Daddy I Love You

Daddy I Love You
DILY Bab 8 ~ Mencoba Mengalah


__ADS_3

Hampir tiga jam lamanya? Ritz dibuat pusing dengan perdebatan antara putrinya dan juga kekasihnya, tidak ada yang mau mengalah jika keduanya sudah bertemu.


Beruntung keduanya bisa di rayu meski harus rela sekujur tubuhnya menjadi sasaran kekesalan Ayana dan sang kekasih Maira.


"Awas kamu Radit, bersiaplah pergi ke AFRIKA dalam waktu dekat ini."


Pria itu benar-benar di buat emosi oleh saudara sepupunya, rasa sakit di sekujur tubuhnya sangat menyiksa.


"Badan mereka pada langsing semua kok punya tenaga besar begitu ya."


Ritz kaget merasakan betapa kuatnya kedua bidadari cantiknya saat berebutan agar bisa menempel padanya beberapa waktu lalu.


Tidak apa jika itu adalah Maira, sang kekasih. Tetapi ini putrinya sendiri, sejak kapan Ayana belajar ilmu bela diri? _Pikir Ritz_


"Sudahlah, memikirkan kedua anak itu membuat otak ku penuh. Lebih baik pergi mencari Radit dan buat perhitungan dengan anak sialan itu."


Ritz berjalan keluar ruangannya mencari keberadaan Radit, sejak jam 05 sore tadi ia sengaja meminta Ayana agar pulang ke rumah lebih dulu. Begitu juga dengan Maira kekasihnya, ia sudah berjanji akan keluar makan malam dengan wanita tersebut.


Mengenai perihal minta izin pada Ayana? Mungkin Ritz harus menyiapkan banyak rayuan agar putrinya mengizinkan.


🍀


Jika Ritz dibuat pusing dengan Asistennya yang sengaja membuat keributan, beda lagi dengan Maira yang saat ini tengah duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.


"Kamu sudah bicarakan semuanya dengan Ritz?" tanya sang Papa memastikan


Maira menggeleng tanda belum, raut wajah yang bila bertemu dengan Ayana akan berubah menjadi garang. Kini di hadapan orang tuanya bagai anak yang takut di hukum.


"Percuma kami membesarkanmu jika hal kecil begitu saja tidak bisa kamu lakukan." Dengus Hendra menatap tajam kearah putri semata wayangnya tersebut


"Jangan gitu Pah, kasihan Maira. Biar bagaimana pun dia adalah anak kita satu-satunya, Papa menuntutnya agar berlaku lebih pada Ritz hanya akan memperkeruh keadaan."


Wanita tua yang masih begitu cantik justru membela putrinya, sikap sang suami yang serakah kadang kala membuat otak dan hatinya lelah.


"Jangan ikut campur Mah, hanya membicarakan soal aset pribadi milik Ritz apa susahnya. Bukankah putri kita adalah kekasihnya saat ini? Untuk apa coba pria itu menutup rapat kekayaannya." Hendra benar-benar telah dibutakan oleh obsesinya sendiri


Terlalu serakah kadang kala bisa membuat orang jadi gelap mata, hal itulah yang terjadi pada Hendra. Alih-alih mengutamakan perasaan putrinya, ia malah lebih peduli dan tergiur dengan semua harta kekayaan dari kekasih putrinya.


Maira yang sejak tadi hanya diam saja mulai kehabisan sabar.


"Apa artinya aku di hatimu, Pah? Apa aku tidak lebih berarti di bandingkan kekayaan yang di miliki kekasihku?"


"Aku putrimu, anakmu, darah dagingmu sendiri. Bahkan papa rela membiarkanku seperti wanita murahan yang mengemis kekayaan pada orang lain."


Maira sungguh sakit hati setiap kali bertemu orang tuanya, sang Papa bukan menanyakan kabarnya melainkan hal lain yang jelas sampai kapan pun wanita itu takan mau melakukannya.


"Apa salahku pah?"


"Jawab!" Teriak Maira mulai lelah.


Plak


"DIAM!" Hardik Hendra menggema

__ADS_1


"Ya Tuhan. Papa," teriak Alma, begitu syok melihat suaminya berlaku kasar pada Maira.


Hendra benar-benar nekat menampar putrinya sendiri hanya karena sebuah obsesi akan harta dunia, hatinya telah di butakan oleh keserakahan.


"Papa kenapa tampar Maira?"


Alma dengan cepat menghampiri putrinya yang terduduk lemas di lantai, pipi kanan yang merah bahkan ujung bibir wanita itu ikut berdarah.


"Sakit, Mah." Adu Maira menangis dipelukan Mamanya


"Maafkan Mama, sayang. Maaf," Alma benar-benar murka melihat suaminya sampai berani berlaku kasar hanya karena obsesi.


Matanya menatap nyalang kearah Hendra, di raihnya sebuah Vas bunga yang terletak di atas meja. Pikiran Alma benar-benar di penuhi aura negatif.


Prang


"Aarghh. Alma apa yag kamu lakukan?" Teriak Hendra meringis kesakitan


"Itu adalah balasan atas apa yang kamu perbuat pada putriku, jangan kamu kira aku akan duduk diam saat anak ku di sakiti. Kamu salah Hendra, apa kamu lupa jika dulu aku bukanlah wanita baik-baik? Kamu lupa siapa aku dulu?" sahut Alma balik meneriaki suaminya, bahkan tidak segan-segan wanita itu balik mengasari suaminya sendiri.


Hendra tidak menyangka istrinya akan berlaku nekat, apa wanita itu sudah gila.


"Ikut Mama sekarang juga!" titah Alma pada putrinya yang di bantu bangkit dari atas lantai yang dingin.


"Kita mau kemana, Mah?" tanya Maira bingung, sejak tadi dia hanya bisa diam tanpa protes.


"Jangan banyak tanya, cepat bereskan barang-barang mu! Kita akan pergi ke suatu tempat."


Habis sudah kesabaran Alma yang hampir 30 tahun membina rumah tangga dengan pria yang otaknya hanya dipenuhi harta dunia.


Di dalam rumah masih terjadi perdebatan sengit antara pasangan suami istri tersebut.


"Jangan gila Alma, kemana kamu akan membawanya pergi?"


"Bukan urusanmu, lebih baik kamu renungkan kesalahan mu! sebelum semuanya kamu sadari, jangan harap aku dan Maira akan pulang."


Alma benar-benar akan pergi dari rumah meninggalkan suaminya, entah kemana mereka akan pergi. Yang jelas untuk saat ini biarlah suaminya merenungi perbuatan kasarnya pada putrinya sendiri.


🍀


#Kediaman Alfaritz


Sepulang dari kantor jam 06 tadi, Ritz langsung menemui putrinya di dalam kamar.


Gadis cantik yang sangat sulit dirayu itu masih saja merenggut kesal di tengah kasur. Berkali-kali Ritz meminta maaf, tetapi tidak juga membuahkan hasil.


"Sayang, lihat Daddy!" pinta Ritz menghadapkan wajah sedih putrinya agar mau menatapnya.


"Hanya sebentar sayang, Daddy janji akan cepat pulang. OK?" Rayu Ritz lagi, berusaha menenangkan putrinya.


Katakanlah Ayana egois dan tidak ingin berbagi apalagi itu Daddy nya sendiri, tetapi untuk saat ini biarlah dia mengalah.


"Ok, Daddy boleh pergi. Tapi pas pulang bawain Ayana kue ya." Sahut gadis itu akhirnya mengizinkan

__ADS_1


"Siap sayang," kekeh Ritz mencium seluruh wajah putrinya penuh sayang.


"Yang ini boleh ngga, Daddy cium?" godanya menyentuh bibir ranum Ayana yang kemerahan.


"Ngga boleh!" tolak Ayana mentah-mentah membuat Ritz tertawa geli.


"Ayolah sayang, kan cuma cium doang." Rayunya sambil menaik turunkan kedua alisnya bergantian


"Ish, Daddy jangan aneh-aneh deh. Ingat Daddy sudah punya kekasih, ngga boleh main cium Ayana sembarangan, PAHAM?" Tekan Ayana seakan mengingatkan siapa dirinya dan di mana posisinya


Ritz yang peka dengan ucapan putrinya memilih untuk diam tidak mau berdebat, inilah yang kadang membuatnya sangat sulit menahan diri untuk tidak mengganggu putrinya. Sikap tegas Ayana membuatnya sebagai seorang pria kadang dipenuhi rasa bersalah.


"Jangan nakal ya kalau Daddy ngga ada?" Pesan Ritz mengusap lembut pucuk kepala putri angkatnya tersebut


"Siap Daddy."


Ayana membuang jauh egonya, menjadi penghalang tentu tidak lah baik. Siapa lah dia di bandingkan dengan tunangan Daddy nya.


🍀


#Restaurant


Kini Ritz sudah berada di salah satu Restaurant favorit kekasihnya, sudah ada sekitar sepuluh menit ia berada disana tetapi sang kekasih belum juga datang.


Baru saja pria tampan itu hendak bangkit dari duduknya, dari arah samping muncul sang kekasih dengan langkah yang tergesa.


"Hay sayang, maaf ya aku telat." Ucap Maira merasa bersalah


Dia mencium kedua pipi kekasihnya sebelum ikut duduk.


"Lama ya? Aku benar-benar minta maaf, tadi ada urusan sedikit jadi datangnya ngga tepat waktu." Maira sangat menyesal sudah membuat pria tampan itu menunggunya


"Ngga apa-apa sayang, lagi pula ngga nyampe satu jam juga kan, telatnya? Bisa-bisa lumutan aku, Ra." Kekeh Ritz mencubit gemas pipi kekasihnya yang memerah karena malu


"Mau makan apa? Biar aku pesan dulu." Lanjutnya bertanya


"Apa ajah deh, aku juga udah laper banget tadi siang ngga sempat makan banyak." Jawab Maira terkekeh


"Ok, tunggu bentar ya." Ritz berjalan menuju tempat memesan makanan


Sepeninggal sang kekasih, tinggalah Maira dengan raut wajah yang berubah jadi sendu.


"Maafkan aku, Ritz. Maaf jika selama ini telah banyak menyusahkan mu," gumam Maira begitu lirih.


Wanita cantik itu cepat-cepat menghapus air matanya saat melihat Ritz sudah kembali, beruntung tamparan keras papanya tidak meninggalkan bekas. Sehingga Maira tidak harus mencari alasan baru lagi untuk menjawab pertanyaan kekasihnya.


Tidak lama pesanan mereka sudah datang, dengan tidak sabarnya Maira mulai menikmati satu persatu hidangan yang tadi di pesan oleh Ritz.


"Pelan-pelan makannya sayang, ngga ada yang berebutan dengan mu." Tegurnya pada sang kekasih


"Hehe, habisnya enak banget sayang makanannya. Udah lama kita ngga kesini, aku jadi rindu sama makanan favorit kita." Jawab Maira tersenyum manis


Ritz menggeleng pelan, tingkah lucu Maira tidak kalah jauh berbeda dengan putrinya yang manja. Begitu sulit dipertemukan, tetapi jika berjauhan kadang kala salah satu dari mereka akan saling mencari.

__ADS_1


Lucu bukan?


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2