
...πΏπΏπΏπΏ...
Setelah pesta selesai, Eyang membawa seluruh anggota keluarganya ke rumah sang sahabat.
Wanita baya itu menolak keras keinginan sang cucu kesayangan yang meminta untuk menginap di hotel.
Bukannya tidak mau apalagi mengingat hari sudah semakin pagi.
Sebagai kepala keluarga, Eyang tentu memiliki kekuasaan penuh atas izin dan larangan dalam hal apapun itu.
Termasuk menginap di hotel.
Bisa bahaya kalau sampai wanita baya itu mengiyakan keinginan Ritz, masih belum waktunya pria tampan namun terkesan sedikit nakal itu untuk berduaan dengan Ayana.
Terbukti sekarang ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, Eyang terus mengomeli cucu kesayangannya itu.
"Eyang akan mencoret nama mu dari daftar ahli waris kalau sampai membuat Ayana kenapa-napa," ancamnya pada pria tampan yang saat ini tengah asik memainkan jemari lentik sang pujaan hati.
Betapa gilanya ide Ritz sebelum mereka meninggalkan hotel tadi, dengan santainya pria itu mengajak Ayana menginap di sana.
Beruntung Radit cepat bergererak segera melaporkan kegilaan sang kakak, terlambat sedikit saja mungkin keesokan harinya akan ada berita gosip yang tersebar.
"Eyang tidak habis pikir dengan otak gila mu itu, Ritz." Kesal wanita baya itu
Sesekali matanya menatap tajam ke arah sang cucu.
"Kan, hanya menginap saja dan tidur Eyang, apa salahnya coba, benar kan Baby?" sahut Ritz tanpa dosa seraya melirik nakal ke arah Ayana.
__ADS_1
PLAKK!
"Aaww, sakit Eyang" keluh Ritz meringis kesakitan mendapat tamparan lumayan keras di pipi kirinya.
"Itu belum seberapa, masih ada lagi hukuman yang akan kamu terima setelah sampai rumah." Kata Eyang tersenyum menyeringai
Si cantik yang sejak awal hanya diam pun sampai bergidik ngeri kala tanpa sengaja melihat senyum penuh arti sang Nyonya besar.
Hiiii, jadi ngeri lihat senyum Eyang kayak gitu. Semoga Daddy bisa selamat. Bathinnya berdoa
...****...
Perjalanan pulang ke rumah memakan waktu hampir satu jam lamanya, beberapa kali Ayana meminta untuk singgah sebentar di beberapa kedai jajanan pinggir jalan.
Tidak ada yang melarang sebab makanan yang di beli gadis itu merupakan jajanan favorit hampir seluruh anggota keluarga terutama Ritz sendiri.
"Angkat ajah Ritz! Jangan di bangunin kasihan nanti anaknya nangis lagi kayak tempo hari," ucap mama Ritz setelah turun dari mobil.
Si cantik yang ketiduran selepas makan, seakan tidak mau melepas pelukannya di tubuh Ritz.
Terlalu nyaman untuk di lepas.
"Hati-hati Ritz," tegur Eyang ikut membantu sang cucu keluar dari dalam mobil.
Nafas Pria tampan itu sedikit tersengal setelah berhasil keluar.
"Gila, perasaan baru sebulan berpisah Kenapa makin berat ajah nih anak?" heran Ritz merasakan tubuh mengil gadis manjanya sedikit berat.
__ADS_1
"Ritz," tegur sang mama.
"Maaf Mah," kekeh pria tampan tersebut kemudian berjalan masuk ke dalam rumah di ikuti yang lainnya.
Sesampainya di dalam rumah, semua orang langsung menuju kamar masing-masing begitu juga dengan Ritz.
Pria tampan itu bukannya membawa Ayana ke kamar milik gadis itu, melainkan di kamarnya sendiri.
Di letakkannya dengan hati-hati putri tidur kesayangannya tersebut ke atas ranjang, berharap gadis cantiknya tidak terbangun.
"Fiuhhh, akhirnya selamat juga." Kekeh Ritz merasa lega
Ia sedikit kaget merasakan berat badan gadis manjanya sedikit berisi, terlebih pipi mulus yang selalu di ciumnya pun terlihat bulat alias cubby.
CUP!
Ritz mencium sayang kening gadis manjanya sebelum beranjak dari tempat tidur, ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dulu.
15 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi lengkap dengan kaos biasa dan celana pendek.
Perlahan Ritz naik ke atas ranjang tanpa membiarkan Ayana terganggu, ia baringkan tubuh kekarnya di samping gadis itu dan memeluknya dari belakang.
"Jangan bangun dulu ya cantik," bisik Ritz pelan seraya mencari kenyaman dengan memeluk gadis manjanya.
Di ciumnya punggung gadis itu sebelum ikut terlelap menuju alam mimpi.
πππππ
__ADS_1