
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sesampainya di ruangan Presdir, yang sekarang masih di tempati sang Eyang tanpa ada niat meminta orang lain menggantikan posisi tersebut, dengan perlahan Ritz menurunkan Ayana dan mendudukkannya di sofa panjang.
Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan tersebut, mengenai Eyang pergi kemana bukanlah urusan mereka.
"Berhentilah menatap Daddy seperti itu sayang," pinta Ritz tidak nyaman.
Apa gadis itu sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang? Belum lagi tangan Ayana masih berada di dada bidang Ritz atau lebih tepatnya di bagian jantung.
Posisi seperti itu sangat membahayakan menurut Ritz, terlebih tangan mungil gadis manjanya terasa dingin.
"Singkirkan tangan mu dari situ, sayang!" titah Ritz menyingkirkan perlahan tangan mungil putrinya kemudian di genggamnya.
"Jangan menggoda Daddy," lanjutnya seraya berbisik tepat di telinga Ayana.
DEG!
Sumpah demi apa, jantung aku ngga kuat oyyy. Jerit Ayana dalam hati
Entah kenapa sikap sang Daddy yang tiba-tiba saja menjadi lembut dan hangat membuat perasaan Ayana tidak karuan.
Dia sangat hapal betul kebiasaan pria itu ketika mereka sedang bersama apalagi seperti sekarang ini.
Apa perasaan aku ajah kali yaa, tapi kali ini kayaknya beda bangat, aku seperti merasakan perubahan sikap Daddy yang lebih ke arah posesif dan apa itu tadi? Kenapa Daddy mulai overprotektif bangat, padahal aku ngga ngapa-ngapain. Cara Daddy memperlakukan ku berbeda dari biasanya, atau mungkin cuma perasaan aku ajah. Iya benar, aku yang terlalu beranggapan lebih.
Tatapan Ayana tidak lepas dari wajah pria tampan yang tertidur sembari memeluknya lumayan erat, posisinya setengah berbaring di atas sofa panjang dengan tubuh kekar sang Daddy setengah menindih tubuhnya.
Sungguh posisi yang mampu membuat orang lain beranggapan bahwa mereka bukanlah sepasang ayah dan anak, melainkan seperti pasangan suami istri.
"Ini kalau sampai di lihat Eyang, bisa bahaya." Gumam Ayana pelan nyaris tidak mengeluarkan suara
Bayangan wajah masam milik sang Nyonya besar menari-nari di benak Ayana, perihal kemana perginya waniga baya itu seungguh membuat hati dan pikirannya tidak karuan.
__ADS_1
Berkali-kali mnghubungi Devan tetap saja panggilan menunggu, bukankah seharusnya pria itu harus berada di rungan bersama Ritz dan Ayana.
...****...
Satu jam kemudian Ritz bangun dari tidurnya, terlalu nyaman berada dalam dekapan hangat gadis kesayangannya membuat pria itu lupa akan orang lain.
CUP.
Satu kecupan singkat mendarat sempurna di sudut bibir Ayana.
"Sayang," panggil Ritz dengan suara serak khas bangun tidur.
Ayana menoleh ke arah samping kiri dimana wajah tampan sang Daddy tengah menatap ke arahnya.
"Ada apa, hmm?" sahut Ayana segera melepaskan buku yang barusan dia baca.
Jari jemari lentiknya mengusap lembut pipi kiri pria itu, seolah ini hanyalah sebuah mimpi yang sewaktu-waktu bisa saja hilang.
"Sebegitu rindukah bidadari ku, ini?" goda Ritz seraya menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian.
PLAKK!!
"Aww. Sakit sayang," keluh Ritz mengusap pelan pipi kirinya yang di tampar Ayana.
Matanya menatap tajam ingin sekali menerkam gadis itu, andai dirinya tidak ingat siapa mereka dan apa status di antara keduanya.
"Daddy kebiasaan bangat kalau peluk tangannya suka khilaf," kesal Ayana akhirnya buka suara.
Lamunan Ayana langsung buyar kala merasakan sesuatu nyaris menyentuh bagian perutnya, tangan sang Daddy sepertinya mulai nakal.
"Apa sih, sayang?" tanya Ritz polos atau memang sengaja tapi enggan mengakui kesalahannya.
"Apa, apa. Mau Ayana geplak lagi pipinya, atau di mulut ajah sekalian biar ngga suka bohong lagi." Jawab Ayana sinis
__ADS_1
Ritz meringis takut melihat tatapan tajam gadis manjanya, sekarang ada satu kebiasaan baru yang pria itu ketahui dari Ayana.
Tangan mungil gadis itu mulai ringan dan berani main memukul, termasuk wajah tampannya yang menjadi sasaran empuk.
"Ponsel Daddy bunyi tuh, coba di lihat dulu! Siapa tahu sesuatu yang penting," ucap Ayana tiba-tiba.
Dengan malas Ritz bangkit dari sofa menuju meja kerja sang Eyang, segera di raihnya benda pipih tersebut sebelum deringnya terhenti.
"Hallo"
(..........)
"Bagaimana bisa secepat itu tersebar?"
(..........)
"Baiklah, terus awasi! Masalah ini jangan sampai tersebar semakin luas, gadis kecil ku baru saja pulih."
Tuttt.
...****...
Usai berbicara di telefon, Ritz kembali menghampiri putri angkatnya yang masih setia duduk bersandar di sofa panjang.
Mengenai informasi yang barusan di terimanya apakah itu kabar buruk?
Entahlah, yang jelas Ritz tidak ingin merusak mood gadis kecilnya yang tinggal beberapa hari lagi menginjak usia 18 tahun.
.
.
.
__ADS_1
πππππ
Like dan komennya yuk ramaikan.πππ€π