Daddy I Love You

Daddy I Love You
Keluar Kota


__ADS_3

...🌿🌿🌿🌿...


Pagi Tiba_


Sejak kemarahan Ayana pada Ritz tadi subuh, terlihat suasana di meja makan sedikit canggung dan tidak nyaman.


Ritz yang biasanya selalu duduk berdampingan dengan Ayana, malah sekarang pria tampan itu memilih duduk menjauh dari gadis manjanya.


Di maafkan bukan berarti Ritz di perbolehkan untuk dekat-dekat dengan gadis cantik itu, apa yang masih mengganjal di dalam hati Ayana memang sangat sulit di pahami Ritz.


Pikiran Ayana sedikit terganggu hanya kerena kabar mengenai kehamilan dari seorang wanita cantik, yang sampai detik ini masih berstatus kan kekasih dari Ritz atau lebih tepatnya calon pendamping, sebab keduanya sudah berencana untuk menuju ke jenjang yang lebih serius alias pernikahan.


Baik Eyang maupun yang lainnya turut di buat keheranan pasangan ayah dan anak tersebut, mereka tidak berani ikut campur apalagi sampai bertanya, jalur diam dan menunggu kabar masalah apa yang terjadi di antara keduanya merupakan jalan satu-satunya.


...****...


Sarapan pagi berjalan dengan penuh hikmat namun sesekali di selingi obrolan ringan.


Usai sarapan pagi, kini semuanya mulai melakukan aktifitas masing-masing seperti biasanya.


Eyang dan mama Ritz keluar sebentar menuju salah satu Restaurant yang kebetulan baru di buka dua hari lalu, sedangkan papa Ritz dan Radit beserta Amalia sudah bersiap menuju perusahaan.


Mereka keluar rumah bersamaan meninggalkan Ayana dan Ritz yang kebetulan juga hari ini keduanya berencana akan pergi keluar Kota.


Ritz mendapatkan undangan untuk menghadiri acara pesta peresmian cabang perusahaan milik salah satu sahabatnya.


Dapat di lihat raut wajah murung Ayana ketika sudah berada dalam mobil, beruntung hanya ada mereka berdua yang akan berangkat.


Ritz sengaja tidak menggunakan sopir untuk mengantar mereka keluar kota, lumayan sulit kalau sampai gadis manjanya itu mengamuk ketika dalam perjalanan nanti.


Perjalanan yang memakan waktu lumayan lama membuat pria tampan itu harus rela mati-matian menahan emosinya demi membujuk sang pujaan hati akibat ulahnya sendiri.


Gini nih kalau udah kambuh, bisa berjam-jam lamanya kalau ngga di bujuk. Ucap Ritz berbicara dalam hati


Ia memang salah karena sudah membuat suasana hati gadis itu tidak nyaman, tetapi mau bagaimana lagi semua akar masalahnya berawal dari keras kepala Ayana sendiri.


Andai saja Ayana tidak memaksa kan kehendaknya untuk menyuruh Ritz berkata jujur, kemungkinan perjalanan mereka hari ini menjadi momen yang paling menyenangkan.


"Sayang, udah ya marahnya" pinta Ritz memelas.


Matanya tetap fokus menghadap ke depan seraya menyetir dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Daddy ngga suka di diemin kayak gini Baby," ucapnya lirih merasa frustasi.


Berkali-kali membujuk agar gadis itu mau berbicara padanya, tetap saja tidak ada hasil apapun yang Ritz dapatkan.


"Ayolah sayang, jangan seperti ini." Pintanya lagi


"Bukankah Daddy sudah mengatakan semuanya tadi? Lalu apalagi yang harus Daddy lakukan agar kamu mau berbicara dengan Daddy, sayang?" lanjut Ritz masih berusaha mengajak gadisnya untuk bicara.


Ini sungguh di luar perkiraannya yang menganggap jika gadis itu tidak marah lagi.


"Lebih baik kamu hukum Daddy dengan apapun itu asal jangan diam seperti ini, rasanya sungguh tidak enak sayang." Keluh pria itu mulai kehilangan akal membujuk Ayana


Ritz bisa gila kalau terus di diamkan sepanjang perjalanan yang mungkin hampir 3 sampai 4 jam lamanya, bukan ini yang ia inginkan.


"Sayang," panggil Ritz kembali setelah mobil yang di bawanya berhenti tepat di jalanan lumayan sepi kendaraan berlalu lalang.


"Honey," ulangnya lagi masih setia menatap sendu wajah cantik alami dari gadis cantik itu.


Satu menit, dua menit, tiga menit.


Sampai 10 menit lamanya Ritz terus memanggil nama gadis kesayangannya, namun yang di panggil seolah tiba-tiba menjadi tuli.


.


.


Dengan santainya pria tampan itu membaringkan Ayana setelah berhasil menurunkan jok kursi samping kemudi.


CUP!


Satu kecupan sayang dan singkat mendarat di kening sang pujaan hati, yang masih dalam posisi tenang seakan perbuatan Ritz barusan sudah biasa sering terjadi.


Tampak jelas raut wajah frustasi pria itu saat menatap penuh sesal ke arah Ayana, sungguh bukan ini yang di inginkannya.


Apa yang di lakukan Ritz tanpa di sadari justru membuat detak jantung Ayana tidak stabil.


Gadis mana yang tidak akan merasa berdebar bila bertatapan langsung dengan pria pujaannya, terlebih posisinya sekarang berada di bawah kungkungan pria tampan tersebut.


Duh jantung gue benar ngga bisa di ajak kerja sama, lagian juga siapa suruh gue nekat maksa Daddy jawab jujur sih, kalau kayak gini makin runyam kan jadinya. Cicit Ayana berbicara dalam hati


Dapat gadis itu rasakan deru nafas hangat Ritz menyapu wajah cantiknya yang memang lumayan dekat, jarak keduanya hanya sejengkal saja.

__ADS_1


Bisa di pastikan sudah semerah apa kedua pipi chubby Ayana sekarang.


"Daddy awas!" pinta Ayana mulai merasakan tidak nyaman berada dalam posisi tersebut.


DEG!


Jantung gadis itu berdetak lumayan cepat ketika merasakan hembusan nafas panjang di area ceruk lehernya, apa yang di lakukan pria tampan tersebut?


Hawa panas mulai di rasakan Ayana kala salah satu tangan Daddy nya berada tepat di area perut dan mengelusnya pelan.


"Sayang," bisik Ritz tanpa menghentikan aktifitasnya menghirup lalu mencium bagian bawah telinga gadis manjanya.


Yang di panggil hanya menjawab dengan deheman pelan tanpa berani buka suara.


"Ayana," panggilnya lagi masih dalam posisi yang sama.


"Hmmm." Sahut Ayana dengan deheman pelan


"Masih marah?" tanya Ritz yang hanya di balas gelengan kepala dari gadis itu.


Pria tampan tersebut langsung tersenyum manis.


"Benar ngga marah lagi?" lanjutnya kembali bertanya namun kali ini akhirnya Ayana mau buka suara.


"Kapan kita sampai kalau Daddy masih asik nemplok di situ?" jawab Ayana dengan nada sedikit kesal.


Gadis cantik yang sengaja mengikat tinggi rambut panjangnya itu tahu betul apa yang barusan di lakukan pria kesayangannya.


Sudah pasti ada tanda merah keunguan tercetak jelas di area telinganya sekarang, ingin marah tetapi percuma saja, sebab hati gadis itu terlalu lembut untuk sekedar melakukan kembali hal yang sama.


"Udah Daddy, jangan di gigit" pekik Ayana merasakan ngilu di telinganya.


CUP!


"Maaf sayang, terlalu indah untuk di biarkan tetap mulus tanpa ada maha karya di sana." Kekeh Ritz tanpa dosa


Ia kembali memperbaiki posisi duduk Ayana seperti semula.


Masih sangat jauh perjalanan yang akan mereka tempuh untuk sampai di tempat tujuan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Lumayan dah hampir seminggu ngilang😩


__ADS_2