
🌻🌻🌻🌻🌻
Radit tidak menyangka akan menjadi saksi mata atas pertemuan Syifana dan Ayana.
"Kakak serius?" tanya pria tampan itu masih belum percaya sang kakak mengabulkan permintaan Nyonya Mahestra kemarin.
"Apa gadis kecil sudah tahu siapa wanita itu?" rasa penasaran Radit mulai timbul membayangkan bagaimana reaksi Ayana ketika mengetahui ibu kandungnya.
"Hmm," jawab Ritz bergumam terlalu fokus memperhatikan gerak gerik si cantik kesayangannya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini," sambungnya melangkah pergi dari tempat pertemuan ibu dan anak tersebut.
Radit langsung mengekor di belakang sang kakak tanpa banyak bicara, lebih baik membiarkan Ayana meluapkan kerinduannya pada wanita cantik yang selama ini diam-diam memperhatikan sang putri dari jauh.
Perginya dua pria tampan itu entah kemana menjadi kesempatan Syifana memiliki banyak waktu bersama putri tercintanya.
"Bagaimana kabar mu, sayang?" tanya wanita itu menatap penuh kerinduan yang mendalam.
Ayana tersenyum manis seperti biasanya, senyum tulus yang selalu membuat hati siapa pun yang melihatnya langsung luluh dan terpesona.
"Kabar Ayana, Alhamdulilah baik Bibi cantik" jawabnya pelan tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Syifana.
__ADS_1
Pengen banget panggil mami. Jerit gadis itu dalam hati
Pertemuan mereka kali ini sungguh bukan karena kebetulan, Ritz memamg berencana akan mempertemukan keduanya agar saling mengenal dan akrab satu sama lain.
"Bibi sangat bahagia akhirnya bisa kembali bertemu dengan kamu," ucap Syifana lirih berusaha menahan cairan bening yang siap keluar.
"Apalagi Ayana," kekeh gadis cantik itu kembali memeluk sayang Syifana.
"Kapan pun Bibi cantik ingin bertemu dengan Ayana langsung bilang Daddy, tadinya Ayana pikir ngga dapat ijin lagi. Tapi ternyata malah Daddy sendiri yang membawa Ayana kemari"
"Sampaikan terima kasih Bibi padanya, juga permohonan maaf sudah berlaku seenaknya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu." Syifana mengurai pelukannya dan beralih menatap wajah cantik sang putri
"Pasti Bibi cantik," sorak gadis cantik itu kelewat bahagia.
Dalam hatinya berjanji ketika pulang nanti akan memeluk dan mencium sepuasnya pria tampan pengisi hatinya itu.
🌿
#Ruang VVIP
Tiga puluh menit telah berlalu yang artinya lumayan lama Syifana dan Ayana membicarakan banyak hal tanpa adanya gangguan dari Ritz maupun Radit.
__ADS_1
Keduanya kini sudah berada di salah satu ruangan yang sengaja di siapkan untuk menunggu ibu dan anak itu selesai melepas rindu.
Radit sibuk mengotak atik laptop yang ia bawa dari kantor sebab ada beberapa laporan penting yang harus di periksa kembali.
Sementara Ritz hanya duduk santai tanpa melakukan apapun.
"Kakak ngga takut kalau orang itu sampai mengetahui keberadaan gadis kecil?" seru Radit memecah keheningan yang begitu mencekam.
Pria tampan itu paling tidak menyukai kesunyian, ada saja yang akan ia lakukan termasuk mengganggu ketenangan sang kakak.
"Jangan sampai mereka tahu dimana gadis kecil berada kak terlalu bahaya," lanjutnya segera menutup laptop dan beralih menatap ke arah Ritz.
"Aka hanya tidak ingin memisahkan mereka terlalu lama, Radit" jawab Ritz datar tanpa ekspresi.
"Lalu bagaimana jika orang itu justru menemukan wanita itu? Bukankah keselamatan gadis kecil ikut terancam?" Radit sangat kesal melihat reaksi sang kakak seperti tidak ada masalah.
Dengan malas Ritz menatap ke arah adik sepupunya itu.
"Aku hanya tidak ingin air mata seorang ibu jatuh mengalir hanya karena keegeoisan ku dan keluarga kita, bukankah selama ini kamu tahu bagaimana aku bersikap pada kedua wanita berharga di rumah kita?" tanpa sadar Ritz meninggikan nada bicaranya karena terlalu kesal.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1