Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (47) Melepas Rindu


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Hampir 15 menit perjalanan akhirnya mobil Rania sampai di salah satu gedung pencakar langit atau lebih tepatnya Perusahaan besar milik Eyang, di depan pintu masuk utama sudah ada beberapa penjaga yang sengaja di tugaskan untuk menyambut kedatangan si cantik kesayangan wanita baya tersebut.


Ayana menatap tidak percaya, ternyata status keluarga pria kesayangannya bukanlah dari kalangan biasa melainkan pengusaha kaya raya dan sukses.


"Aunty, serius ini perusahaan milik Eyang?" tanya Ayana seraya menatap takjub gedung besar yang memiliki bukan hanya 20 lantai melainkan lebih.


Rania menganggukan kepala, iya.


"Ini belum seberapa Nona, masih ada banyak lagi properti yang di miliki Eyang. Beberapa masih dalam proses pembangunan, dan rencananya akan di beri nama QIA Group." Tukas Raina


Mendengar nama "QIA" di sebutkan Raina, membuat hati Ayana berdesir.


Itu adalah nama asli ku, bagaimana Eyang bisa tahu? Bathin Ayana


Selain dirinya dan sang Daddy, hanya Devan lah sebagai orang terakhir yang tahu masa lalunya termasuk nama aslinya sebelum berganti nama menjadi Ayana.


Bahkan dia pun lupa kapan terakhir nama itu di pakai, bisa di katakan semenjak di angkat menjadi anak oleh pria asing yang menjadi penyebab dirinya amnesia dengan berbagai macam gangguan, gadis itu tidak lagi menggunakan nama aslinya.


"Nona,"


"Nona Ayana, ayo turun!"


Raina terus memanggil Ayana, melihat gadis itu tiba-tiba saja melamun.


Beruntung orang yang sedari tadi di tunggu kedatangannya akhirnya tiba juga, Raina sampai bernapas lega melihat siapa yang kini sudah berada tepat di depan pintu mobil bagian samping kemudi.

__ADS_1


Seolah mengerti dengan tatapan orang itu, Rania segera angkat bicara.


"Nona Ayana tiba-tiba saja melamun, tidak tahu apa yang di pikirkannya." Ucap Raina sembari menunduk tidak berani menatap wajah dingin Ritz


Pria tampan itu hanya diam, matanya kembali menatap sayang ke arah gadis cantik yang begitu di rindukannya.


"Cantik nya, Daddy." Ucap Ritz masih setia berdiri tegak di depan pintu mobil yang terbuka


Melihat tidak ada pergerakan dari gadis manjanya, membuat Ritz gemas ingin segera menggendongnya keluar dari mobil.


Happp.


Ayana langsung tersadar setelah merasakan tubuhnya melayang di udara, matanya masih tertutup karena terkejut. Belum lagi merasakan pipinya seakan di cium gemas tanpa henti dan itu semakin membuat jantungnya berdegup sangat kuat.


"Huaaa, Aunty tolong Ayana!" teriaknya histeris nyaris tidak terdengar, sebab Ritz dengan gerakan cepat menyembunyikan wajah Ayana tepat di bagian leher.


DEG!


Jantung Ayana seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar suara bariton yang begitu di rindukannya selama sebulan ini, tanpa permisi air matanya ikut menetes bagaikan air yang mengalir deras langsung membasahi pipi mulusnya.


Hiks.


Suara tangisan di barengi gumaman-gumaman kecil yang keluar dari mulut Ayana sangat menggelitik indra pendengaran Ritz, terlebih belitan tangan gadis itu makin erat di lehernya.


"Uhuk. J-jangan memeluknya terlalu erat sayang. Daddy tidak bisa bernafas," adu Ritz sedikit kesulitan ketika berbicara.


Sadar akan ulahnya hampir menyakiti sang Daddy, cepat-cepat Ayana mengangkat wajahnya dan melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


Dia ingin melihat dengan benar wajah yang teramat di rindukannya.


"Daddy" panggilnya lirih dengan air mata yang kembali menetes.


CUP.


"I miss you so much, Baby." Bisik Ritz di telinga gadis kesayangannya, tidak lupa mendaratkan sebuah ciuman lembut di keningnya.


"I miss you too, Dad." Balas Ayana tak kalah balas mencium penuh rindu kedua pipi pria kesayangannya.


Tidak peduli dengan tatapan beberapa karyawan dan orang kepercayaan sang Eyang, yang terus memperhatikan interaksi ayah dan anak angkat tersebut.


Tidak ada lagi rasa lelah yang melanda jiwa dan raga Ritz selama sebulan tanpa henti berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di perusahaan.


Ia sudah mendapatkan kembali energinya setelah mendekap hangat cahaya hidupnya saling melepas rindu, terlebih sekarang sang Eyang tidak lagi melarang mereka untuk bertemu.


Satu bulan Ritz pikir sudah cukup untuk memisahkan mereka dengan berbagai macam aturan aneh, namun tetap saja di langgar oleh keduanya.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Like dan komennya yuk ikut ramaikanπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2