Ritz dan Devan, mereka diam seribu bahasa seakan memberikan pendapat pun percuma. Pikir mereka


Keputusan Eyang sudah bulat, dalam dua hari ke depan Ayana di izinkan ikut bersama Ritz kemana pun. Sebab, selama masa pemulihan di luar negri tidak di perbolehkan siapa pun pihak keluarga mengganggu Ayana termasuk Ritz.


Eyang ingin masa pemulihan Ayana berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan dari luar, adapun orang yang di percayakan Eyang ikut bersama adalah Devan dan orang tua Radit. Mereka yang akan memantau proses kesembuhan Ayana, selagi berada di rumah sakit.


...*****...


Tepat jam makan siang tiba, Ritz sengaja pulang ke rumah hanya untuk mengajak gadis kesayangannya keluar jalan-jalan. Mereka akan makan siang bersama di salah satu Rerstaurant favorit sang putri, tentu saja Maira belum pernah di bawa Ritz kesana.


Ayah dan anak itu akhirnya sampai di Restaurant, suasananya lumayan ramai pengunjung terlebih kedatangan mereka sedikit mengundang perhatian.


"Selamat siang Tuan Ritz, meja yang anda minta sudah siap." Sapa seorang wanita merupakan manager Restaurant

__ADS_1


Senyum wanita itu tak pernah lepas saat melirik ke arah Ayana, tingkah jahil gadis itu hampir membuat semua pengunjung terhibur.


Terus bergelayut manja di lengan Ritz dan sesekali menggigit gemas jemari pria itu, alhasil jerit sakit lumayan keras selalu lolos dari bibir tipis Ritz.


"Sakit sayang." Keluh Ritz menyingkirkan tangannya


Jika di biarkan akibatnya akan sangat fatal, bisa-bisa seluruh jari-jari tangan pria itu penuh dengan bekas gigitan Ayana.


"Daddy pelit ih, Ayana kan cuma gigit doang ngga sampai di makan juga kan tangan Daddy." Protes Ayana tidak terima kesenangannya di hentikan


"Tangan Daddy bukan mainan sayang, kalau sakit terus cacat gimana? Nanti Daddy tanda tangan berkas di kantor ngga bisa lagi." Balas Ritz dengan nada yang lembut


"Kan gigitnya ngga kuat-kuat Daddy." Rengek Ayana masih bersikeras menjadikan tangan Ritz bahan mainannya


"Lima menit!" Tegas Ritz akhirnya mengizinkan


Mata Ayana langsung berbinar seakan baru saja mendapatkan harta karun, lima menit berlalu gadis itu melepaskan tangan Ritz yang terasa sakit dan ngilu.


Itu giginya jangan-jangan ada pisau, nih jari sampai merah begini. Heran Ritz berbicara dalam hati


Tidak berselang lama makanan yang di pesan Ritz sudah datang, beberapa menu tersaji di atas meja lengkap dengan makanan penutup kesukaan Ayana.


...*****...


Seorang pria tampan terlihat sedang menunggu seseorang, tidak berselang lama yang di tunggu akhirnya datang juga.


"Santai ajah, lagian waktu makan siang masih panjang." Sahut Kenzi tersenyum manis


"Mau pesan apa?" Tanya Kenzi pada Maira


"Apa saja, aku lagi diet sih." Jawab Maira tertawa


"Untuk apa kamu berusaha keras mempertahankan keindahan tubuh mu, tapi belum pernah di sentuh kekasih mu itu." Cebik Kenzi menatap kasihan ke arah Maira


"Jaga ucapan mu itu Ken! Lagi pula Ritz bukanlah pria brengsek seperti yang kamu bayangkan." Protes Maira tidak suka


"Benarkah?" Sahut Kenzi meremehkan


"Maira, Maira. Coba lihat dirimu! Sudah cantik, pintar, mandiri, pekerja keras, baik, memiliki tubuh hampir sempurna dan seksi. Tapi Ritz seakan tidak peduli dengan semua itu." Lanjutnya sambil menilai Maira dari ujung kaki sampai ujung rambut


Maira nampak berpikir sejenak, memang benar yang di katakan Kenzi. Selama ini dia selalu berdandan dan merawat dirinya dengan baik, semua Maira lakukan hanya demi Ritz.


Dua tahun lebih menjalin hubungan bahkan sekarang tidak akan lama lagi mereka menikah, tetapi karena suatu alasan lamaran yang sudah di tetapkan nyatanya harus di tunda dulu.

__ADS_1


Obrolan Kenzi dan Maira terhenti saat makan siang mereka sudah datang.


...*****...


Ritz yang tiba-tiba saja merasakan sesuatu maminta izin pada gadis kesayangannya.


"Ayana sayang, tunggu di sini dan jangan kemana-mana! Daddy ke toilet sebentar." Pamit Ritz tidak lama


"Hmm, Daddy tenang saja Ayana takan kabur." Sahut Ayana terkekeh


Ritz sempat mencium kening gadisnya sayang sebelum berlalu ke toilet.


"Enak juga ya kalau jadi kekasih atau istri, Daddy. Pasti semua keinginan akan terpenuhi tanpa harus memohon lebih dulu." Gumam Ayana berbicara


Matanya sesekali melihat ke arah pengunjung yang baru saja datang, namun tatapan gadis itu langsung memicing ketika tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat di kenalnya.


"Itu kan," Heran Ayana ingin bangkit dari duduk tapi kedatangan Ritz langsung menghentikan niatnya


"Ada apa sayang? Apa ada yang ingin Ayana beli?" Tanya Ritz tidak curiga


Ayana menggeleng cepat seraya membalikkan tubuh tinggi Daddy nya, akan sangat bahaya jika sampai mata tajam pria itu melihat ke arah sudut Restaurant di mana Maira dan Kenzi sedang asik berbincang.


Kenapa pakai acara makan di sini segalah sih. Rutuk Ayana berbicara dalam hati


"Kita pulang ajah yuk, Dad. Perasaan Ayana mulai tidak nyaman, terlalu banyak pengunjung." Ajak Ayana pulang namun sebenarnya hanya alibinya agar sang Daddy tidak melihat Maira.


Ritz yang sebelumnya sudah membayar makanan, menuruti keinginan Ayana untuk pulang.


Selama berjalan keluar Restaurant, Ayana tidak sekalipun membiarkan sang Daddy melirik kesana kemari. Tanpa rasa malu gadis itu meminta untuk di gendong sampai ke mobil, tentu saja Ritz mengiyakan dengan senang hati.


Masa bodoh dengan tatapan orang-orang, asal jangan mata Daddy yang keciprat bisa ular.


Ayana terus mengajak Ritz bicara sampai keduanya tiba di parkiran mobil.


.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like & komennya.πŸ™


Ikut ramaikan karya receh AuthorπŸ˜…


__ADS_2