
...💕💕💕💕...
Sehari setelah kembalinya keluarga Mahendra dari Australia, tepat hari kedua Ritz mulai masuk kantor dengan membawa Ayana sekaligus, meski si cantik kesayangannya itu menolak untuk ikut ke perusahaan.
"Ngga ada penolakan apapun alasannya, paham?" tegas Ritz mutlak tidak mengizinkan Ayana pergi keluar bersama sahabatnya yang bernama Letta.
"Daddy kenapa sih semakin kesini malah jadi posesif banget, Ayana cuma pergi ke toko buku dekat kampus doang ngga bakalan kemana-mana." Kesal Gadis cantik yang hari ini terlihat begitu manis mengenakan dress selutut warna biru laut
Niat hati ingin jalan-jalan bersama sang sahabat pupus sudah hanya karena tingkat keposesifan pria tampan kesayangannya tersebut.
"Jangan membantah sayang, cobalah untuk menurut kali ini saja. OK!" Ucap Ritz masih tetap pada keputusannya
Bukan tanpa alasan pria tampan yang memiliki paras nyaris sempurna itu menolak keinginan gadis kecilnya keluar, hari ini ada seseorang yang akan datang di perusahaan untuk bertemu dengannya.
"Ok, Ayana ikut Daddy sekarang. Tapi dengan syarat kemana pun Daddy pergi Ayana harus ikut, gimana?" tawar Ayana sengaja mempersulit pria tampan pujaan hatinya itu.
Tanpa ragu-ragu Ritz langsung menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
"Apapun untuk mu, Baby" jawab Ritz dengan senyum menghiasi wajah tampan miliknya.
Dalam hati pria itu bersorak gembira telah berhasil membuat Ayana ikut ke perusahaan tanpa gadis cantik itu sadari bila kehadirannya bisa saja menimbulkan percikan api.
...****...
Usai sarapan bersama, setelah berpamitan Ritz dan Ayana menuju mobil yang sudah menunggu mereka di halaman rumah.
__ADS_1
Kereta besi itu melesat dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju perusahaan, tidak ada yang di lakukan kedua anak manusia yang berada dalam mobil duduk di kursi bagian penumpang selain sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Sesekali sang sopir melirik ke arah belakang melalui kaca spion guna memastikan keadaan Tuan mudanya dan si cantik kesayangan keluarga Mahendra.
.
.
Semalam aku sempat dengar Daddy lagi ngomongin sesuatu yang penting dengan paman Radit, kalau ngga salah hari ini akan ada tamu yang datang ke perusahaan. Tapi siapa? Bathin Ayana penasaran
Ingin bertanya tapi gadis itu takut bagaimana kalau itu orang yang penting dan bersifat privasi.
Ritz yang kebetulan sedari tadi memperhatikan gerak gerik Ayana begitu penasaran dengan apa yang ada di dalam otak gadis kecilnya itu.
Sampai tiba di perusahaan keduanya masih dalam posisi diam, mobil yang sudah berhenti di parkiran belum menyadarkan Ritz dan Ayana dari lamunan.
"Terima kasih paman," sahut Ritz bersiap keluar dari mobil setelah di rasa semuanya rapih.
Ayana turun melalui pintu yang sama dengan sang Daddy, ada begitu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
"Berasa kayak artis ya Dadd," kekeh Ayana merasa lucu dengan tatapan beberapa karyawan di area parkiran.
"Mereka kaget mungkin lihat Ayana sekarang makin lebih cantik dan dewasa dari sebelumnya," balas Ritz acuh dengan langkah kaki panjangnya namun terkesan santai karena ada Ayana ikut berjalan beriringan bersamanya.
Keduanya masuk ke dalam lift khusus menuju lantai paling atas di mana ruangan sang Presdir berada.
__ADS_1
.
.
TRINN!
Baru saja pintu lift terbuka, suara nyaring seorang wanita yang pertama kali di dengar oleh Ayana dan Ritz.
Siapa lagi kalau bukan Adinda Maira atau wanita cantik yang biasa di panggil Maira ternyata sudah berada di depan pintu ruangan Ritz beserta Radit dan Amalia, bisa di pastikan jika kedua orang kepercayaan Ritz tersebut sedang berusaha mencegah Maira agar tidak seenaknya masuk di ruangan milik sang Presdir.
Si cantik yang sempat terkejut menatap horor ke arah wanita cantik yang sampai detik ini masih memiliki status penting dengan pria pujaan hatinya.
Genggaman tangannya di jemari Ritz semakin kuat membuat sang empu sampai meringis kesakitan.
Sebuah ciuman sayang mendarat sempurna di dekat bibir mungil Ayana tanpa di ketahui Maira.
"Masuk kamar dan jangan nakal, OK!" bisik Ritz tepat di dekat telinga gadis kecilnya.
"Cih, Ayana yakin pasti bakal ada Drama yang basi lagi seperti yang sudah lalu-lalu itu." Cebik Ayana sinis seolah mengibarkan bendera perang ke arah Maira
Ritz hanya mampu menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, begitu sulit baginya membuat kedua wanita di hadapannya kini saling berdamai.
"Dia sedang hamil sayang, hanya kamu yang berhak memiliki Daddy sampai kapan pun itu. PAHAM?" lanjut Ritz berusaha meyakinkan hati gadis kecilnya.
"Hmm, jangan coba-coba Daddy sentuh wanita itu apalagi mencium atau memeluknya. Awas saja kalau ketahuan Daddy nakal," tegas Ayana setengah mengancam
__ADS_1
Merasa tidak ada lagi yang harus gadis itu bicarakan, dari pada melihat Drama basi dari Maira lebih baik dia masuk ke dalam kamar pribadi milik sang Daddy kemudian menguncinya rapat, tidak lupa membawa Amalia ikut serta.
🍃🍃🍃🍃