Daddy I Love You

Daddy I Love You
Bertemu Bibi Cantik


__ADS_3

...💕💕💕💕...


FLASBACK


Besok merupakan hari terakhir Ayana berada di negara tempat di mana dia melakukan pengobatan lebih lanjut demi kesembuhan mental dan kondisi fisiknya, kurang lebih hampir dua bulan gadis cantik itu menetap bersama Eyang dan beberapa anggota keluarga lainnya.


Di ruang makan sudah ada Eyang dan lainnya duduk tenang di tempat masing-masing, mereka sedikit mengobrol sambil menunggu Ritz dan Ayana turun dari lantai paling atas.


Ada beberapa hal yang tengah mereka perbincangkan sebelum pasangan ayah dan anak angkat tersebut datang.


.


.


"Mami yakin ngijinin Ayana ketemuan dengan wanita itu?" tanya sang menantu memulai percakapan.


"Biarkan saja, lagi pula mereka hanya di pertemukan saja tanpa harus saling mengetahui satu sama lain." Jawab Nyonya Besar dengan nada terkesan santai


"Nyonya Syifana merupakan sosok ibu yang lemah lembut dan baik hati, sebelum bertindak wanita itu tentu tahu di mana batasan yang harus dia ingat." Tambahnya lagi memberi gambaran sedikit tentang sosok wanita cantik yang merupakan ibu kandung dari gadis cantik kesayangan mereka itu


"Tapi Mih, kabarnya pria yang merupakan suami dari Nyonya Syifana tengah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaannya." Sang putra ikut menimpali


"Kamu yakin akan informasi tersebut?" tanya sang mama memastikan.


"Yakin ngga yakin semuanya berada dalam kendali Ritz sekarang, sedikit yang aku ketahui dari orang kepercayaan Devan mengatakan jika bukan hanya mengenai Nyonya Syifana saja yang menjadi pusat pencarian pria itu, kabar yang beredar entah kapan perihal keberadaan anak satu-satunya yang di lahirkan wanita itu juga ikut menjadi fokusnya beberapa bulan terakhir." Jawab sang putra menjelaskan


Dua wanita cantik beda usia tersebut nampak diam sejenak demi mencerna apa yang barusan di katakan pria tampan begitu mirip dengan Ritz.


"Mami ngga yakin kalau masalah yang akan kita hadapi di masa depan nanti akan seperti apa," ucap wanita baya itu perlahan menghela nafas panjang.


"Hanya waktu yang bisa menentukan nasib mereka akankah bisa bersama sampai akhir atau justru harus rela di pisahkan." Tambahnya


Baik sang putra maupun menantu yang sangat wanita baya itu sayangi hanya bisa diam tanpa berani buka suara.


Tidak berselang lama dari arah lift muncul Ayana dan Ritz berjalan pelan munuju ruang makan di mana semua orang sudah menunggu kedatangan mereka.


Apa yang tengah di bicarakan ketiga orang itu sama sekali tidak di ketahui yang lainnya meski bukan cuma mereka saja yang berada di ruang makan, sebab sang Nyonya Besar sengaja berbicara menggunakan bahasa asing yang hanya bisa di mengerti oleh pasangan suami istri tersebut.


Sarapan pagi berlangsung dengan tenang dan sesekali di barengi obrolan ringan, baik Ritz dan Ayana ikut sarapan tanpa ada yang saling buka suara.

__ADS_1


Entah apa yang membuat keduanya saling diam meski yang lainnya sengaja memancing percakapan agar ayah dan anak itu mau berbicara.


.


.


Selesai sarapan, Ritz pamit ke kantor bersama Radit dan sang papa, begitu juga Nyonya Besar dan sang menantu kesayangan yang ikut pamit menuju Restaurant.


Hanya tersisa si cantik kesayangan di temani Devan dan kedua orang tua Radit berada di Apartement.


"Papi Devan jadi kan, temani Ayana bertemu Bibi Cantik?" tanya Ayana setelah mereka sudah duduk di ruang tengah.


Pria tampan yang sering di panggil papi oleh gadis kecil kesayangan sang sahabat itu menoleh ke arah samping di mana Ayana duduk.


"Sudah minta ijin sama pawangnya?" cebik Devan begitu malas bila harus mengikuti kemauan Ayana.


"Wah parah. Ngga percayaan amat sih papi Devan, di kasih ijin atau ngga Ayana tetap pergi menemui Bibi Cantik." Balas Ayana sedikit ketus


"Terserah kamu, asal jangan sampai papi kena amukan pria mu itu. Kalau sampai tuh orang marah, jangan harap papi mau bantuin kamu lagi."


"Iya, iya papi Devan tenang saja."


...****...


#Restaurant


Sejak dua puluh menit yang lalu, Syifana tiba lebih dulu di Restaurant tempat di mana dia bertemu dengan sang putri.


Alfi yang ikut menemani begitu setia berdiri tegap di samping sang majikan, matanya fokus melihat kesana kemari guna memastikan tidak ada orang suruhan pria misterius yang katanya adalah suami dari wanita itu.


"Tenanglah Alfi! Tempat ini aman dari jangkauan orang-orang itu, jangan kamu lupa siapa aku dan apa tujuan kita datang kesini." Ucap Syifana paham akan kekhawatiran sang asisten


"Paling tidak saya harus waspada Nyonya," sahut Alfi bernada serius.


Beberapa menit kemudian, dari arah pintu masuk terlihat sosok cantik bersama seorang pria tampan yang saling bergandengan tangan memasuki Restaurant.


Senyum Syifana langsung menghiasi wajah cantiknya kala menyadari siapa yang baru saja tiba.


"Selamat siang Bibi Cantik," sapa Ayana ramah sembari memberikan pelukan hangat dan ciuman di kedua pipi Syifana.

__ADS_1


"Selamat siang, gadis Cantik." Balas Syifana menyapa ikut melakukan hal yang sama


"Silahkan duduk," tambahnya meminta Ayana dan Devan ikut duduk.


Pelayan datang memberikan buku menu, Syifana membiarkan sang putri memilih apapun yang ingin gadis itu makan, berbeda dengan Devan yang hanya memesan segelas minuman.


Alfi yang tidak ingin mengganggu kebersamaan ketiga orang itu, memilih pergi ke sisi yang lain tetapi masih berada di dekat mereka dengan terus mengawasi daerah sekitar.


Aku harap orang suruhan pria itu tidak menemukan tempat ini. Bathin Alfi terus menelisik


...****...


Usai makan siang, Syifana meminta ijin pada Devan untuk berbicara berdua saja dengan sang putri.


Ada beberapa hal penting yang ingin wanita itu sampaikan, Devan menyetujuinya dengan syarat pembicaraan mereka cukup di Restaurant tersebut bukan di tempat lain.


.


.


"Bibi cantik kenapa?" heran Ayana, ketika melihat Syifana terus menatap intens ke arahnya.


"Tidak sayang, Bibi hanya rindu pada putri Bibi yang cantik seperti kamu." Jawab Syifana lirih


Bisakah wanita itu berkata jujur? Namun belum waktunya untuk mereka saling kenal.


.


.


"Pasti cantiknya kayak Bibi ya?" tebak Ayana tersenyum sangat manis.


"Iya sayang, usianya juga sama dengan mu." Balas Syifana hangat


"Boleh Bibi peluk Ayana?" tambahnya meminta ijin.


Mendapat ijin dari gadis cantik itu, tangan Syifana terulur cepat meraih tubuh mungil sang putri.


Sudah bertahun-tahun lamanya dia merindukan dapat memeluk erat sang buah hati yang kini menjadi putri kesayangan dari keluarga pengusaha kaya raya ternama.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2