
...🍁🍁🍁🍁...
"Yakin ngga mau ketemu sama Bibi Cantik, mumpung orangnya masih di sini loh, Dek" goda Amalia sembari tertawa gemas melihat raut wajah masam milik Ayana.
Tepat beberapa menit yang lalu gadis cantik kesayangan Ritz itu merengek ingin menemui sang Daddy yang berada dalam ruangannya, tetapi mengetahui jika masih ada seorang wanita cantik yang di panggilnya Bibi Cantik tersebut di sana membuat Ayana malah mengurungkan niatnya.
"Sebentar lagi bakal jadi Nona Muda Mahestra, masa iya harus malu ketemuan dengan ibu kandung sendiri." Gemas Amalia ingin sekali menggigit habis pipi chubby gadis kecil nan manja di hadapannya tersebut
Ayana mengerucutkan bibirnya tidak suka bila dia mendapat julukan Nona muda oleh wanita cantik kepercayaan sang Daddy.
Sebab, yang dia ketahui masih ada masalah lain yang jauh lebih penting di bandingkan siapa dirinya dan apa identitas aslinya selain hanya seorang anak yang di besarkan di panti asuhan, selama kurang lebih 10 tahun lamanya sebelum kini statusnya berubah menjadi putri angkat dari pewaris tunggal Mahendra Group.
"Jangan langsung menyimpulkan siapa Ayana bagi Bibi Cantik itu, Aunty" ucap Ayana sembari mengatur debaran jantungnya.
"Loh, memang wanita cantik itu merupakan ibu kandung Adek bukan?" heran Amalia bertanya, seharusnya gadis cantik itu merasa bahagia pada akhirnya mengetahui keberadaan salah satu orang tuanya.
"Mungkin benar dan bisa saja ada kesalahan yang tidak tahu apa itu," jawab Ayana sebenarnya hanya menerka-nerka saja.
Terbiasa menjalani kehidupan serba ada dan mendapat limpahan kasih sayang dan juga perhatian dari Ritz beserta anggota keluarganya menjadikan Ayana seakan tidak kekurangan apapun.
Itu sebabnya ketika satu kebenaran mengenai salah satu orang tuanya terungkap, respon gadis cantik itu malah terlihat seperti biasa saja.
Apa mungkin karena faktor menjadi dewasa belum pada waktunya yang mendorong pola pikir Ayana semakin terbuka dan penuh dengan banyak pertimbangan.
"Sekarang, belum waktunya untuk bahagia dan bersyukur karena pada akhirnya Ayana bisa menemukan siapa ibu kandung Ayana setelah 18 tahun menjalani hidup tanpa tahu di mana kedua orang tua Ayana berada selama ini. Nyatanya masih ada sosok ayah kandung yang belum tahu pasti bagaimana kondisinya sekarang," sambung gadis cantik itu mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.
Belum sempat Amalia membalas, tiba-tiba terdengar suara pintu ruangannya di ketuk lumayan kuat dari luar.
__ADS_1
"Siapa itu Aunty?" tanya Ayana penasaran bercampur panik.
"Bukan Bibi Cantik kan? Atau itu Daddy? Jangan bilang kalau Ayana di sini. OK" tambahnya langsung bangkit dari tempat duduk dan bersembunyi di dalam kamar pribadi milik Amalia.
Tidak ingin membuat orang di luar ruangannya menunggu lama, segera Amalia menuju arah pintu untuk membukanya.
.
.
CEKLEK!
"Ada ap,,"
BUGHH!
"Buset kalau masuk izin dulu dong pak Bos," pekik Amalia begitu geram melihat Ritz masuk ruangannya tanpa permisi.
Sangat jelas terlihat raut wajah panik bercampur khawatir Ritz kala memasuki ruangan milik sang sekertaris tersebut.
"Di mana gadis kecil ku?" seru Ritz menanyakan keberadaan Ayana.
"Dia tidak kesini." Jawab Amalia dengan nada serius dan terkesan dingin
"Jangan membohongi ku, Amalia" tekan Ritz menatap tajam ke arah wanita cantik tersebut.
"Sekalipun dia ada di sini jangan harap pak Bos melihatnya," balas Amelia sengaja menantang pria tampan selaku atasannya itu.
__ADS_1
"Andai pak Bos mau sedikit saja memberikan ruang untuk mereka, kejadian seperti tadi tidak mungkin terjadi." Lanjut Amalia marah
Menjadi sosok yang bertanggung jawab dalam menangani Ayana bukanlah perihal yang mudah, Amalia tentu bisa marah kapan saja andai terjadi sesuatu pada gadis cantik itu terlebih sekarang begitu banyak masalah yang menimpa keluarga atasannya itu.
Apa yang di perdebatan oleh dua orang dewasa tersebut sedari tadi di perhatikan Ayana, kebetulan pintu kamar sengaja di bukanya sedikit.
"Aww, pengen banget lari keluar buat peluk Daddy" cicit Ayana penuh kerinduan dari balik pintu kamar.
Rasa rindunya semakin besar kala melihat sosok tampan itu memasuki ruangan milik Amalia.
"Tahan Ayana, belum waktunya kalian bertemu"
.
.
Ritz yang mulai kesal terus berdebat dengan Amalia, sontak mengalihkan pandangannya menatap ke arah satu ruangan yang belum ia periksa.
Tap tap tap.
Derap langkah kaki panjang Ritz mengayun dengan sempurna menuju satu pintu yang terletak tidak jauh dari lemari buku.
"Aduh gawat, kenapa Daddy harus pake datang kemari juga sih" panik Ayana dengan gerakan cepat berlari masuk dan bersembunyi di dalam lemari pakaian milik Amalia.
"Aku belum siap jika harus ketemu Daddy sekarang," gumamnya lirih seraya menutup rapat mulutnya menggunakan kedua tangan.
Suara pintu kamar yang di buka oleh Ritz semakin menambah kecepatan detak jantung Ayana saking paniknya dan tidak ingin menemui pria tampan itu.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃