
Ayana tidak protes apalagi banyak tanya setelah tubuh mungilnya sudah berpindah tempat ke atas ranjang, masih dalam posisi diam tanpa suara Ritz berjalan pelan menuju lemari pakaian.
Tangan pria itu langsung meraih Dress warna putih dengan lengan pendek yang panjangnya sebatas lutut di berikan pada Ayana untuk di kenakan.
"Ganti lagi Dad?" heran gadis itu antara bingung dan tidak percaya.
"Sebelumnya udah tiga kali ganti loh, Daddy." Rengeknya manja tidak lagi menuruti permintaan Ritz
"Ganti ya, Daddy janji ini yang terakhir. OK?" rayu Ritz seraya membantu gadis kesayangannya bersiap-siap.
Niat hati ingin keluar jalan-jalan, siapa sangka pertemuannya dengan seorang pria bernama Kenzi ternyata di majukan.
Dari isi pesan yang beberapa menit lalu di kirim Maira, tertulis harus membawa serta Ayana tanpa penolakan atau menerima alasan apapun itu.
Ritz menghela nafas panjang, usai membantu Ayana berganti pakaian. Resiko yang ia ambil lumayan menguji adrenalin, tidak ada satu pun dari gadis itu yang terlewat dari pandangannya.
"Haiss, Ayana tidak ada lagi muka di hadapan Daddy." Cebik si cantik menatap kesal kearah pria tampan kesayangannya itu
"Lagi pula, Daddy ngga apa-apain kamu." Sahut Ritz membela diri
"Cuma liatin doang boleh kan?" godanya seraya tersenyum jahil.
Ayana malu, ingin marah tapi hatinya ngga tegaan.
"Dasar Mesyum," teriaknya langsung berlari keluar dari kamar menuju lift.
"Hey, kenapa Daddy pakai di tinggal sih?" gemas Ritz ikut keluar dari kamar menyusul sang kekasih hati.
Pria tampan itu segera masuk ke dalam lift sebelum pintunya kembali tertutup rapat.
Tring
Sesampainya di lantai bawah, keduanya langsung di sambut dengan berbagai macam pertanyaan dari anggota keluarga.
Ritz yang malas sebenarnya menanggapi bergegas pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu, bunyi notifikasi yang masuk sejak tadi mengganggu ketenangannya.
Sebuah mobil terlihat menunggu di halaman depan rumah, dengan langkah kaki cepat pria itu membawa Ayana dalam gendongannya tanpa menghiraukan teriakan gadis itu karena terkejut.
Di dalam Mobil, Ayana tidak hentinya mengoceh. Semua cara telah di coba, berharap Ritz mau menjelaskan kemana tujuan mereka pergi.
"Ya ampun, pengen banget gigit orang." Teriak Ayana kesal sembari melirik tajam kearah pria tampan di sampingnya tersebut
"Gigit yang lain ajah mau?" goda Ritz sengaja mendekatkan bibirnya sendiri.
Punggung Ayana refleks mundur ke belakang sampai mentok di sandaran kursi.
"Daddy apa-apaan sih? Minggir ngga!" panik gadis itu mulai berkeringat dingin.
__ADS_1
"Jangan macam-macam, Dad."
"Cuma satu macam," sahut Ritz tersenyum menyeringai.
Ia sangat suka melihat raut wajah panik Ayana, begitu menggemaskan dan rasanya ingin menerkam gadis itu sekarang juga.
Ciuman lumayan lama pun mendarat sempurna di bibir mungil kemerahan gadis itu, yang rasanya selalu manis dan memabukkan.
"Cukup Daddy!" protes Ayana marah.
"Halalin dulu baru main nyosor sembarangan," Imbuhnya setengah mengejek.
Tawa Ritz pecah, tidak lagi mengganggu sampai mereka tiba di tempat tujuan sesuai alamat yang belum lama di kirim Maira.
Dari arah jauh, tampak sepasang kekasih berjalan pelan menuju kearah mobil yang terparkir di lobi pusat perbelanjaan.
Maira datang menghampiri bersama Kenzi yang salah satu tangannya begitu setia menggenggam jemari lentik wanita itu. Seakan pertemuan mereka bukan lagi untuk saling memperebutkan kekasih, tetapi ingin menunjukkan siapa yang lebih dulu bersama.
Tatapan mata Ayana begitu lekat memperhatikan Kenzi mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, tidak ada yang tertinggal apalagi penampilan pria itu sungguh di luar ekspetasi.
Ritz yang menyadari tatapan usil gadis manjanya itu hanya tersenyum dengan kepala menggeleng pelan, ia biarkan Ayana mendekati dua orang dewasa yang tersenyum kearah mereka.
"Hallo, Tante Maira dan ..." sapa Ayana terhenti
Dia lupa siapa pria yang bersama Maira.
Kenzi yang awalnya terdiam saking kagetnya melihat gadis cantik bertubuh mungil di samping Ritz langsung tersadar.
"Oh. Perkenalkan nama saya, Kenzi." Jawabnya seraya mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman tetapi dengan cepat di tepis Ritz
"Anda terlalu berlebihan Tuan Alfa," protes Kenzi merasa tidak terima mendapat perlakuan seperti itu.
Ritz yang terlalu posesif menatap dingin kearah pria itu, ia paling benci miliknya di usik apalagi itu tepat di depan matanya sendiri.
Suasana yang mulai tidak bersahabat, segera di amankan Maira yang semula hanya diam tanpa ikut campur.
"Sebaiknya kita langsung ke lantai atas," ucapnya seraya menarik lengan Kenzi agar berhenti menatap tidak suka kearah Ritz.
"Aku ingin memukul wajah sok tampannya itu," geram Kenzi tidak peduli tatapan mata sang kekasih begitu tajam seolah mengancamnya.
Tidak ada percakapan selama berada dalam lift menuju lantai empat yang menjadi pilihan si cantik Maira untuk bertemu.
Jantung wanita itu berdetak sangat kencang, antara takut dan khawatir bagaimana jika pertemuan mereka tidak berlangsung dengan baik.
Meski sudah berulang kali mengingatkan Kenzi agar tidak berulah pada saat pertemuan, belum apa-apa kekasihnya itu sudah membuat kepalanya sakit.
Tring
__ADS_1
Lift sampai di lantai empat, semua melangkah keluar menuju privat room yang sengaja di siapkan.
Seorang pelayan yang berdiri di depan pintu langsung mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan, semua telah di sediakan termasuk beberapa pesanan Maira yang khusus di berikan pada Ayana sebagai hadiah ulang tahun yang bisa di bilang sangat terlambat.
"Wah, banyak sekali." Seru Ayana berjingkrak senang mendapatkan hadiah sangat banyak dari Maira
"Ini buat Ayana semua, Tante?" tanyanya hanya di balas anggukan kepala oleh wanita cantik itu.
Senyum bahagia terukir indah di bibir Maira, tampak jelas tatapan matanya yang teduh memperhatikan gerak gerik Ayana seolah tidak ada kesedihan atau beban terlihat disana.
Kenzi akhirnya diam tidak lagi mempermasalahkan kejadian sewaktu di lobi parkiran, baginya yang paling penting adalah kebahagiaan sang kekasih.
Pertemuan mereka berlangsung baik, kedekatan Maira dengan Ayana rupanya di luar perkiraan kedua pria tampan yang semula berpikir akan timbul masalah atau perdebatan sengit hanya karena masalah yang belum ada jalan keluarnya.
Ayana sangat bahagia melihat perut Maira yang sedikit membuncit, usia kehamilan wanita itu sudah memasuki bulan ketiga.
Dan kabarnya, rencana pernikahan akan di laksanakan secara tertutup dalam waktu dekat. Semua Kenzi lakukan demi melindungi bayi yang tidak ada kaitannya dengan masalah yang sampai detik ini belum menemukan solusinya.
"Tolong bantu aku kali ini saja, Ritz!" Mohon si ibu hamil pada pria tampan yang duduk tepat di samping Kenzi.
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tapi Kenzi sangat berarti untuk ku. Hanya dia yang aku punya, tolong Ritz!"
Maira sangat tertekan dengan keinginan sang Papa tanpa menghiraukan perasaannya selama ini, belum lagi kehamilannya yang tidak pernah terbayangkan bisa terjadi sebelum adanya pernikahan, jelas merupakan sebuah AIB baginya.
Melihat kediaman Ritz tidak memberi jalan keluar apapun, dengan berani Ayana mengutarakan isi pikirannya.
"Daddy iyain ajah napa sih?" gemasnya yang sedari awal percakapan hanya diam memperhatikan.
"Kasihan Tante Maira, lagian ada Paman Kenzi yang akan melindunginya juga kan?" heran Ayana sejujurnya masih bingung.
"Ngga semudah itu sayang," jawab Ritz lembut seraya mengusap sayang pipi kanan sang kekasih.
"Kenapa?"
"Perjanjian di antara kami belum berakhir sayang, mana boleh mereka langsung menikah sementara Eyang sendiri belum mengeluarkan pernyataan apapun pada media." Ritz tidak ingin mengambil resiko tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu
Perdebatan terus berlangsung sampai Kenzi dan Maira harus rela menjadi penonton setia bagaimana keras kepalanya seorang Ayana ketika pendapatnya tidak sesuai dengan isi pikiran Ritz.
"Raa," panggil Kenzi setengah berbisik.
"Hmm, apa?" sahut Maira tanpa menoleh kearah pria itu.
"Itu mereka kalau sampai menikah, kira-kira pas anak mereka lahir ikut siapa kelakuannya? Baru di lihat ajah sudah bikin aku pusing." Jawab Kenzi sambil terkekeh
"Yang jelas bukan ikut kita berdua."
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1