
🌹🌹🌹🌹🌹
Kenzo menatap serius wajah cantik tanpa polesan make up Maira, ada perasaan kurang nyaman ketika kekasihnya itu mengatakan ingin membicarakan sesuatu.
"Hey, jangan menatap ku seperti itu." Kekeh Maira antara lucu dan kasihan mendapati raut wajah pria itu tidak seperti biasanya
Hubungan mereka terbilang sudah jauh lebih baik semenjak Maira setuju untuk tinggal di kediaman milik sang kekasih hati.
Meski hubungannya dengan Ritz belum menemukan titik terang, setidaknya Maira tidak lagi berada dalam bayang-bayang keserakahan sang papa.
Wanita cantik yang melahirkan Maira pun sengaja di sembunyikan keberadaanya dari jangakauan media, semua akses menuju tempat tinggal sang mama tercinta berada dalam pengawasan seorang Kenzo.
Adapun kabar mengenai Hendra, belum juga menyadari kesalahannya yang hampir saja membunuh anak dan istrinya dengan cara menyabotase mobil yang membawa pasangan ibu dan anak tersebut.
Beruntung Tuhan masih berpihak pada mereka, sehingga mobil yang awalnya ingin Maira pakai untuk membawa pergi sang mama sengaja di ganti dengan kendaraan yang sama namun jelas keamanannya terjamin.
Hendra tidak pernah tahu jika rencananya gagal total, begitu tega menyakiti anak dan istrinya hanya karena terbawa emosi ingin memiliki kekuasaan.
🌹
Maira tersadar dari lamunannya kala usapan lembut di bagian perutnya terasa hangat dan nyaman.
"Katanya ingin membicarakan sesuatu, kenapa malah melamun?" gemas Kenzo rasanya ingin sekali menggigit pipi berisi wanita cantik itu.
"Tidak ada apa-apa," jawab Maira sebenarnya bohong.
Kenzo tahu kekasihnya tengah menyembunyikan sesuatu, tetapi bukan waktunya mencari masalah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya langsung pada intinya.
"Semoga kali ini kamu tidak lagi membohingiku seperti yang pernah kamu lakukan sebelumnya," Kenzo hanya ingin kekasihnya berbicara jujur.
Maira yang paham tengah di sindir, tentu merasa bersalah.
"Tidak akan, kali ini aku benar-benar ingin menyelesaikan semuanya." Jawabnya seraya menatap intens wajah tampan pria itu
"Ritz ada menitip pesan," sambung Maira antara gugup dan takut.
Meski Tuan muda Bachtiar telah meyakinkan Maira agar percaya padanya tanpa harus merasa takut pertemuan di antara mereka akan menimbulkan pertengkaran, tetap saja perasaan wanita itu tidak tenang.
Kenzo terbilang memiliki sifat yang mirip dengan Ritz, terutama sikap dingin dan angkuh mereka jelas bagaikan pinang di belah dua. Terlalu mirip sampai Maira sendiri pun ikut di buat pusing, menangani satu pria saja rasanya kepala mau pecah. Bagaimana jika dua pria tampan itu sudah di pertemukan?
__ADS_1
"Ritz menitip pesan apa?" tanya Kenzo penasaran.
Pasalnya mereka tidak saling kenal meski tinggal dalam satu negara yang sama.
"Sayang," panggil Kenzo gemas mendapati sang kekasih yang kembali melamun.
"Ah iya, maaf Ken." Sahut Maira di barengi kekehan
Wanita itu sungguh lupa ingin mengatakan apa, terlalu banyak yang dia pikirkan.
"Kamu kebiasaan sih, sayang." Protes sang kekasih mendadak suasana hatinya sedikit memburuk
"Maaf sayang, tadi aku hanya membayangkan bagaimana jika kalian berdua justru bertemu." Jelas Maira jujur
"Bukannya itu bagus. Memangnya kenapa jika kita bertemu? Justru akan jauh lebih bagus," balas Kenzo dengan tatapan serius.
"Terlalu rumit untuk di jelaskan," keluh Maira.
"Justru kamu sendiri yang membuatnya rumit, sayang."
"Aku hanya takut, Ken. Sikap keras kepala Ritz sangat sulit di tebak apalagi isi pikirannya, jelas aku hanya tidak ingin melihat adanya pertengkaran di antara kalian."
Kenzo memahami isi hati dan pikiran Maira, terdengar aneh jika ia tidak peka. Sudah jadi seperti ini, memilih mundur pun tidak mungkin.
"Ritz tahu kapan waktunya bertindak keras, Raa." Ucapnya lembut seraya mengusap punggung sang kekasih
"Di antara kami hanya perlu sebuah kejelasan, jadi untuk apa kamu terlalu mengkhawatirkan semua itu?"
Maira terdiam, benar yang Kenzo katakan. Tidak ada yang Ritz butuhkan selain memintanya untuk memberi penjelasan yang pasti mengenai hubungan yang terjalin di antara mereka bertiga, terdengar sedikit gila tapi begitulah kenyataannya.
"Besok aku ingin bertemu dengannya," ucap Kenzo langsung mengalihkan fokus Maira.
"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa." Imbuhnya
Kenzo yakin pertemuannya dengan Ritz berjalan lancar, mereka sudah dewasa dan pastinya tahu betul bagaimana menyelesaikan masalah tanpa melibatkan adanya pertengkaran.
🌹
Hampir jam 10 malam, akhirnya Ritz selesai dengan pekerjaannya.
Ayana tertidur di sofa panjang bersama Amalia, beberapa menit yang lalu keduanya asyik menonton Drama China yang menguras emosi dan air mata.
__ADS_1
Beruntung suara teriakan dan umpatan keduanya tidak sampai mengganggu konsentrasi Ritz, urusannya tentu lain lagi.
Ceklek
Pintu ruangan yang terbuka lebar menampakkan sosok pria tampan dengan beberapa kantong plastik yang ia bawa.
"Udah selesai Kak?" tanya Radit setengah berbisik.
"Hmm, tinggal beberapa yang perlu Amalia cek lagi. Sebab ada kesalahan sedikit," jawab Ritz mulai beranjak dari kursi kebesarannya.
Kedua pria tampan itu beralih duduk santai di sofa panjang yang terletak di bagian belakang meja kerja milik Ritz.
Pemandangan malam hari tampak begitu indah bila di lihat dari lantai atas lewat ruangan tersebut, suasana ibu kota yang ramai seakan tidak kenal waktu.
"Kakak sudah terima pesan dari Maira?" tanya Radit setelah memastikan kedua gadis yang masih tertidur begitu nyenyak belum sadar dari mimpi.
Akan sangat beresiko jika pria itu membahas perihal kekasih Ritz yang satunya lagi, jelas mereka belum resmi berpisah.
"Kau takut bila Ayana mendengarnya?" kekeh Ritz sejujurnya tidak kalah ikut merasa khawatir sekaligus takut sama seperti adik sepupunya itu.
"Tenang saja, mereka sudah minum obat tidur." Lanjutnya beralih menatap ke arah luar jendela
Radit langsung bernafas lega, namun tetap memastikan apa benar yang sang kakak katakan.
"Ini kalau tidur begini, pas bangunnya gimana?" heran pria itu menyadari gaya tidur Ayana dan Amalia.
"Sofa nya memang pas buat mereka sih, tapi kalau salah gerak bahaya."
Ritz bangkit dari duduk lalu menghampiri adik sepupunya tersebut, ia ikut di buat penasaran.
"Pindahin ajah kali ya?" gumam Radit masih bisa di dengar.
"Asal orangnya ngga bangun," kekeh Ritz bergidik ngeri.
"Gampang kak, entar kalau dia ngamuk tinggal cium ajah. Beres," sahut Radit tertawa.
Kedua pria tampan itu akhirnya memindahkan Ayana dan Amalia ke dalam kamar, tetapi bukan di ruangan yang sama.
Radit membawa keluar tubuh lelap Amalia menuju ruanganya yang kebetulan pintunya tidak di tutup, ia langsung meletakkan wanita cantik itu ke atas ranjang king size miliknya dengan perlahan.
"Kalau aku bawah ke ruangan mu kelamaan, soalnya pintunya udah di kunci." Kekehnya menatap lembut wajah damai Amalia yang tertidur begitu pulas
__ADS_1