
🌹🌹🌹🌹🌹
Ritz makan siang bersama seorang klien yang memintanya untuk bertemu di Restuarant tidak jauh dari perusahaan.
Ada Radit dan Amalia yang ikut bersamanya, mengingat klien yang satu ini tanpa rasa malu membawa serta putrinya untuk bertemu.
Pria berusia 40 tahun itu sengaja mengajak sang putri tercinta agar kelak bisa lebih akrab dengan pengusaha tampan yang paling di segani banyak orang tersebut.
Kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan Tuan muda Bachtiar yang terkenal dingin dan angkuh.
"Sepertinya anda terlalu memandang remeh batasan yang sudah pernah saya katakan Tuan Ardian," ucap tegas Ritz dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Sementara pria yang bernama Ardian tampak meringis pelan antara takut dan khawatir jangan sampai timbul masalah dalam pertemuan mereka kali ini.
"Jangan marah dulu, Tuan Alfa. Sesungguhnya aku membawa serta putriku karena dia yang memintanya, sebagai ayah tentu aku hanya ingin mengabulkan keinginan putriku." Balas Ardian dengan keringat dingin sudah membasahi dahinya
Sang putri yang sempat kaget langsung memberikan tisu pada ayahanya, timbul perasaan takut bercampur khawatir tanpa sengaja ekor matanya melihat ke arah Ritz yang berwajah masam.
"Maafkan atas kelancangan ku, Tuan Alfa. Mungkin aku lah yang terlalu percaya diri nekat meminta ayah agar membawa ku bertemu dengan anda," ucap gadis berusia 25 tahun tersebut dengan wajah malu.
Melihat suasana canggung yang semakin mencekam, Amalia segera mencari topik pembahasan lain agar sang Bos tidak lagi memperlihatkan ketidak sukaannya terhadap sikap klien tersebut.
🌹
Usai makan siang, ketiga orang dewasa itu memilih pergi lebih dulu meninggalkan area Rastaurant tanpa mengindahkan permohonan maaf dari Ardian beserta putrinya.
Hampir saja kerja sama yang belum ada satu jam di setujui oleh Ritz berakhir dengan pembatalan.
"Jangan egois Kak! Hanya karena Tuan Ardian membawa serta putrinya, bukan berarti kita langsung membatalkan kerja samanya begitu saja." Omel Radit tidak terima
"Benar Bos, lagian gadis itu ngga berbuat nekat juga kan?" sambung Amalia ikut membenarkan.
Meski jauh di dasar hati mereka, bisa saja di kemudian hari akan timbul masalah bila tetap mengacuhkan kehadiran putri dari Ardian tersebut.
Akan tetapi, mereka juga tidak mungkin sampai memutus kontrak kerja sama begitu saja. Hanya cukup dengan memberi peringatan pada Ardian dan putrinya agar kelak jangan sampai berulah, mungkin jalan terbaik yang bisa mereka ambil.
Mobil yang di kemudikan Radit memasuki area lobi parkiran perusahaan, beberapa karyawan tampak baru datang dari arah luar mengingat jam makan siang telah berakhir.
Ritz dan Amalia berjalan lebih dulu sampai di depan lift, keduanya menunggu Radit yang hampir saja di tinggal akibat terlalu lama memarkirkan mobil.
.
.
.
Tring
Pintu lift terbuka lebar, ketiga orang dewasa tersebut langsung bergegas keluar menuju ruangan masing-masing.
__ADS_1
Sejak pagi, tidak ada satu pun pesan masuk yang Ritz terima dari gadis kesayangannya.
"Tumben Ayana ngga kirim pesan?" gumam Ritz berharap sebentar lagi ada pesan masuk dari gadis cantik itu.
Banyaknya tumpukan berkas yang memerlukan tanda tangan dan harus ia periksa, membuat Ritz kembali fokus untuk bekerja.
Perihal Ayana, mungkin gadis itu perlu waktu untuk bersantai tanpa adanya gangguan dari siapa pun termasuk Ritz.
🌹
#Kediaman Alfaritz Rendra Bachtiar
.
.
.
Letta sampai di bangunan mewah tersebut beberapa menit yang lalu.
Kedatangannya sudah di tunggu Ayana, dengan tidak sabarnya langsung membawa Letta ke lantai atas menuju kamar.
"Kangen banget aku tuh," kekeh Ayana setelah keduanya sudah tiba di kamar.
"Apalagi aku," sahut Letta memeluk penuh kerinduan sahabat baiknya itu.
Ayana sampai lupa untuk memberi kabar pada Ritz saking bahagianya di kunjungi sang sahabat, kapan lagi memiliki waktu bebas seperti sekarang.
🌹
Menjelang sore, Letta ijin pulang setelah menerima telefon dari sang mama yang memintanya cepat kembali sebelum gelap.
"Aku pulang dulu ya," pamit Letta sudah masuk ke dalam mobil.
"Besok masuk kuliah kan?" tanyanya pada Ayana.
"Entar aku lihat dulu, soalnya belum ada pemberitahuan dari Daddy." Jawab Ayana terkekeh geli
"Cih, jangan sampai bucin akut loh. Aya," cebik Letta menatap malas ke arah sahabatnya.
"Ngga sampai bucin akut juga kali, Taa. Lagian kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kami selama ini," protes Ayana mendelik kesal.
Tidak mau adanya perdebatan sengit di antara mereka, dengan cepat Letta meminta sang sopir untuk menjalankan mobil sebelum Ayana kembali buka suara.
"Awas kamu, Taa. Giliran di balas malah lari," teriak Ayana tertawa.
Melihat mobil yang membawa sahabatnya sudah jauh, baru lah Ayana masuk ke dalam rumah dengan seorang pelayan yang ikut menemaninya sejak tadi pagi.
Dering ponsel di atas nakas samping tempat tidur, mengalihkan fokus Ayana hendak menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Siapa yang telfon?" monolognya berjalan pelan le arah nakas.
Ada satu nama paling di tunggu kabarnya sudah tertera indah di layar ponsel, dengan cepat Ayana menggeser icon warna hijau.
[Kenapa lama sekali angkat telefon Daddy?]
"Mana ada, biasanya juga kayak gini kok." Protes Ayana
[Kangen Baby, kenapa dari tadi ngga kasih kabar Daddy?]
"Oh, tadi Letta datang. Aku mana punya waktu buat pegang ponsel," jawab Ayana dengan kekehan.
[Ke kantor yuk?]
"Mau ngapain?" tanya gadis itu.
[Temani Daddy lembur]
"OK."
Tutt
Dengan cepat, Ayana mengganti pakaiannya lebih sopan dan pastinya tertutup walau tanpa mengenakan hijab.
🌹
Di perjalanan menuju perusahaan milik Ritz, mobil yang membawa Ayana singgah di salah satu toko kue.
"Nona muda serius beli semua itu?" tanya paman sopir keheranan.
"Iya paman, entar lainnya di bawah pulang buat di bagikan ke pelayan dan orang rumah." Jawab Ayana masih setia memilih kue
Dirasa cukup, akhirnya mereka keluar dari toko kue langsung menuju mobil.
Kereta besi tersebut melaju dalam kecepatan sedang, jalanan yang lumayan macet sedikit menghambat waktu Ayana sampai ke perusahaan.
Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, sebelum turun Ayana berpesan aggar semua kue yang mereka beli jangan sampai lupa di bagikan.
Radit datang menjemput gadis cantik kesayangan Ritz tersebut, sebelum naik ke lantai atas pria itu membawa Ayana ke suatu tempat untuk mengambil sesuatu.
"Banyak benar kue nya," kaget pria itu melihat beberapa bingkisan yang Ayana bawa.
"Di bagi sama karyawan juga lah Paman Radit, masa iya aku beli cuma buat makan sendiri."
Ayana memang sangat suka berbagi makanan yang dia bawa, meski tidak semuanya ikut merasakan.
"Besok kalau datang lagi jangan bawa sedikit, kasihan yang lain ngga kebagian." Kekeh Radit mengacak gemas rambut gadis kesayangan sang kakak tersebut
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1