Daddy I Love You

Daddy I Love You
Cium Boleh


__ADS_3

πŸͺ»πŸͺ»πŸͺ»πŸͺ»πŸͺ»


Ayana masuk ke dalam kamar setelah dirasa emosi dalam dirinya mulai stabil, efek berenang rupanya berhasil mengalihkan pikirannya.


Meski hatinya masih gelisah antara merasakan sesuatu tidak beres di lakukan Ritz atau hal lain, jelas Ayana ingin semuanya baik-baik saja tanpa harus ada rasa sakit yang membuat kondisi mentalnya kembali terganggu.


"Daddy ngga mungkin selingkuh lagi kan?" gumam gadis cantik itu masih belum yakin sepenuhnya pada Ritz.


Pernyataan cinta dari pria tampan itu sewaktu di pesta ulang tahunnya masih belum jelas bagaimana kedepannya mereka akan melewati semuanya.


"Apa tanggapan orang-orang diluar sana tidak akan mengganggu pikiran ku?" gumam Ayana menatap nanar pantulan dirinya lewat kaca besar yang berada di kamar mandi.


Usai membersihkan diri dan berendam sejenak di dalam bathup ternyata sedikit mengurangi beban pikirannya.


Terlalu banyak berpikir membuat kesehatan mentalnya sempat terganggu, adanya pengobatan keluar negri yang Ayana lakukan meski di nyatakan berhasil tetap saja harus di kontrol dengan baik terutama mentalnya.


"Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk hubungan yang rumit ini." Ayana mendesah pelan seraya mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan Hair Dryer


Hampir lima belas menit di dalam kamar mandi, barulah gadis cantik itu keluar dengan pakaian rumahan.


Samar-samar Ayana mendengar suara derap langkah kaki lumayan cepat menghampiri kamarnya, jelas dia tahu siapa yang datang.


Ceklek


Pintu kamar yang terbuka sedikit, menampakkan sosok pria tampan lengkap dengan senyum lebar yang kedua tangannya membawa sebuket bunga mawar putih dan cokelat.


"I miss you, Baby." Ucap Ritz seraya melangkah cepat masuk ke dalam kamar


Baru saja hendak mencium Ayana, sebuah tangan dengan cepat menahan dadanya agar tidak lagi mendekat.


"Baby ..." panggil Ritz memelas.


Ia tahu letak kesalahannya sudah berani membuat gadis kesayangannya itu menunggu.


"Jangan membujuk ku dengan bunga mawar dan coklat yang Daddy bawah itu," kesal Ayana sembari menjauhkan dirinya agar tidak bersentuhan dengan sang Daddy.


"Aroma tubuh Daddy ada bauh parfum milik seorang wanita," imbuhnya membuat kedua mata Ritz terbuka lebar.


Pria itu dengan cepat mencium jas dan kemeja yang ia kenakan demi meyakinkan tuduhan Ayana benar atau tidak.


Sedetik kemudian Ritz tampak meringis takut melihat tatapan mata Ayana begitu tajam seakan ingin mengulitinya hidup hidup.


"Sayang, jangan salah paham dulu." Rayunya mencoba menjelaskan bau parfum milik siapa yang melekat di kemeja yang ia kenakan


Ayana diam seribu bahasa, namun sorot matanya begitu tajam siap melakukan sesuatu yang jelas akan menghukum sang Daddy.


"Malam ini, Daddy tidur di kamar sebelah." Ucapnya lantang bagai terhipnotis Ritz hanya mengangguk paham

__ADS_1


Tentu saja hanya menyetujuinya di awal, jangan harap pria tampan itu mau mendengarkan.


"Jangan berpikir nantinya bisa masuk kamar Ayana ya! Daddy salah besar, pintunya bakal Ayana kunci sampai jendela dan balkon sekaligus."


"Mana ada begitu?" protes Ritz mendadak seluruh tubuhnya lemas seketika.


Akan seperti apa malamnya nanti jika tidur sendirian tanpa memeluk tubuh langsing sedikit berisi Ayana.


"Daddy nurut atau mau besok dan besoknya lagi ngga usah tidur bareng Ayana?"


"Tapi ..." Ritz meremas rambutnya frustasi.


"Ok. Malam ini doang kan?"


"Hmm, tapi entah kalau Daddy melakukan kesalahan lagi mungkin bisa di bicarakan kembali."


"Ngga usah ngadi-ngadi, cukup malam ini Daddy setuju. Enak ajah," meski kesal Ritz tetap melakukan apa yang gadis kesayngannya itu minta.


Biarlah untuk malam ini saja ia tidur sendiri tanpa adanya sosok cantik yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang setiap kali mereka berhadapan.


"Cium boleh kan?" tanya pria tampan itu dengan alis naik turun.


Melihat kelakuan sang Daddy, membuat Ayana kesal sendiri.


"No Daddy, hukuman mu bukan hanya tidur di kamar sebelah. Tapi cium juga ngga boleh sampai besok, OK?" jawab gadis itu tersenyum penuh arti.


Ritz yang merenggut kesal tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, akhirnya keluar dari kamar tanpa menoleh sekalipun.


🌹


Keesokan harinya, usai sarapan pagi yang hanya di temani keheningan tanpa di barengi obrolan.


Semua anggota keluarga Bachtiar yang datang sekedar sarapan bersama langsung pergi melakukan tugas mereka masing-masing.


Ritz sengaja pergi ke perusahaan tanpa mengikut sertakan Ayana, hanya Radit yang selalu berada di sampingnya meski terkadang adik sepupunya itu melayangkan kalimat protes.


"Apa kakak yakin ingin bertemu dengan Tuan Kenzo?" tanya Radit dalam perjalanan menuju perusahaan.


Pertemuan sang kakak dengan wanita bernama Maira kemarin memang untuk membahas pengusaha muda yang menduduki posisi kedua tersukses setelah kakaknya Ritz.


"Lihat saja nanti, aku masih belum tahu detail masalah antara Maira dengan pria itu." Jawab Ritz sebenarnya malas bila harus membahas soal kekasihnya atau lebih tepatnya mantan kekasih


Radit yang paham memilih tidak lagi banyak bertanya, ia hanya khawatir akan kondisi mental Ayana jika dalam pertemuan sang kakak bersama pria yang bernama Kenzo justru berakhir timbul pertengkaran.


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit, mereka sampai di lobi parkir perusahaan.


Ritz dan Radit langsung bergegas masuk ke dalam lift, setelah mobil yang mereka tumpangi di ambil alih oleh satpam.

__ADS_1


.


.


Tring


Pintu kereta besi itu terbuka lebar, dengan langkah kaki panjang kedua pria tampan itu berjalan masuk ke dalam ruangan.


Ritz meminta Amalia membacakan agenda hari ini, dalam waktu tersisa lima menit lagi akan di adakan meeting dadakan.


"Kumpulkan semua kepala divisi sebelum meeting di lakukan!" titahnya langsung di iyakan Radit.


Amalia kembali ke ruangannya setelah menyerahkan beberapa berkas penting yang baru dia kerjakan untuk Ritz periksa.


Jadwal pria itu sangat padat, kemungkinan Ritz akan lembur sampai larut malam.


🌹


Di kediaman Faraz, suasananya begitu sunyi.


Tampak beberapa pelayan mulai bersiap pergi ke halaman belakang untuk istrirahat usai mengerjakan semua pekerjaan mereka.


Di lantai atas, Ayana memilih duduk santai di balkon kamar miliknya. Sesekali terdengar helaan nafas panjang demi mengusir rasa bosan yang melanda, tidak ada kegiatan yang dia lakukan selain bermain ponsel.


Pesan masuk dari sang mama Syifana beberapa waktu lalu belum sempat Ayana balas, mungkin dia butuh ketenangan sementara waktu.


"Letta sibuk ngga ya?" gumamnya pelan sembari mencari kontak milik sang sahabat.


Terdengar suara nyaring Letta di seberang sana menandakan betapa rindunya gadis itu pada sahabatnya.


"Main ke rumah dong, Taa." Pinta Ayana sedikit memohon


[Otw, jangan lupa siapin cemilan juga ya].


"Beres, aku tunggu loh."


Tutt


Sambungan telefon yang tidak sampai lima menit itupun terputus.


Ayana bergegas keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk menyambut kedatangan Letta, ada banyak yang ingin dia ceritakan dengan sahabatnya itu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Mohon maaf buat para reader setiaku yang sangat aku sayangiπŸ€—

__ADS_1


Kemarin sempat hiatus lagi sebulan karena ada masalah sedikit, tapi tenang ajah. Insha Allah mulai hari ini aku bakal up rutin sampai akhir, semoga kalian masih betah ya dan jangan bosan.πŸ₯°


Sayang kalian semua🌹


__ADS_2