Daddy I Love You

Daddy I Love You
Sedikit Sibuk


__ADS_3

...💕💕💕💕...


"Singkirkan pikiran kotor mu itu, Radit." Cebik Amalia seolah tahu akan isi pikiran adik sepupu dari Bos nya tersebut


Lama bekerja di perusahaan milik Rendra Group dengan status jabatan sebagai sekertaris kepercayaan Ritz, bukan lagi hal baru bagi Amalia bila melihat sisi kejahilan yang di miliki Radit.


Semua yang berada di dalam keluarga besar Mahendra hampir sepenuhnya di ketahui wanita itu, termasuk bagaimana over protektifnya Ritz bila sudah menyangkut gadis kecilnya.


"Lo diam ajah deh, ngga usah tegur gue." Kesal Radit menatap malas ke arah kursi samping kemudi


"Cih, berlaga banget so keren. Emang lo pikir barusan gue ngga tahu apa isi dalam otak lo itu, jangan kira gue diam tapi ngga perhatiin gerak gerik lo, yaa." Sahut Amalia tak kalah ketus


Seringai kecil tercetak jelas di bibir tipis pria tampan tersebut.


"Emang apa yang gue pikirin?" uji Radit sengaja memancing tanpa peduli di mana mereka saat ini.


Perang adu mulut sudah biasa sering terjadi di antara kedua orang dewasa tersebut.


"Idih, sok kepedean mau mancing gue segalah." Cibir Amalia kelewatan pintar membaca situasi


Mana mau dia mendapat siraman rohani dari sang Bos andai salah berucap, terlebih sekarang mereka masih berada dalam mobil menuju Restaurant untuk makan siang bersama.


"Lah kan gue nanya Maimuna," balas Radit tak mau kalah sengaja ingin memanas manasi.


"Gue punya nama yang cantiknya masya Allah begini, malah lo panggil Maimuna?" cicit Amalia tidak terima di panggil menggunakan nama lain.


"Suka-suka gue mau manggil apa ajah bukan urusan lo dasar cabe rawit." Kata Radit lumayan keras sampai membuat kedua orang di kursi bagian belakang menutup telinga dengan rapat


Telinga Amalia mulai memanas dengan tanduk kecil di kepalanya.


"Mau gue sumpel pakai cabe beneran biar mulut lo ngga asal manggil nama orang?" pekik Amalia sudah terpancing emosi.


"Sorry, bibir gue terlalu mahal untuk lo cium, atau mau gue cium sekalian?" jawab Radit kelewatan blak blakan


Mata Amalia melotot sempurna mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut pria itu.


"Kyaaa, dasar kodok jelek mesum ngga tahu malu." Teriak Amalia sembari memukul kuat lengan kiri Radit menggunakan tas mahal miliknya


BUGHH,,


BUGHH,,


"Aw, aw sakit." Adu Radit ketika lengannya mulai merasakan sakit


"Gue ngga peduli, dasar kodok jelek, mesum ngga tahu malu. Maksud lo apa bilang kayak gitu?" geram Amalia masih setia memukuli pria tampan tersebut.


Satu menit,


Dua menit,

__ADS_1


Tiga menit,


Hingga lima menit lamanya Radit masih bersabar. Akan tetapi, semakin kesini ia mulai merasakan sakit.


.


.


"Stop AMALIA!" sentak Radit mulai kehilangan batas kesabaran.


Ritz yang menyadari perubahan nada bicara sang adik memilih tetap diam sambil mendekap erat tubuh mungil gadis kesayangannya.


Biarkan mereka berulah asal jangan sampai mengganggu ketenangan Ayana.


Beruntung gadis cantik itu tertidur begitu pulas dalam pelukan hangat sang Daddy, aroma mint dan maskulin milik pria kesayangannya membuat Ayana tidak terganggu dengan perdebatan kedua anak manusia tersebut.


.


.


"Lo mau kita semua celaka, haaa?" berang Radit sedikit emosi.


Ehhemm.


DEG!


Suara deheman lumayan keras dari Ritz mampu membungkam mulut Radit juga Amalia.


...****...


Amalia sengaja keluar mobil lebih dulu tanpa ada niatan menegur siapa pun, kekesalannya masih ada sampai sekarang.


"Sebentar kak," ucap Radit keluar dari dalam mobil menuju pintu bagian belakang.


Klekk!


Saat pintu terbuka lebar, dengan hati-hati Ritz membawa gadis kecilnya keluar dari mobil tanpa ada niat membangunkannya.


Ia sangat tahu bagaimana kebiasaan Ayana bila tidurnya sampai terusik, tetap membiarkan gadis itu tidur menurut Ritz jauh lebih enteng bila di gendong masuk ke dalam Restaurant.


"Ckck, ini sih namanya tidur kelewatan nyaman." Kekeh Ritz sedikit lucu melihat wajah damai Ayana seolah tidak terganggu sama sekali


Beberapa pengunjung yang menatap ke arah Ritz mulai berbisik-bisik, ada yang tersenyum manis dan ada juga yang bersorak tidak percaya bisa melihat satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan milik Rendra Group berada di Restaurant tempat mereka makan.


"*Astaga tampan sekali,"


"Mama, ada calon mantu mu di sini."


"Gantengnya suami, aku."

__ADS_1


"Idih, siapa lagi tuh yang di gendong mas suami?"


"Sungguh sempurna ciptaan mu, Tuhan*."


Dan masih banyak lagi.


...****...


Ayana menggeliat kecil merasakan usapan lembut di bagian pipi, perlahan matanya terbuka dan mendapati wajah tampan Ritz tengah tersenyum sangat manis ke arahnya.


"Hay Bayi Beruang Ayana." Sapanya dengan suara serak khas bangun tidur


CUP!


Satu kecupan mendarat sempurna di kening gadis itu.


"Apa begitu nyaman tidur dalam pelukan Daddy, hmm?" tanya Ritz penuh sayang.


"Mmm, detak jantung Daddy jauh lebih menenangkan di bandingkan suara nyaring kedua monyet yang berantem." Jawab Ayana tertawa lepas


Gadis cantik itu tengah menyindir dua anak manusia yang selama perjalanan tidak ada hentinya saling berdebat.


"Monyet?" tanya Ritz pura-pura bingung.


"Yaa, itu loh Dadd. Si hewan yang hobinya teriak-teriak kalau ngga di kasih makan," kekeh si cantik tidak peduli dengan dua anak manusia yang duduk tepat di hadapannya.


Betapa Ayana sangat kesal melihat kedua orang kepercayaan Daddy nya malah bertengkar di mobil, bukan baru kali ini dirinya menyaksikan Radit dan Amalia seperti itu, bisa di hitung mungkin hampir setiap kali mereka pergi keluar makan siang bersama ada saja hal menyebalkan yang terjadi.


Tidak berselang lama pelayan datang membawa makanan hasil pesanan Amalia, soal makan siang tentu saja wanita itu lebih paham apa saja yang di sukai ketiga orang di hadapannya.


Mereka makan siang dengan tenang sesekali di barengi obrolan ringan seputar masalah pekerjaan.


Satu jam kemudian semua makanan di atas meja tandas habis tak tersisa, Amalia kembali memesan satu porsi pencuci mulut kesukaan Ayana.


.


.


"Habis ini mau ikut Daddy balik ke kantor atau pulang?" tanya Ritz setelah gadis kesayangannya itu menghabiskan satu potong cake rasa cokelat.


"Ikut Daddy boleh? Habisnya kalau pulang ke Apartement yang ada Ayana malah sendirian, kan Eyang sama Mama sibuk di butik. Terus papa juga pergi bareng papi Devan." Jawab Ayana lesuh


Rasa bosan dan tidak suka di tinggal sendirian bukan hanya sekali dua kali di rasakan Ayana, jika dulu dia lebih banyak memilih untuk diam menerima, sekarang tentu berbeda.


Mengingat statusnya dalam keluarga sang Daddy bukan lagi sebagai orang asing atau hanya anak angkat dari pria kesayangannya itu, Ayana akan jauh lebih leluasa mengungkapkan apa saja yang ada di hatinya termasuk seperti sekarang ini.


Setiap apa yang keluar dari mulutnya berarti harus di turuti semua orang terutama Ritz.


"Ya sudah kalau begitu kita balik ke kantor sekarang!" kata Ritz seraya bangkit dari tempat duduk.

__ADS_1


Hari ini mungkin akan sedikit sibuk mengingat dalam dua hari lagi mereka akan kembali ke negara asal.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2