
...πΏπΏπΏπΏ...
Usai melakukan meeting dadakan dengan beberapa klien di perusahaan, Radit menyampaikan sesuatu pada kakak sepupunya itu setelah mereka keluar dari ruang meeting.
Tidak adanya penolakan atau marah dari Ritz membuat Radit yakin jika apa yang barusan di sampaikannya bukanlah sesuatu yang bermasalah.
"Aku harap kakak sebaiknya cepat menyelesaikan semuanya sebelum terlambat," saran Radit saat keduanya sudah tiba di ruangan milik Presdir Alfaritz Rendra tersebut.
Ruangan yang sebelumnya masih di tempati sang Eyang kini sudah menjadi milik pewaris tunggal Mahendra yaitu Ritz, selain perusahaan juga ada beberapa properti sudah beralih menjadi hak milik atas nama Alfaritz Rendra.
Semua yang di miliki sang Nyonya Besar hampir 80% jatuh ke tangan Ritz selaku cucu pertama kesayangan wanita baya tersebut, tak heran bila sekarang pria tampan yang sebentar lagi akan menginjak usia 33 tahun itu selalu menjadi perbincangan hangat hampir di seluruh media masa.
Poster mengenai dirinya tersebar luas sampai ke pelosok beberapa negara tertentu, memiliki usaha dan bisnis di berbagai belahan dunia bukan lagi hal baru bagi keluarga Rendra selama beberapa tahun terakhir.
...****...
Bunyi dering ponsel yang bergetar di saku jas milik Ritz langsung menghentikan aktifitas Radit saat menjelaskan sesuatu, pria itu menatap ke arah sang kakak dan berbicara.
"Sebaiknya kakak angkat saja! Mungkin itu sesuatu yang penting," seru Radit setelah melihat satu nama yang tertera di layar ponsel milik sang kakak.
"Angkat saja kak! Jauh lebih baik di bandingkan nanti kakak justru mendapat masalah saat kita sampai di sana."
Pria tampan yang memiliki ketampanan tidak jauh berbeda dari Ritz tersebut sangat tahu jelas bagaimana orang-orang di luar sana mencari cara untuk mendekati sang kakak, dari pada mendapat masalah baru, alangkah baiknya memberikan sedikit ruang pada mereka, dengan begitu Radit maupun Ritz akan tahu apa motif dari orang-orang tersebut.
"Aku pergi dulu, jangan lupa sebelum jam makan siang nanti si gadis kecil akan kemari." Ucap Radit kemudian berlalu pergi keluar dari ruangan milik Ritz menuju ruangannya sendiri
Getaran ponsel yang masih berlanjut membuat Ritz mau tak mau akhirnya menggeser tanda hijau dan mengangkatnya.
@Maira
"Astaga sayang, kenapa lama sekali di angkat?" kesalnya jauh di seberang sana
^^^@Ritz^^^
^^^"Maaf sayang, hari ini aku sangat sibuk. Maaf sudah membuat mu menunggu," sahut Ritz menyesal.^^^
@Maira
"Aku mengerti, tadi itu aku hanya sedikit khawatir saja sayang. Kamu tentu tahu betapa aku sangat merindukan mu, selama satu bulan kita tidak lagi saling komunikasi." Kata Maira berucap lirih
__ADS_1
Mendengar nada sedih dari sang kekasih sedikit membuat perasaan Ritz tidak enak, ada rasa bersalah hinggap di hatinya kala membayangkan bagaimana raut wajah penuh kerinduan dari wanita itu.
^^^@Ritz^^^
^^^"Maafkan aku, selama satu bulan ini aku sangat sibuk."^^^
@Maira
"Tidak apa Ritz, lagi pula dalam waktu dua hari lagi kamu akan pulang kan? Aku sudah tidak sabar menunggu, i miss you."
^^^@Ritz^^^
^^^"I miss you too. Sudah dulu ya, nanti aku kabari lagi kalau ada waktu luang."^^^
@Maira
"Siap sayang, jangan lupa istirahat yang benar dan makan teratur."
Tuttt.
...****...
"Aku rasa sudah menjadi pria yang brengsek dengan memiliki dua kekasih sekaligus," kekeh Ritz merasa lucu akan perasaanya sendiri.
Baru saja mata pria itu tertutup sejenak demi menghilangkan rasa sakit di kepalanya, bunyi pintu ruangan yang di dorong lumayan kuat membuatnya terperanjat kaget.
.
.
"Hallo, Bayi Beruang kesayangan Ayana" Teriak si cantik saat pintu sudah terbuka lebar
Suara melengking gadis itu menggema di setiap sudut ruangan milik sang Persedir, tidak terkecuali ruangan milik Asisten Radit dan Sekertaris Amalia juga ikut mendengar teriakannya meski mereka sudah menutup pintu dengan rapat.
Ritz yang kebetulan sudah menghapal tabiat dari gadis kecilnya itu memilih tetap duduk diam di kursi kebesarannya tanpa ada niat menghampiri.
Derap langkah kaki Ayana terdengar lumayan kuat mendekat ke arah meja kerja milik sang Daddy, senyum manis tidak lepas dari bibir indah mungilnya kala melihat wajah tampan milik Ritz dengan mata yang tertutup rapat.
CUP CUP CUP
__ADS_1
Kecupan kecupan manis mendarat sempurna di bagian kening, mata, hidung, pipi, dagu dan terakhir di bibir Ritz.
"Bayi Beruang nya Ayana kok malah tutup mata sih," kesal gadis itu ketika melihat mata Ritz masih tertutup rapat.
Ayana beralih duduk di atas pangkuan sang Daddy setelah mata pria tampan itu sudah terbuka lebar.
"Daddy kenapa? Pusing?" cerocos Ayana, sembari memijit pelan kepala pria kesayangannya tersebut.
"Apa ada masalah? Atau Daddy lagi berantem lagi dengan paman Radit?" selidik Ayana.
Ritz menggeleng pelan tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah cantik gadis itu.
"Daddy akan jawab tapi Ayana janji ngga boleh marah atau ngambek, ok?" sahut Ritz bernegosiasi.
"Tergantung masalah apa dulu yang Daddy alami," jawab Ayana santai tanpa menghentikan jemari lentiknya yang bermain nakal di area bibir pria itu.
Terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulut Ritz, apapun yang terjadi ia tetap harus berbicara jujur pada Ayana.
"Tante Maira tadi telefon," ucap Ritz dengan nada lumayan pelan.
Mata gadis itu sedikit memicing dengan dahi mengkerut.
"Terus?" tanya Ayana dengan santainya membuat Ritz mengerjapkan mata sampai beberapa kali.
"Sayang," Ritz menatap gadis itu penuh tanya.
Apa yang ada di dalam pikiran gadis kecilnya itu. *Pikir R*itz
"Kenapa? Apa Daddy pikir kalau Ayana bakal marah cuma karena telefon dari Tante Maira. Ah bukan, lebih tepatnya tunangan Daddy." Jawab Ayana kelewatan jujur tanpa menyadari seperti apa ekspresi Ritz sekarang
.
.
Belum saatnya untuk cemburu sayang. Ucap gadis itu dalam hati
"Sudahlah, kedatangan Ayana kemari karena sangat merindukan Bayi Beruang nya Ayana ini, bukan melihat raut wajah takut Daddy."
Entah kenapa meski mendengar panggilan sayang yang keluar dari bibir mungil Ayana tidak membuat hati Ritz merasa tenang.
__ADS_1
πππππ