Daddy I Love You

Daddy I Love You
Bagimu?


__ADS_3

...☘☘☘☘...


Hampir satu jam lamanya Ritz dan Maira berbicara, tidak ada tanda-tanda ingin berakhir membuat Ayana sedikit risih dan sensitif meski percakapan kedua orang dewasa tersebut hanya seputar hal-hal biasa saja.


Di dalam kamar Ayana mondar mandir tidak karuan.


"Lama banget ya mereka bebicara," gumamnya dengan bibir mengerucut tidak suka.


"Keluar ajah sana kalau bosan nungguin mereka selesai," sahut Amalia santai.


Wanita cantik yang merupakan sekertaris kesayangan Ritz tersebut sebenarnya mendengarkan apa saja yang kedua orang itu bicarakan.


Seperti Ritz yang mencoba untuk memancing Maira berbicara mengenai masalah yang nyaris menimbulkan perselisihan antara kedua belah pihak keluarga, hingga sengaja menyebut salah satu pengusaha muda terkaya nomor dua di negara mereka.


Akan tetapi, Maira seakan lebih keras dan sangat tertutup dari yang Ritz pikirkan.


.


.


"Apa bagimu sangat menyenangkan bermain-main dengan perasaan seseorang?" tanya Ritz ingin menguji sampai di mana wanita cantik itu bertahan.


Maira yang semula fokus pada ponselnya, kini beralih menatap penuh tanya ke arah pria tampan yang sedari tadi terus berbicara penuh teka teki terhadapanya.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa lagi itu Ritz? Belum puas kah dari tadi semua topik pembicaraan kita keluar dari apa yang sebenarnya ingin aku bicarakan dengan mu?" sahut Maira balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan yang di tujukan padanya.


Habis sudah kesabarannya sedari tadi mencoba untuk tetap diam dan tenang meski jauh di dasar hatinya ingin berteriak dan mengatakan semuanya tanpa harus ada yang di tutupi.


"Jangan memojok kan ku dengan semua pertanyaan yang pada akhirnya kamu sendiri tidak akan pernah medapatkan jawabannya sama sekali," peringat Maira sedikit tidak nyaman terus di sudutkan.


Ritz tersenyum miring seraya kedua alisnya nyaris bertautan, semua yang di perlihatkan wanita cantik di hadapannya itu sangat jauh berbeda dengan Maira yang dulu ia kenal begitu baik dan selalu terbuka padanya apapun itu termasuk ketidak sukaannya terhadap Ayana.


"Kembalilah! Percuma kamu datang jika hanya akan membuat suasana di antara kita semakin dingin, lagi pula aku tidak berniat makan siang di luar. Hari ini jadwal ku sangat padat dan tentu harus cepat pulang tepat waktu," ucap Ritz segera bangkit dari sofa yang di dudukinya.


Langkah kaki panjangnya berjalan menuju meja kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum sama sekali ia sentuh, duduk di kursi kebesarannya kemudian membuka laptop yang barusan pria itu ambil dari dalam tas.


Maira yang melihat respon tidak bersahabat Ritz sontak mengepalkan kedua tangannya yang terletak di atas paha.


Sekuat tenaga berusaha menguatkan diri sendiri meski rasanya ingin sekali menangis dan berteriak, satu-satunya yang Maira pikirkan adalah nama sang pujaan hati yang juga merupakan ayah dari bayi dalam kandungannya.


"Maafkan aku, bila kedatangan ku kemari justru hanya membuat mu merasa tidak nyaman dan tenang." Ujar Maira seraya bangkit dari tempat duduk


Wanita itu berusaha tersenyum manis walau jiwa dan raganya begitu tersiksa, bagaimana pun pria tampan yang kini berada tepat di hadapannya masih lah berstatuskan kekasihnya. Atau lebih tepatnya calon suami, sebab acara lamaran yang sempat tertunda kabarnya akan di adakan dalam waktu dekat ini.


"Aku pergi dan selamat bekerja," sambung Maira langsung berpamitan meski tidak sama sekali di hiraukan oleh Ritz.


Di rasa pintu ruangan seakan di buka oleh Maira dan kembali di tutup, sekitar beberapa menit berlalu baru Ritz mau mengangkat wajahnya.

__ADS_1


Ada gurat sedih dan kekecewaan terpancar jelas dari wajah tampan pria itu yang kini matanya sudah memerah menahan air mata tidak keluar.


"Tanpa kamu sadari bila hubungan yang di bangun berawal dari sebuah kebohongan pada akhirnya akan tetap di selesaikan dengan kebohongan yang lain juga," gumam Ritz lirih tersirat akan luka yang cukup besar di dalam hatinya.


Siapa yang akan menyadari bila selama ini wanita yang sangat ia sayangi dan cintai rupanya memiliki maksud buruk, dan dengan bodohnya ia percaya bahkan sedikit pun tidak merasa curiga.


.


.


"Setiap orang memiliki masalah yang mungkin bagi kita sangatlah buruk, tetapi belum tentu bagi mereka." Seru si cantik yang baru saja keluar dari dalam kamar


Senyum manis dan penuh kehangatan tergambar jelas di wajah cantiknya yang kebetulan tanpa polesan make up sama sekali, Ritz yang melihatnya pun tidak mampu mengalihkan tatapan matanya.


Ayana berjalan mendekat le arah meja kerja sang Daddy sembari membawa satu bungkus cemilan pedas manis, sedetik kemudian Amalia ikut keluar dari kamar namun wanita cantik kesayangan Ayana itu memilih undur diri menuju ruangannya sendiri.


"Aunty pergi dulu ya," pamit Amalia masih sempat mencium kedua pipi Ayana.


"Tolong hibur Daddy mu ya sayang! Hari ini akan ada banyak orang yang jadi korban jika suasana hatinya dalam keadaan buruk," lanjutnya seraya berbisik pelan takut jangan sampai di dengar oleh Ritz.


Gadis cantik tersebut mengangguk paham, di rasa sekertaris Amalia sudah keluar dari dalam ruangan milik sang Daddy, barulah Ayana kembali fokus menenangkan pria tampan kesayangannya.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2