
...💕💕💕💕...
Ada dua buah mobil sedan warna putih sudah menunggu sang Nyonya Besar beserta anggota keluarganya di parkiran dekat Bandara, kendaraan beroda empat tersebut melesat dengan kecepatan sedang menuju rumah utama tempat semua keturunan Mahendra berkumpul.
Di dalam mobil yang berada paling depan ada sang Nyonya Besar Mahendra, menantu kesayangan beserta putranya serta kedua orang tua Radit. Sedangkan di mobil tepat di bagian belakang ada Ayana, Ritz, Amalia, Radit dan Devan.
Mereka sengaja di satukan mengingat para orang dewasa tersebut ingin membicarakan sesuatu hal yang penting, entah itu mengenai masalah lamaran yang sempat tertunda atau soal pekerjaan yang mereka tinggalkan cukup lama.
.
.
Beberapa menit yang lalu papa Ritz menerima telefon dari sang Asisten, dari mimik wajahnya bisa di lihat seperti ada sesuatu hal yang sangat penting.
"Papa kenapa?" tanya sang istri ketika menyadari sikap tidak biasa dari suaminya.
Pria yang kini berusia hampir setengah abad itu menatap lemas ke arah sang istri dengan membuang napas kasar, ingatannya kembali berputar ke beberapa menit yang lalu saat orang kepercayaannya tiba-tiba saja menghubunginya melalui sambungan telefon.
"Hendra dan istrinya sudah tiga hari berturut-turut selalu mendatangi perusahaan dan menanyakan perihal keberadaan kita pada Arfat dan sekertaris Melda." Tutur pria itu memberitahu istrinya juga ikut di dengar yang lain
Penuturan pria itu membuat sang mama maupun kedua kerabatnya di buat terkejut tidak terkecuali sang istri yang memang sudah tahu perihal masalah kedua orang tua dari kekasih putranya tersebut.
"Aku bingung harus melalukan apalagi untuk mengatasi pria serakah itu, hanya karena kekuasaan sampai rela menjadikan anak sendiri jadi korban" lanjutnya sedikit emosi mengingat betapa gilanya seorang pria bernama Hendra itu.
"Tidak usah di pedulikan! Orang serakah macam itu lebih baik di biarkan senang dulu di awal, setelah puas baru kita bertindak" seru sang Nyonya Besar.
Wanita baya tersebut cukup lelah dan pusing menghadapi setiap masalah yang datang silih berganti.
Sedikit demi sedikit informasi mengenai kedua orang tua dari gadis cantik kesayangan cucunya mulai terkuak, belum lagi sekarang ini masalah hubungan sang cucu dengan seorang wanita bernama Adinda Maira tersebut semakin rumit.
__ADS_1
...****...
Sekitar dua puluh lima menit perjalanan mobil yang membawa sang Nyonya Besar beserta anggota keluarga Mahendra kini mulai memasuki area kawasan rumah utama.
Dari arah pintu gerbang utama yang di buka oleh satpam cukup jauh menuju kediaman Mahendra yang berjarak sekitar lima puluh meter.
Bangunan megah yang memiliki lebih dari satu lantai tersebut memang sengaja di dirikan oleh Tuan Besar Mahendra sebagai tempat perkumpulan setiap bagian dari keluarganya.
Sang Nyonya besar turun dari mobil lebih dulu kemudian di ikuti oleh kedua pasangan suami istri yang memang satu mobil.
Di mobil yang satunya lagi ada Devan, Amalia, Radit dan Ritz yang kebetulan sudah berada di luar seraya menunggu si cantik kesayangan mereka.
"Woyy, lama banget sih tinggal turun doang masih ajah pake drama segala." Seru Radit mulai kehilangan sabar
"Ayo buruan sayang, keburu matahari pindah ke barat." Sambung Amalia dengan kekehan
"Mulai lagi tuh dramanya," timpal Devan memutar bola matanya malas.
Yang lain sudah masuk sejak mereka turun dari mobil, tetapi kini ada drama singkat yang harus di hadapi oleh pria tampan dengan balutan kemeja panjang warna biru yang lengannya sengaja di gulung sampai batas siku.
Tanpa banyak bicara Ritz segera menggendong tubuh Ayana keluar dari dalam mobil, gadis kecilnya itu memang belum sepenuhnya sadar karena rasa kantuk yang sangat besar.
Ritz masuk ke dalam rumah menyusul yang lainnya sambil menggendong Ayana ala bridal style, tetapi tujuan utamanya adalah lantai atas di mana kamar milik gadis kecilnya berada.
.
.
TRINN!
__ADS_1
Ritz keluar dari lift melangkah pelan menuju satu pintu bercat putih dengan satu gambar singa besar di tengahya.
Klek!
Sedikit kesulitan saat membuka pintu kamar sebab kedua tangan Ritz di gunakan untuk menahan tubuh Ayana agar tidak terjatuh.
"Sayang," panggil Ritz setelah berhasil masuk ke dalam kamar kemudian meletakkan gadis kesayangannya di atas tempat tidur.
"Iya, ada apa?" sahut Ayana bertanya.
Entah karena perasaannya saja atau memang ada yang berbeda dari gadis manjanya itu, namun Ritz mencoba untuk mencari tahu sendiri dari pada mati penasaran.
"Daddy rasa kok ada yang berbeda ya," jawab Ritz santai sembari mengamati sosok cantik di hadapannya.
Ayana mengenyeritkan dahinya bingung mendengar kalimat yang barusan keluar dari mulut sang Daddy.
"Maksud Daddy apaan sih? Beda apanya?" tanya Ayana sedikit penasaran.
Mendengar kalimat pertanyaan yang di tujukan padanya membuat sudut bibir Ritz sedikit terangkat ke atas.
"Daddy rasa," ucapnya menggantung.
"Apaan sih Daddy? Jangan aneh-aneh ya" sentak gadis cantik itu menelisik wajah tampan Ritz tengah tertawa.
Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Ritz sontak membuat kedua bola mata Ayana melotot sempurna dengan mulut yang menganga tidak percaya.
.
.
__ADS_1
"Kamu gemukan Baby," ungkap Ritz antara jujur atau hanya ingin membuat gadis kesayangannya tersebut mengamuk.
🍃🍃🍃🍃