
"Pulangkan Ayana ke Negara asalnya!" Ucap Eyang, dengan nada yang serius seolah permintaannya adalah hal yang mudah untuk di lakukan cucunya.
Darah Ritz mendidih ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang Eyang, hal yang sampai kapanpun takan pernah ia lakukan.
"Eyang bicara apa? Meminta ku mengantar Ayana kembali lagi ke Negara nya?" Tanya Ritz tidak percaya dengan apa yang di minta sang Eyang
"Jangan bercanda Eyang, sampai kapanpun aku takan pernah mengembalikan Ayana. Dia akan tetap bersamaku," imbuhnya dengan nada yang terkesan dingin.
Dalam hati Ritz, ingin sekali mengumpat kesal saat mendengar wanita kesayangannya itu malah memintanya untuk mengembalikan Ayana pulang ke Negara asal.
"Katakanlah Eyang jahat padamu, Ritz. Dengan begitu gampangnya meminta mu untuk memulangkan gadis itu. Tapi lihatlah dari persepsi lain apa kamu siap menerima semua kritikan orang di luar sana terhadap Ayana? Bagaimana kamu akan menjawab setiap pertanyaan yang mungkin akan terus mereka tanyakan? Sudahkah kamu memikirkan cara untuk mengatasi masalah tersebut? Belum lagi orang-orang yang berada di sekeliling gadis itu akan menilai dia sebagai apa? Saat tahu dia bukanlah anak kandungmu, pikirkanlah semua itu Ritz." Tukas Eyang berbicara panjang lebar berharap cucunya itu bisa mengerti maksud dan tujuannya
Tanpa sadar air mata Ritz jatuh menetes untuk pertama kalinya selama ia hidup, jangankan memiliki niat, untuk sekedar membayangkannya saja pria itu tidak mampu.
"Aku bisa GILA dengan permintaan konyol Eyang." Ucap lirih Ritz seakan ada ribuan batu yang menghantam hatinya
"Eyang dengan gampangnya memintaku untuk membawa Ayana pulang ke Negara nya, apa Eyang sadar dengan perkataan Eyang barusan?"
"Dia MILIKKU, sampai kapan pun takan aku biarkan orang lain mencoba memisahkanku dengan putriku."
Tekan Ritz tidak main-main, jika saja hal lain yang diminta sang Eyang, mungkin Ritz akan dengan sepenuh hati menurutinya. Tapi ini berbeda, sengaja ingin membuatnya jauh dari sang putri? Mungkin hanya Eyang lah yang berani melakukan hal itu.
Eyang yang melihat betapa keras kepalanya sang cucu hanya bisa menghela napas berat.
"Kamu anggap apa gadis itu, Ritz?" Tanya Eyang mencoba mencari jalan tengah
"Putriku." Jawab Ritz singkat
"Tapi kalian tidak sedarah, sayang. Jangan bersikap egois seolah-olah kamu ingin memiliki keduanya." Ucap Eyang kembali mengingatkan status antara Ayana dengan sang cucu
"Terus, Eyang mau aku berpisah dengannya? Jangan bercanda, Eyang. Sampai kapanpun Ayana akan tetap bersamaku," kesal Ritz mulai tersulut api amarah.
"Apa kamu yakin gadis itu akan bahagia bersama mu?" Tanya Eyang lagi
"Aku yakin hanya denganku, Ayana akan bahagia." Jawab Ritz dengan sangat percaya diri
Eyang mengangguk paham, namun hatinya masih belum tenang.
__ADS_1
"Benarkah? Meski mungkin justru kamu lah penyebab gadis itu akan terluka?"
DEG
Hati Ritz mencelos, saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang Eyang barusan.
"Maksud Eyang, apa?" Tanya Ritz keheranan
"Kamu sungguh yakin kalau gadis itu tetap menganggap mu sebagai seorang Ayah? Bagaimana jika nantinya justru rasa sayangnya terhadapmu bukan lagi rasa sayang sebagai seorang anak pada Ayahnya? Apa yang akan kamu lakukan bila tahu dalam hati gadis itu justru menginginkan mu lebih dari sekedar Ayah baginya? Sudahkah kamu memikirkan semua konsekuensinya jika terus mengikat gadis itu?"
"Pikirkanlah baik-baik jawaban dari pertanyaan yang Eyang katakan barusan, Ritz. Tidak ada yang lebih memahami dirimu selain Eyang, apa kamu sudah lupa siapa orang yang selalu kamu jadikan tempat mengeluh?"
Bukan maksud Eyang sengaja memisahkan antara Ritz dengan gadis cantik yang mampu mencuri hati wanita baya itu. Banyaknya pro dan kontra yang mungkin akan timbul membuat Eyang mencari jalan pintas, meski akhirnya harus di benci oleh cucunya sendiri.
Diluar sana sudah banyak sekali kejadian dimana seorang pria dewasa yang tinggal bersama dengan anak gadis yang jelas-jelas bukan putri kandungnya, melainkan hanya anak angkat yang ia besarkan. Antara disebabkan ibu dari anak itu telah tiada, anak yang tidak sengaja ketemu di jalan, di adopsi, atau lain sebagainya.
Banyak kasus yang seperti itu, alhasil yang jadi korban utamanya adalah si anak tersebut. Merasa di kucilkan, di jauhi semua teman-temannya, dikatai yang buruk, di hina, di fitnah, bahkan tidak jarang ada yang jadi korban bullyan.
Tentu Eyang, sebagai wanita yang juga seorang ibu dan jantung rumah bagi seluruh keluarganya. Akan mencari jalan terbaik demi orang-orang yang dia sayangi.
Cukup lama keduanya saling diam, dengan pikiran masing-masing. Sampai tiba-tiba Eyang menemukan sesuatu yang kemungkinan bisa membantu masalah antara sang cucu dengan gadis itu.
"Begini saja, sekarang Eyang kasih kamu kesempatan untuk berpikir dan menetapkan pilihanmu." Ucap Eyang mencoba bernegosiasi
"Maksud Eyang, apa lagi?" Tanya Ritz frustasi
"Eyang akan buat kesepekatan dengan mu dan jika kamu mampu, Eyang janji takan lagi mencampuri urusanmu mengenai gadis itu. Bagaimana?"
Ritz tampak berpikir sejenak sebelum menjawab apa yang diucapakan sang Eyang.
"Bukan hal yang aneh kan?" Tanya Ritz menelisik mencari tahu apa wanita kesayangannya itu ingin mengerjainya atau tidak
"Kamu bisa pegang kata-kata Eyang, ini." Balas Eyang dengan nada bicara yang serius
"Baiklah, kalau begitu katakanlah! Kesepakatan apa yang Eyang maksud untuk aku lakukan?" Kata Ritz dengan jantung yang berdetak cukup kuat, takut bila nanti ia akan di bohongi lagi seperti yang lalu-lalu.
Ritz sangat hapal tabiat dari sang Eyang, di awal berbicara begitu manis tetapi pada akhirnya justru ia dibuat rugi besar.
__ADS_1
"Tatapan macam apa itu, Ritz?" Protes Eyang tidak suka melihat mata Ritz seakan ingin keluar dari tempatnya
"Kamu pikir Eyang akan membodohi mu sama seperti dulu?" Kekeh wanita baya itu merasa gemas dengan wajah penuh selidik cucunya
"Yaa, mana aku tahu. Bisa saja Eyang masih seperti dulu suka berbuat curang." Cebik Ritz bagaikan anak kecil yang berunding dengan ibunya
Wanita baya yang sudah berusia setengah abad lebih itu menghela napas panjang.
"Dengarkan Eyang, sayang!" Pinta Eyang pada cucu kesayangannya dengan penuh harap
"Jika kamu memang tetap keras kepala menahan Ayana, di sisimu. Maka biarkanlah gadis itu tinggal bersama Eyang untuk sementara waktu." Lanjutnya dengan nada terkesan datar namun sangat menusuk indra pendengaran Ritz
Ia tercengang dengan mata yang membulat sempurna, jadi inilah kesepakatan yang di maksud sang Eyang?
"Jangan bercanda, Eyang." Selak Ritz berusaha menormalkan detak jantungnya akibat syok
"Kamu pikir, Eyang melakukan ini demi kepentingan Eyang sendiri." Kesal Eyang menatap tajam kearah cucunya
"Lalu kalau bukan untuk itu ngapain Eyang minta Ayana tinggal sama Eyang? Atau jangan-jangan Eyang mau bawa Ayana pergi, karena aku tidak menuruti permintaan Eyang." Tanya Ritz penuh selidik
Plak
"Aww, sakit Eyang. Kenapa malah di pukul sih," adu Ritz meringis kesakitan.
"Kamu itu sudah dewasa, umur ngga muda lagi. Tapi otak mu masih berputar tidak jelas." Marah Eyang sampai menjewer telinga sang cucu
Tidak peduli dengan rintihan yang memohon ampun.
"Eyang, ingin agar Ayana tinggal dengan Eyang, bukan karena hal lain. Eyang hanya menjaganya dari cibiran orang-orang di luar sana, memangnya kamu pikir kekasihmu itu bisa menutup rapat mulutnya, haa?" Berang Eyang tanpa sadar menyebut kekasih dari cucunya
"Asal kamu tahu, kemarin saja jika bukan orang suruhan Eyang memergokinya sedang bersama beberapa wartawan, mungkin sekarang berita mengenai kalian berdua ayah dan anak angkat ini menjadi trending topik di seluruh media." Lanjutnya lagi dengan emosi yang meluap
Eyang sangat marah mendengar kabar dari seseorang mengenai kekasih dari cucunya itu, makian dan umpatan yang keluar dari mulutnya tidak satupun berani di selak Ritz.
Jalur diam tanpa suara adalah jalan yang paling benar. _Pikir Ritz_
Hampir setengah jam lamanya wanita baya itu mengomel tanpa henti dan hasil akhirnya yaitu, Ritz menyetujui Ayana tinggal bersama Eyang, di rumah kedua setelah rumah utama.
__ADS_1
Dengan catatan, Eyang tidak melarang bila keduanya ingin bertemu.
🍃🍃🍃🍃🍃