
#Rumah Utama Bachtiar
Di depan pintu utama sudah ada anggota keluarga yang menyambut kedatangan sang Nyonya besar, mulai dari yang bermuka dua hanya ingin mencari perhatian sampai dengan yang benar-benar merindukan Eyang ikut menyambut bersama.
Klek!
Pintu mobil dibuka Ritz, mempersilahkan sang Eyang keluar bersama dengan si gadis cantik yang sejak masuk mobil tangannya terus di genggam Eyang.
"Ayo sayang turun bareng Eyang," ajak wanita baya itu pada Ayana.
Amalia turun lebih dulu dari mobil sembari menunggu kedua wanita beda generasi itu turun. Mata Ayana sesekali melirik kearah Ritz, hanya pria itu lah satu-satunya tempat ternyaman menurutnya kali ini.
"Daddy," panggil lirih Ayana.
Rasa takut dan gugup rupanya mulai menyelimuti hatinya.
"Ayana mau Daddy!" Rengeknya lagi ingin meraih tangan Ritz yang sudah bersiap menyambutnya
Baik Eyang dan juga Amalia hanya bisa mengulum senyum mereka, melihat betapa lengketnya gadis itu pada pria tampan yang di kenal dingin dan kejam.
"Apa dia merupakan gadis kecil yang dibawa Ritz, tujuh tahun lalu?" Tanya Eyang pada Amalia selaku sekertaris dari cucunya tersebut
"Benar Eyang, dia lah gadis kecil yang dibawa Bos dari negara lain." Jawab Amalia berkata jujur tanpa ada yang di tutupi
"Ritz pernah membawanya kemari?" Tanya Eyang lagi
"Sejauh yang aku tahu, Bos belum pernah mengajak gadis kecil ke rumah utama," Amalia bingung harus menjawab apa lagi.
"Kenapa? Bukankah semua anggota keluarga berkumpul di sini." Heran Eyang, sebab yang dia tahu dari para mata-matanya selama ini putranya dan juga menantunya sangat menyayangi gadis itu.
Lalu mengapa Ritz sama sekali tidak membawanya ke rumah utama?
"Tuan dan Nyonya Bachtiar lah yang datang menemui Bos dan juga putri angkatnya, selain mereka yang lain dilarang menemui gadis itu. Bos melarang keras siapa saja yang mencoba mendekati putrinya, dulu pernah ada kejadian dimana gadis itu hampir saja celaka akibat ulah putra dan putri dari sepupu Nyonya muda. Bos sangat murka dan hampir saja membunuh kedua anak itu," terang Amalia menceritakan bagaimana perlakuan anggota keluarga Bachtiar pada Ayana.
"Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak kembali kesini, ternyata ada begitu banyak kejadian yang tidak aku ketahui sama sekali." Ucap Eyang menghela napas panjang
Tidak ingin lama-lama berada diluar rumah, Eyang meminta Amalia untuk membantunya berjalan sampai dalam rumah. Sementara Ritz mengekor dibelakang sang Eyang sambil menggandeng tangan putrinya yang terasa dingin.
"It's ok, Baby." Bisik Ritz menenangkan putrinya
Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu, baik kedua orang tua Ritz, Paman dan Bibinya, para keponakan, sepupu serta anggota keluarga yang lain juga ikut duduk bersama, menyambut kedatangan sang Nyonya besar.
Beberapa pasang mata terus memperhatikan si gadis cantik yang kini tengah duduk di atas pangkuan Ritz, tatapan mereka antara suka dan tidak suka.
Bagi Eyang dan kedua orang tua Ritz, hal semacam itu bukan lagi baru di lihat mereka. Semuanya tahu bagaimana Ritz sangat sayang dan melindungi putri angkatnya, meski terkadang beberapa orang beranggapan jika Ritz adalah sosok pria dewasa yang menyukai putrinya sendiri.
Sebagian yang tidak tahu mungkin berkata seperti itu, tetapi yang sudah mengetahui siapa Ayana, dengan jelas mereka akan memilih untuk bungkam dari pada mendapatkan masalah.
__ADS_1
"Ritz, bisakah pindah kemari dekat Eyang!" Pinta sang Eyang pada Ritz
Pria tampan itu lebih dulu melirik kearah putrinya yang sejak tadi duduk diam dengan kepala bersembunyi dibagian lehernya.
"Kita pindah samping Eyang, ya?" Rayu Ritz menenangkan putrinya
Ayana menggeleng pelan tanda tidak mau, duduk terpisah dengan orang-orang itu membuatnya lebih aman tanpa harus dijadikan pusat perhatian.
"Eyang yang minta loh, Sayang." Rayunya lagi
"Ngga mau Daddy," rengek Ayana dengan mata sudah berkaca-kaca.
Jika sudah begini lebih baik jangan memaksa, rasa trauma yang pernah di alami Ayana bukan masalah sepele. Dan Ritz tidak ingin putrinya mengalami hal yang membuatnya hampir gila.
"Eyang, maaf. Ayana masih takut dengan kejadian yang menimpanya tempo hari." Ucap Ritz seraya menyindir kearah pasangan suami istri yang duduk tidak jauh dari Eyang
Semua yang mendengar ucapan Ritz hanya diam, beruntung kedua anak yang pernah menyakiti Ayana tidak ada.
Entah kemana mereka pergi atau mungkin orang tua mereka sengaja menyembunyikan keberaan anak-anak itu.
"Eyang akan mencoret mereka dari kartu keluarga jika coba-coba menyakiti Ayana." Tegas Eyang tidak main-main, seolah Ayana bukanlah gadis yang mudah di sentuh siapapun termasuk anggota keluarganya sendiri.
"Kemarilah sayang! Eyang ingin melihatmu lebih dekat." Eyang meminta Ayana berpindah duduk didekatnya
Mata Ayana terus menatap Ritz yang tersenyum manis padanya.
Ritz hanya mengangguk, ia bangkit dari tempat duduk dan berpindah di samping Eyang, tanpa melepaskan Ayana dari gendongannya.
"Turunkan gadis itu, Ritz!" Titah sang Nyonya besar pada cucunya
"No, Eyang." Tolak Ritz dengan nada dingin
"Ayana sudah besar, sayang. Apa kamu akan terus memangkunya seperti itu?" Gemas Eyang rasanya ingin menggigit cucu kesayangannya itu
"Putriku masih kecil, umurnya masih 17 tahun." Jawab Ritz acuh tanpa menoleh kearah sang Eyang
"Hanya kamu yang menganggap Ayana masih kecil, bagaimana dengan kami?" Cetus Eyang mencibir cucunya.
"Biarkanlah anak keras kepala itu, Mih. Sedari dulu ia begitu posesif dengan gadis kecilnya yang sebentar lagi berusia 18 tahun. Ia mungkin lupa jika putrinya semakin hari terus bertumbuh menjadi gadis dewasa, dan kemungkinan nanti juga akan mendapatkan pasangan yang tampan melebihi Daddy kesayangannya ini. Benar kan, sayang?" Ejek sang Papa sengaja memanas manasi putranya sendiri
"Mama ngga tahu ya, Pah. Kan biasanya putra Mama sangat suka menyembunyikan putrinya dari orang luar, mana Mama tahu kalau gadis itu semakin hari semakin cantik dan dewasa. Lihatlah postur tubuhnya yang tinggi, bahkan bagian dadanya sudah kelihatan loh Pah. Mungkin yang Papa katakan tadi benar adanya," timpal sang Mama ikut meledek putranya.
Sementara Ayana sudah bersembunyi dibalik jaket yang Ritz kenakan, wajahnya merah antara malu dan kesal menjadi bahan ledekan Papa dan Mama Ritz.
"Berhentilah mengganggunya!" Tegur Ritz tidak suka kehadirannya bersama sang putri justru menjadi bahan ledekan kedua orang tuanya sendiri
Hal yang paling di benci Ritz.
__ADS_1
Eyang yang paham suasananya mulai tidak bersahabat, dengan cepat menarik lengan Ritz naik ke lantai atas bersama Ayana.
.
.
#Kamar Eyang
Si gadis cantik yang kelelahan dengan mudahnya terlelap di atas ranjang milik Eyang, sementara Ritz diminta Eyang duduk di salah satu ruangan tersembunyi dalam kamar wanita baya itu.
Ada sesuatu yang ingin dibicarakan Eyang, dengan sang cucu.
"Sejak kapan kamu bersama dengannya?" Tanya Eyang tanpa basa basi, mengingat sudah begitu banyak informasi yang sering dia terima dari orang suruhannya.
"Dua tahun lebih," jawab Ritz singkat.
"Kalian sudah bertunangan?" Tanya Eyang lagi
"Iya."
"Lalu, gadis itu bagaimana?" Uji Eyang ingin tahu seperti apa respon yang akan sang cucu berikan
"Ayana tetap bersama ku."
"Apa kamu sudah gila? Kalian bukanlah anak dan ayah kandung, dan gadis itu akan terus bertambah usia, apa kamu bisa menjamin dalam otaknya tidak berpikiran hal lain terhadap mu?"
Eyang sangat tahu jelas siapa Ayana, mustahil baginya bila gadis cantik yang sebentar lagi beranjak dewasa itu takan memiliki sebuah rasa lain dihatinya.
"Jangan melakukan hal yang kamu sendiri akan kesulitan nantinya, Eyang tahu gadis itu masih memiliki orang tua. Dan mereka juga bukan berasal dari kalangan biasa, Eyang harap kamu mengambil keputusan yang tepat. Akan sangat beresiko bila gadis itu tetap berada di samping mu." Sambung Eyang memberi peringatan pada cucu kesayangannya tersebut
Ritz tampak berpikir keras mendengar perkataan Eyang barusan, mengenai putrinya, kelanjutan hubungan dengan kekasihnya, hidupnya dan juga masa depannya nanti akan seperti apa ia pun tidak tahu pasti.
"Eyang minta sesuatu bisa?" Pinta Wanita baya itu dengan tiba-tiba
Ritz yang tersadar dari lamunannya pun, refleks menjawab cepat.
"Soal apa, Eyang?" Tanyanya dengan perasaan yang mulai tidak nyaman
Sebelum kembali berucap, wanita baya itu melihat dengan saksama wajah tampan cucunya yang kian hari semakin dewasa.
"Kamu yakin ingin mendengar permintaan Eyang?" Ritz mengangguk cepat, seakan tidak sabar mendengar apa yang akan di ucapkan sang Eyang.
Sedetik kemudian wajah pria tampan itu berubah muram tanpa ekspresi sama sekali.
"Pulangkan Ayana ke Negara asalnya!"
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1