Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (25) Maira Datang Ke Kantor


__ADS_3

...🌾🌾🌾🌾🌾...


Beberapa saat yang lalu, Ritz menerima telefon dari putrinya yang mengatakan ingin datang ke perusahaan siang ini.


Benda tajam yang ada di dalam ruangannya di singkirkan dengan cepat, semua Ritz lakukan sebab Ayana akan mengambil benda-benda tajam itu kemudian di lempar sembarangan.


"Ngeri juga ya lama-lama." Gumam Ritz bergidik takut


Tidak berselang lama pintu ruangannya di ketuk dari luar oleh Radit, wajah cantik dan menenangkan Ayana lah yang pertama kali di lihat Ritz.


"Daddy," Panggil Ayana berlari siap masuk ke dalam pelukan Ritz


"Kemari dengan siapa, sayang?" Tanya Ritz, kembali duduk di kursi kebesaran dengan Ayana berada di atas pangkuannya


"Di antar mama, tadinya mau ikut mama ke Butik. Tapi kata mama nanti Ayana cepat bosan nungguin mama selesai kerja." Jawab Ayana pelan namun matanya terus melirik kesana kemari


Entah apa yang sedang di carinya, Ritz yang paham memilih untuk diam. Dalam hati pria itu terus berdoa semoga tidak ada lagi kekacauan yang terjadi.


"Daddy," Panggil Ayana pelan


"Hmm, ada apa sayang?" Tanya Ritz kembali fokus pada putrinya


"Ruangan Daddy kok kayak ada yang beda gitu ya, perasaan Ayana kemarin lihat ada barang-barang Daddy di sini. Pada kemana semua?" Jawab Ayana mulain menyadari sesuatu


"Di simpan Aunty Amalia, kata Aunty kalau Ayana datang ngga boleh ada benda-benda itu. Aunty Amalia takut gimana kalau sampai Ayana terluka, kan Aunty Amalia jadi sedih." Jawab Ritz berbohong


Beruntung si cantik yang sedikit memiliki gangguan di otaknya pasca operasi lalu, tidak curiga atau terus bertanya.


Akan sangat pusing bila Ritz harus mencari banyak jawaban bohong demi mengelabui putri angkatnya tersebut.


Tidak tau kapan Ayana kembali seperti semula, terlalu banyak tekanan bathin dan trauma masa lalunya yang belum juga sembuh total, membuat Ritz rela mengeluarkan uang yang banyak demi kesembuhan gadis kesayangannya.


Beberapa menit yang lalu Ritz memesan makan siang untuknya dan Ayana, tak lupa juga memesan makanan milik Radit dan Amalia.


Dua orang yang sangat penting bagi Ritz selama di perusahaan maupun di luar perusahaan.


Saat makan siang yang di pesan Ritz sudah datang, baik Ayana, Radit & Amalia sudah berkumpul di dalam ruangan sang Presdir untuk makan siang bersama.

__ADS_1


Semua makan dengan lahap habis tak tersisa, sesekali di selingi obrolan ringan seputar cerita Ayana bila di rumah.


Usai makan siang, Ritz keluar dari ruangan menuju tempat meeting di adakan. Ia sengaja membawa Ayana ikut dalam meeting tersebut, rasa khawatir takut terjadi apa-apa membuat Ritz memilih mengajak gadis kesayangannya.


Semua orang yang melihat kehadiran si cantik dengan pakaian rapih dan sangat manis, menatap Ayana dengan senyuman. Bagi mereka ada baiknya bila gadis cantik itu ikut hadir dalam meeting, sikap dingin dan mengintimidasi Ritz kadang kala membuat mereka sulit bernapas apalagi jika sampai ada kesalahan.


Ayana di biarkan duduk berdekatan dengan Ritz, sebelum masuk ruangan Amalia memberikan gadis itu satu buah novel yang baru di rilis. Amalia sengaja melakukannya, agar saat meeting berlangsung nanti Ayana tidak bosan dan merengek.


...***...


Di ruangan tempat di adakannya meeting, semua karyawan begitu fokus mendengarkan apa saja yang di sampaikan atasan mereka.


Sementara di bagian resepsionis tampak ada seorang wanita yang terus saja mengamuk dan memaki kepada dua orang resepsionis.


Beberapa karyawan yang tidak sengaja melihatnya sampai berbisik-bisik, menurut mereka seperti tidak ada Etika sama sekali.


"Hey kalian berdua tau siapa saya kan? Apa kalian mau saya laporkan kalian berdua pada atasan kalian biar di pecat sekalian." Berang Maira merasa tidak terima dengan perlakuan para resepsionis


Mereka seakan tidak takut dengan ancaman Maira barusan, mana mungkin mereka berani melakukannya jika bukan atas perintah dari sang atasan.


"Sejak kapan aku harus menunggu di bawah? Sebelumnya aku bisa langsung masuk di rungan milik atasan kalian. Apa begini cara kalian memperlakukan calon istri dari atasan kalian, haa?" Marah Maira rasanya ingin mencakar habis wajah kedua wanita yang berani melarangnya naik ke lantai paling atas


Mau tak mau akhirnya wanita itu menunggu di bawah sampai Ritz selesai meeting.


Satu jam kemudian, semua karyawan keluar dari ruangan meeting di ikuti Radit dan Amalia yang berjalan lebih dulu, tersisa Ritz dan Ayana di dalam ruangan tersebut.


"Ayana sayang, janji jangan nakal ya!" Pinta Ritz memohon berharap putri angkatnya akan menurut


"Tante Maira datang kemari?" Tanya Ayana sambil memainkan hidung mancung sang Daddy


"Iya sayang, kata bagian resepsionis tante Maira lagi nunggu di bawah." Jawab Ritz dengan nada sangat lembut


"Ayana tidak suka lihat wajahnya," Ucap jujur Ayana


"Kalau Ayana tidak suka, bagaimana kalau sembunyi dalam kamar dengan Aunty Amalia. Mau tidak?" Rayu Ritz bagaikan sedang membujuk seorang anak kecil


"Mau, mau. Ayana mau main petak umpet bareng Aunty Amalia di kamar." Sahut Si cantik kesayangan Ritz

__ADS_1


Usai memberi pengertian pada putrinya, Ritz keluar dari ruangan meeting menuju ruangannya di lantai paling atas.


Pria itu sudah menghubungi Amalia lebih dulu meminta sang sekertaris menunggu di ruangannya.


Sampai di lantai paling atas, Ayana cepat-cepat masuk ke dalam ruangan sang Daddy mencari keberadaan Amalia, yang di cari ternyata sudah berada dalam kamar yang sebelumnya hanya Ayana boleh masuk, mereka bersembunyi di sana.


...****...


Ritz sudah duduk di kursi kebesaraannya sambil mengerjakan beberapa berkas yang perlu ia periksa kembali.


Tidak berselang lama terdengar suara ketukan pintu, Ritz memintanya masuk tanpa menoleh sedikitpun ke arah pintu ruangan yang sudah terbuka.


Suara manja milik sang kekasih begitu menggelitik indra pendengaran Ritz, tetapi pria itu terus fokus menatap layar laptop miliknya.


"Sayang, orang yang kamu pekerjakan di bagian resepsionis itu sebaiknya di pecat saja! Mereka berani melarangku untuk masuk ke ruangan mu." Adu Maira dengan nada di buat menyedihkan


Ritz menghentikan pekerjaannya untuk meladeni sang kekasih.


"Mereka tidak bersalah, itu sudah menjadi pekerjaan mereka. Semua tamu yang datang kemari harus menunggu di bawah sampai aku mengizinkannya untuk datang menemuiku." Sahut Ritz tegas


"Tapi kan aku ini kekasih mu, calon istri mu. Kenapa aku juga harus ikut peraturan seperti mereka?" Bantah Maira tidak terima


"Aku tidak memiliki wewenang untuk itu sekarang, sebab semuanya sudah di atur oleh Eyang. Siapapun yang datang kemari tetap harus mengikuti peraturan yang ada termasuk kamu." Jelas Ritz masih dengan nada yang pelan


Ia masih mencari tahu lebih jelas lagi perihal apa yang di katakan sang Eyang waktu itu, jika sampai benar Maira memiliki niat jahat terhadap putri kesayangannya.


.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya yang sopan ya.πŸ™

__ADS_1


__ADS_2