
...πΏπΏπΏπΏ...
Sampai di Apartment, Ritz langsung membawa Ayana menuju kamar di lantai paling atas yaitu lantai tiga.
Tidak adanya pergerakan dari gadis itu menandakan bila rasa kantuk jauh lebih dahsyat di bandingkan kejahilan Ritz yang terus menerus mencium gemas kedua pipi Ayana.
"Wahh, beneran tidur rupanya." Kekeh Ritz setelah meletakkan Ayana di atas tempat tidur miliknya
"No kamar sendiri-sendiri," bisiknya pelan seraya menyelimuti gadis itu sampai batas leher.
Pria tampan itu harus mandi demi menghilangkan hawa panas yang timbul dari dalam tubuhnya, bohong jika Ritz tidak merasakan sesuatu ketika melihat wajah damai Ayana.
"Sial," umpatnya berlalu cepat memasuki kamar mandi.
Lumayan lama Ritz berdiam diri dalam kamar mandi tanpa ada niatan mempercepat waktu mandinya.
Rasa gerah dan hasrat ingin menuntaskan sesuatu membuatnya frustasi, kebiasaan baru yang di alami Ritz semenjak mengetahui jika selama ini gadis kecilnya mememdam rasa terhadapanya.
"Jangan gila Ritz, cobalah menahan dirimu bila tidak ingin di cap pria brengsek." Geram Ritz seraya berusaha mengendalikan dirinya dari nafsu yang tiba-tiba saja muncul
Ia merupakan pria normal dan hal seperti ini tentu sering di alami.
"Ckck, aku merasa seperti pria tua yang ingin menerkam gadis kecil belum cukup umur."
"Bahkan usia kita terpaut 15 tahun, asataga Ritz. Bisa-bisanya kamu menyukai gadis kecil yang dulunya merupakan anak angkat mu sendiri"
__ADS_1
Ritz meringis pelan seraya menatap horor pantulan dirinya dari balik cermin dalam kamar mandi.
Puas merendam diri dalam bathup membuat otak dan nafsu Ritz akhirnya bisa di kendalikan, mulai dari sekarang ia harus berusaha menyesuaikan diri agar gadis kecilnya tidak terganggu dan takut padanya.
Pria tampan itu meraih handuk putih yang tergantung di samping wastafel.
CEKLEK!
Ketika pintu kamar mandi terbuka mata tajam Ritz langsung bertatapan dengan mata sayu Ayana.
Sepertinya si cantik kesayangannya itu terbangun karena tidak ada dirinya di samping gadis itu .
"Kok bangun putri cantiknya, Daddy" tegur Ritz seraya melangkah cepat menuju tempat tidur.
Tangannya langsung menyambut tubuh mungil gadis itu yang meminta untuk di peluk.
Satu kecupan sayang mendarat di kening Ayana.
Posisi Ritz yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang membuat pergerakkannya sedikit terganggu, belum lagi rambutnya yang basah masih ada sisa air yang menetes.
"Dingin Daddy, iiihh." Protes Ayana saat merasakan bahunya di tetesi air dari rambut basah milik Ritz
"Kan Daddy baru habis mandi sayang," sahut Ritz tanpa menghiraukan dorongan tangan Ayana di bagian dadanya.
"Tapi minggir dulu! Ini rambut Daddy masih basah, mana airnya kena baju Ayana lagi." Ketus si cantik mulai merasakan hawa dingin akibat ulah kejahilan pria itu
__ADS_1
Bukannya menyingkir dari balik ceruk leher Ayana, mulut Ritz justru mencecap rasa manis yang menyeruak dari tubuh gadis itu.
Aroma mawar yang manis dan begitu menenangkan bila di hirup lumayan lama, tindakan Ritz sudah pasti menimbulkan tanda merah yang bisa saja terlihat oleh orang lain.
"Wahh, mereka sangat indah sayang." Puji Ritz setelah melihat hasil karya yang di buatnya
"Ayana bakal laporin Daddy ke mama biar di omelin habis-habisan," kesal Ayana setengah mengancam.
"Yah, jangan dong sayang. Bisa bahaya kalau nanti mama tahu, yang ada malah Daddy ngga akan pernah lagi ketemu kamu Baby." Mohon Ritz dengan wajah memelas
Akan ada perang dunia ketiga andai Ayana nekat melaporkan perbuatan Ritz pada wanita cantik yang merupakan ibu kandung pria tampan tersebut.
Usai berganti pakaian dengan mengenakan kaos biasa dan celana pendek, Ritz langsung naik ke atas ranjang ikut berbaring di samping Ayana.
Terlihat gadis cantik itu kembali terlelap, senyum hangat menghiasi wajah tampan Ritz kala menatap sayang si cantik kesayangannya.
Di raihnya tubuh mungil gadis itu agar masuk ke dalam pelukannya, wangi mawar bercampur vanila langsung masuk ke dalam indra penciuman Ritz.
Sedang asik menikmati rasa nyaman saat memeluk gadis manjanya, tiba-tiba getar ponsel di atas nakas mengalihkan fokus Ritz.
Tanpa menunggu lama benda pipih itu sudah berpindah tempat ke tangannya, terdapat satu pesan notifikasi yang masuk melalui pesan biasa.
Ayana sengaja tidak menggunakan kata kunci sehingga memudahkan pria itu membuka semua isi yanga terdapat di dalam benda pipih tersebut.
Dari pesan masuk yang sudah di buka Ritz tertera satu nama tidak asing di ingatannya, tentu ia tahu nomor siapa yang mengirimkan pesan pada Ayana.
__ADS_1
"Hmm, bukankah ini?"
ππππ