
🌻🌻🌻🌻🌻
Radit meringis takut mendapati sorot mata tajam penuh intimadasi seoalah ingin menelannya hidup-hidup.
Marah sih marah, tapi ngga harus natap kayak singa lapar kayak gitu napa sih. Bathinnya menjerit
Bukan maksud hatinya ikut campur dalam keputusan yang nekat di ambil oleh pria tampan mirip dengannya itu, melainkan Radit hanya tidak ingin keselamatan Ayana kembali berada dalam bahaya.
🌺
Satu jam kemudian, Ritz kembali bersama Radit untuk menjemput Ayana.
Dari arah jauh terlihat Syifana memeluk sayang gadis cantik itu seakan belum rela melepaskan, rasa rindunya hanya terobati sedikit. Tetapi apa boleh buat, waktu yang dia miliki tidak lah banyak.
Syifana melepas pelukannya walau berat hati, sekuat tenaga menahan cairan bening yang siap keluar.
"Bibi harap kita masih bisa kembali bertemu," ucapnya pelan seraya mengusap lembut kedua pipi sang putri tercinta.
"Pasti Bibi cantik," sahut Ayana tersenyum sangat manis.
Keduanya kembali berpelukan setelah Asisten pribadi Syifana membisikkan sesuatu yang entah apa.
Ayana melambaikan tangannya ke arah wanita cantik itu dengan mata sudah berkaca-kaca, betapa sulitnya bagi mereka sekedar bertemu.
Melihat Ritz yang berjalan santai dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya, membuat Ayana tidak tahan lagi segera berhambur ke dalam pelukannya sembari terisak.
"Mami udah pergi, Dad" adunya pada Ritz yang tertawa geli mendapati wajah cantik penuh air mata.
"Idih, cantiknya hilang." Kekeh Radit dengan jahilnya mengacak rambut panjang terurai Ayana saking gemasnya.
__ADS_1
"Daddy ..." rengek gadis cantik kesayangan Ritz tersebut dengan tangisan semakin pecah membuat beberapa pengawal pribadi kepercayaan keluarga Mahendra sampai menutup rapat kedua telinga mereka.
Hal biasa sering terjadi bila keduanya di pertemukan, Radit yang hobinya tukang jahil sedangkan Ayana suka menangis.
Nasib merawat anak gadis yang terbiasa manja sedari berusia 10 tahun hingga sekarang membuat Ritz sering merasakan sakit kepala.
"Sudah cukup!" teriak pria tampan itu dengan aura dingin yang mencekam.
Ayana bahkan dapat merasakan betapa murkanya Ritz yang masih memeluknya lumayan erat.
Bisa mati sesak napas aku. Jeritnya dalam hati
Sebelum terjadi perdebatan sengit antara Radit dengan pria tampan itu, lebih baik mereka segera pulang ke rumah.
"Daddy, pulang yuk" Ajak Ayana sembari menarik pelan lengan Ritz menuju arah lift.
"Paman Radit ngapain diam di situ?" tanyanya melihat Radit masih berdiri kaku enggan melangkahkan kedua kakinya.
"Ngga ada apa-apa, sayang." Jawab Ritz yang mengerti akan tatapan mata tajam dari gadis kesayangannya itu
Ayana tidak bertanya lebih, memilih masuk ke dalam lift dengan Ritz yang mengekor di belakangnya.
.
.
.
Tring
__ADS_1
Tiba di parkiran, Ritz langsung membukakan pintu mobilnya untuk Ayana.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu ke suatu tempat?" tanya Ritz sudah duduk di kursi kemudi.
Ayana tampak berpikir sejenak, raut wajahnya begitu menggemaskan.
CUP
Kecupan singkat mendarat sempurna di pipi gadis cantik itu yang terkejut lucu.
"Kelamaan mikir," kekeh Ritz yang sedetik kemudian ikut menjerit.
"Aww, sakit Baby." Ringisnya sembari mengusap pelan bagian lengan yang terkena gigitan Ayana
Pria tampan itu tidak bisa marah, ia segera menyalakan mesin mobil dengan perasaan sulit di artikan.
Diamnya Ayana membuat hati dan pikiran Ritz sedikit kacau, bukankah ia sudah mempertemukan ibu dan anak itu? Lalu apalagi masalahnya sekarang? Heran Ritz
🌺
Di lain tempat atau lebih tepatnya sebuah Apartement tersembunyi milik Syifana, terdengar suara keributan yang berasal dari bawah.
Beruntung wanita itu belum sampai, mengingat dalam perjalanan pulang mendadak perasaannya tidak nyaman seperti ada sesuatu akan terjadi.
.
.
.
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita pergi dari sini, Nonya?"
🍃🍃🍃🍃🍃