
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
****
Saya tidak akan melarang anda ingin bertemu dengan Ayana kapan pun itu, tetapi ingat bahwa saat ini posisi anda bukanlah siapa-siapa bagi Ayana. Jangan melewati batasan anda meski status anda jelas adalah ibu kandungnya sendiri. Ingatlah ini baik-baik!
...πΎ...
Sebelum Ayana kembali dari toilet, Ritz sengaja memberi ruang bagi wanita cantik yang sejak dirinya dan Ayana keliling mall tadi sudah mengikuti kemanapun mereka pergi.
Memang belum saatnya bagi ibu dan anak tersebut untuk saling bertemu, mengingat kondisi Ayana belum sepenuhnya di nyatakan sembuh jika belum melakukan pemeriksaan kembali oleh Devan.
Akan tetapi, Ritz bukanlah pria kejam yang tega menjauhkan keduanya. Setidaknya wanita itu masih bisa di ajak kerja sama dan berjanji tidak akan melampaui batas selama itu bukan permintaan yang konyol.
...****...
Suasana mencekam mulai di rasakan Alfi yang duduk tenang di samping Syifana, sikap dingin yang di tunjukkan Ritz menandakan bahwa kedatangan mereka rupanya bukan di waktu yang tepat.
Hal itu membuat wanita cantik yang duduk di sampingnya sedikit tertekan, terlebih kalimat yang beberapa menit lalu di ucapkan Ritz telah menyakiti perasaan Syifana.
Dengan sedikit keberanian wanita itu mencoba berbicara dengan Ritz, berharap ada sedikit rasa iba timbul di hati pria itu.
Syifana menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.
"Tuan Ritz," panggil Syifana pelan seakan sulit lidahnya sekedar mengeluarkan kata-kata.
Alis Ritz hampir menyatu seraya menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan wanita itu.
.
.
.
__ADS_1
"Tidak bisakah aku bersamanya walau sehari?" tanya Syifana lirih, meminta waktu ingin bersama dengan putrinya.
Ritz tersenyum masam mendengar sebuah permintaan yang mungkin tidak akan pernah terjadi.
"Anda jangan melewati batas Nyonya Syifana, sebab sampai kapanpun saya tidak akan pernah memberikan waktu yang banyak untuk kalian saling bertemu." Jawab Ritz datar tanpa ada senyuman sama sekali
Apa ucapannya beberapa waktu lalu hanya di anggapnya remeh? pikir Ritz
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Qia, sebegitu sulit kah permintaanku ini?" bantah Syifana.
Hati wanita itu sangat sakit mendapat penolakan keras dari pria yang selama ini menjadi sosok terpenting putrinya.
Bukan Ritz namanya bila tidak membuat siapa saja tertekan dengan keputusan yang ia ambill.
"Jaga sikap Anda, Nyonya! Masalah kita belum selesai, saya harap anda bisa bersabar lebih banyak lagi sampai semuanya kembali seperti semula." Tekan Ritz, seolah ucapannya tidak ingin di bantah
"Kalian masih bisa bertemu kembali, tapi ada waktunya." Lanjut pria itu masih dengan sikap dinginnya
"Dadd,,,," panggil Ayana setelah sampai di depan pria itu tanpa memperhatikan keadaan sekitar, termasuk keberadaan Syifana dan sang asisten.
Ritz tersenyum hangat menyambut pelukan dari gadis manjanya.
"Ada apa, hmm?" tanya Ritz lembut sambil mengusap pelan punggung sang putri.
"Perut Ayana sakit, hiks."
Si cantik yang merasakan sakit di bagian bawah perutnya seolah melupakan semuanya.
"Tamu nya sudah datang?" tanya Ritz berbisik.
Hanya anggukan kepala yang di berikan Ayana ketika Ritz kembali bertanya, dia tidak tahan dengan rasa sakit atau lebih tepatnya rasa nyeri di bagian perut yang kini mulai menjalar sampai ke pinggang.
Tanpa basa basi Ritz bangkit dari tempat duduk masih dengan posisi Ayana dalam pelukannya.
__ADS_1
Tubuh mungil gadis itu langsung di gendong setelah membayar pesanan, sementara Syifana ikut di buat bingung melihat jeritan sang putri seperti menahan sakit.
"Tuan Ritz," panggil Syifana khawatir, namun isyarat tangan pria itu mengurungkan niatnya yang hendak mendekat.
"Maafkan saya, sepertinya pertemuan ini harus segera berakhir mengingat kondisi gadis ku tidak memungkinkan." Ucap Ritz dengan suara pelan
"Temui saya di perusahaan besok sebelum jam makan siang! Ada beberapa hal yang harus kita bicaraan," lanjutnya kemudian berlalu pergi meninggalkan area restoran tanpa menunggu jawaban dari Syifana.
Alfi memilih diam tanpa berani buka suara, ia tahu betul bagaimana perasaan sang majikan sekarang.
"Alfi," panggil Syifana tanpa menoleh.
"Iya, Nyonya." Sahut pria itu masih dalam posisi berdiri tegap di belakang Syifana.
"Tidak jadi, sebaiknya kita kembali ke rumah sebelum orang-orang itu mengetahui keberadaan ku."
Syifana berjalan sedikit cepat keluar dari area Restaurant, bayangan beberapa orang suruhan suaminya kembali terlintas.
Memilih kabur dan menghindar adalah jalan yang benar.
Sampai kapan aku terus bersembunyi, bahkan sekedar bertemu dengan putri ku saja begitu sulit. Bathin Syifana
.
.
.
ππππ
Maaf ya baru bisa up lagiπ
So, beberapa hari ini kesehatan Author menurun drastis, mau nulis tapi otak susah mikir.π
__ADS_1