
...💕💕💕💕...
Beberapa saat kemudian, akhirnya Ayana berhenti menangis meski masih ada sisa kebasahan di wajah cantiknya.
Ritz sangat tahu bagaimana caranya untuk menenangkan gadis itu, tentu saja ia hanya cukup memberikan sebuah pelukan hangat dan kecupan kecupan manis yang mampu meredakan tangis putri angkat kesayangannya tersebut.
...🌿...
Seolah masih belum percaya dengan apa yang barusan di lakukan Ritz, membuat pikiran Ayana kembali lagi pada posisi awalnya.
Ayana menatap wajah tampan pria itu dengan lekat, otaknya masih belum bisa mencerna kejadian beberapa waktu lalu.
Ini benar-benar gila. Pikirnya melayang jauh
Sadar akan tatapan Ayana sedikit mengganggu perasaan Ritz, mungkin yang ia lakukan terlalu mendadak.
Alhasil ini lah yang ia dapatkan, masih dalam proses berusaha memberi pengertian pada Ayana.
"Jangan menatap Daddy seperti itu," protes Ritz tidak suka dengan tatapan aneh dari gadis kecilnya.
Alis Ayana mengkerut seraya tersenyum sinis, namun hati dan pikirannya dalam keadaan berantakan.
"Urusan kita belum selesai, Ayana masih bingung dengan pola pikir Daddy sekarang." Ujarnya masih dengan tatapan horor di tujukan pada Ritz
"Hanya menjawab saja apa susahnya, sih?" Kata Ritz sedikit kesal.
"Jawaban apa yang Daddy harapkan?" bukannya menjawab, gadis cantik itu malah balik bertanya.
"Ayana rasa otak Daddy mungkin sedikit geser, apa perlu kita temui papi Devan saja? Siapa tahu papi Devan dapat membantu Daddy pulih kembali." Lanjut Ayana berbicara tanpa peduli sudah semasam apa wajah tampan Ritz sekarang
"Kamu," geram Ritz.
"Apa?" tantang Ayana tidak takut.
Sumpah demi apa, wahai jantung bekerja sama lah dengan ku yang malang ini. Jeritnya di dalam hati
Ayana benar-benar di buat spot jantung oleh pria kesayangannya itu, seharusnya malam ini akan menjadi momen paling berkesan dalan hidupnya.
Di usianya yang menginjak 18 tahun, merupakan kebahagiaan terbesarnya. Sebab masih bisa di biarkan tinggal di samping pria itu, terlebih semua anggota keluarga sangat menyayanginya dengan sepenuh hati terutama Eyang.
Ayana sadar betul dengan keadaan yang sekarang masih berlanjut, hanya saja dirinya terlalu takut untuk menganggapnya serius.
__ADS_1
Mungkin saja Daddy hanya mengerjai ku. Pikir Ayana
...****...
Terdengar helaan napas panjang keluar dari mulut Ritz, membuat jantung Ayana kembali di uji.
"Ayana, sayang nya Daddy" seru Ritz pelan.
"Iya, Daddy mau ngomong apa lagi?" sahut Ayana dengan santainya, namun tidak sehat untuk jantungnya yang kembali berpacu kuat.
Ritz tampak diam sejenak, di ungkapkan takut malah jadi bahan ejekan, tidak di utarakan hatinya sedikit sesak.
"Daddy tidak berbohong soal tadi," ucap Ritz dengan nada yang serius.
"Soal yang mana? Aaa, maksud Daddy yang lamaran itu?" tanya Ayana berusaha tenang.
Ritz mengangguk iya, "dan Daddy harap jawaban mu tidak menyakiti hati Daddy." Ujar Ritz lirih
Gadis cantik dengan mata kembali berair itu masih belum bisa mencerna semuanya, baginya ini terlalu dadakan.
"Apa Daddy serius?" tanya Ayana memastikan.
"Menurut mu?"
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik.
"Kemarilah! Ayana mau peluk Daddy," pinta gadis itu pada Ritz.
Dengan ragu Ritz mendekat ke arah gadis manjanya tersebut.
.
.
.
GREBB!
__ADS_1
Ia kaget mendapat pelukan cukup erat dari Ayana, kemungkinan besar gadis itu masih sedikit syok.
CUP!
Kecupan singkat mendarat sempurna di kening Ritz.
"Terima kasih," ucap Ayana lembut seraya mengelus sayang kepala pria itu.
"Kejutannya sangat indah dan romantis, Ayana menyukainya." Tutur Ayana berkata jujur
Hati Ritz berdesir, mendengar kalimat yang di ucapkan gadis manjanya.
"Entah harus senang atau sedih, yang jelas Ayana hanya ingin terus bersama Daddy. Mungkin sekarang perasaan Ayana masih abu-abu, satu hal yang pasti di dalam hati Ayana hanya ada nama Daddy terukir indah di sana." Ungakapan perasaan Ayana
Gadis cantik itu berusaha menahan air mata yang siap menetes, katakan saja dia sudah sama hilang akalnya dengan pria yang saat ini berada dalam dekapannya.
"Terdengar sangat gila bukan?" kekeh Ayana merasa lucu sendiri.
"Gadis kecil yang dulu telah Daddy tolong dan di angkat menjadi putri, justru menyimpan sebuah rasa yang tidak seharusnya ada."
"Asal Daddy tahu, selama kita hidup bersama semakin hari perasaan Ayana terus bertambah tanpa tahu kemana arah dan tujuannya."
"Gadis ini telah kalah Daddy, perasaan cinta sudah membuatnya kalah, hiks."
Sesak, itulah yang di rasakan Ritz kala menyadari betapa dalamnya rasa cinta yang di miliki putri angkatnya tersebut.
Namun, sebelum itu Ritz tidak ingin ada air mata lagi yang keluar dari mata indah gadis nya.
"Berhentilah menangis! Nanti jadi jelek," bujuknya setelah pelukan mereka terlepas.
Di tatapnya lekat lekat wajah cantik alami gadis itu, sekarang ia sadar untuk siapa cinta dan kasih sayang yang di milikinya.
"Jadi gimana? Lamarannya di terima ngga nih?" goda Ritz sudah tertawa.
"Ish, tahu aa. Daddy ngga ada romantis romantisnya sama sekali."
"Lah, bukannya tadi yang bikin semuanya berantakan itu kamu sendiri? Kenapa malah Daddy yang di salahin?" heran Ritz tak habis pikir.
"Bagaimana? Di terima atau ngga?" tanya ulang Ritz sebenarnya sangat malu berada di situasi konyol seperti ini.
Pertama kali dalam hidup pria itu, nekat melakukan sesuatu di luar nalar.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃