Daddy I Love You

Daddy I Love You
Bersiap Pulang


__ADS_3

...💕💕💕💕...


Kereta besi berwarna hitam putih tersebut memasuki area kawasan Apartement, suasana sore hari yang mulai terlihat sepi menandakan jika semua penghuninya kemungkinan berada di dalam atau sedang keluar.


Sang sopir memarkirkan mobil milik sang majikan di garasi samping pintu masuk utama, bangunan berlantai tiga yang memang hanya di desain khusus hampir mirip dengan perumahan modern itu, menjadi bangunan dengan fasilitas terlengkap sebagai tempat ternyaman bagi setiap orang yang tinggal di sana


Jika di tempat lain membangun Apartement tentu harus memiliki lebih dari satu lantai dengan banyak unit, berbeda dengan Apartement yang di bangun oleh keluarga Mahendra.


Sang Nyonya besar sengaja mendesain bangunan tersebut seperti sebuah rumah yang di lengkapi dengan dua kamar tidur berada di lantai 3, satu ruang baca dan kamar tamu di lantai dua, serta di lantai dasar ada satu ruang dapur, satu ruang makan, ruang tengah, ruang keluarga dan ruang tamu yang berada di dekat pintu masuk utama.


Bisa di bilang terlihat seperti sebuah rumah dengan fasilitas yang lengkap, belum lagi di setiap bangunan terdapat ruang garasi yang lumayan luas boleh menyimpan dua mobil sekaligus.


Hanya ada sekitar 40 unit Apartement yang berdiri kokoh dan semuanya telah berpenghuni, kesenangan sang Nyonya Besar dalam menghamburkan uang bukan lagi hal biasa bagi seluruh anggota keluarganya.


Apapun yang menurutnya mampu menghasilkan uang yang banyak, selagi membuatnya senang dan nyaman pastinya akan di bangun tanpa harus meminta persetujuan dari siapapun.


...****...


Setelah mobil sudah terparkir di garasi, Ritz dan Ayana bergegas masuk ke dalam bangunan mewah tersebut.


Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan melangkah pelan menuju ruang keluarga, di mana sudah ada Eyang dan anggota keluarga lainnya berkumpul bersama.


.


.


"Tumben lama pulang Ritz?" tegur Eyang saat keduanya sudah berada di hadapannya.


Ritz dan Ayana bergantian mencium takzim punggung tangan wanita baya tersebut, kemudian beralih ke arah pasangan suami istri yang duduk berdampingan di hadapan sang Nyonya Besar.


"Paman Radit tuh yang rese, Eyang." Jawab Ayana mengadukan kelakuan sang paman


Rasa kesalnya dan marah bercampur jadi satu ketika dengan sengaja pria tampan yang menjadi Asisten dari Ritz itu membuat jam pulang kantor mereka lebih telat satu jam dari waktu pulang seperti biasa.


"Loh, memangnya apa yang ia lakukan sampai membuat kalian terlambat pulang?" sambung mama Ritz ikutan di buat penasaran.

__ADS_1


Si cantik yang kembali di lontarkan pertanyaan dari sang mama bukannya di jawab melainkan matanya melihat ke arah Ritz untuk meminta bantuan, dia terlalu malas untuk menjelaskan kelakuan sang paman dan memilih diam tak mau bicara lagi.


Ritz yang mendapat tatapan memohon dari gadis kecilnya tersebut langsung paham, mungkin Ayana sudah lelah.


"Radit sengaja memberikan beberapa berkas penting yang harus aku tanda tangan saat itu juga, anak nakal itu sengaja membuat Ayana kesal sebab ingin membalas dendam atas perbuatan yang gadis ini lakukan." Jelas Ritz dengan nada terkesan santai


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut pria tampan itu, baik sang Eyang maupun mamanya di buat bingung.


"Tunggu! Balas dendam gimana maksudnya?" sang mama kembali bertanya sebab wanita cantik itu masih belum paham akan penjelasan dari putranya.


Sementara Ritz menghela napas panjang lalu membuangnya perlahan sebelum kembali menjawab.


"Radit sengaja membuat Ayana kesal dengan berbicara tanpa pikir panjang, alhasil gadis kecil yang nakal ini melempari Radit menggunakan botol air mineral." Terang Ritz malah tertawa lepas


Pria tampan itu langsung mencium sayang pucuk kepala gadis kesayangannya tersebut sebelum sang empu mengamuk.


Semua yang berada di ruang keluarga menggelengkan kepala mereka tidak habis pikir akan kelakuan Radit, sudah tahu jelas bagaimana nekatnya Ayana ketika marah tetap saja pria itu nekat mencari gara-gara.


"Giliran di balas malah menyimpan dendam," kekeh Eyang merasa lucu pada cucu keduanya tersebut.


Ritz dan Ayana pamit naik ke lantai atas untuk membersihkan diri mereka masing-masing, sebentar lagi waktu sholat Maghrib tiba.


...****...


Mengingat sudah lama mereka tidak lagi menunaikan ibadah bersama membuat Ayana rindu akan momen paling di impikan setiap kaum hawa tentunya.


"Siap banget ya, mau jadi makmum buat aku?" goda Ritz dengan kekehan.


"Dosa loh Daddy, mana udah ambil wudhu masih sempatnya lagi goda anak gadis." Cebik Ayana menatap tajam ke arah pria tampan kesayangannya itu


Yang di tatap langsung terdiam cepat melaksanakan kewajibannya sebagai imam dengan Ayana yang menjadi makmum nya.


Keduanya melaksankan sholat Maghrib dengan khusu menghadap sang pencipta selaku yang maha pengasih lagi maha penyayang.


.

__ADS_1


.


Tepat jam 08 malam semuanya berkumpul di ruang makan untuk makan malam, beberapa macam makanan sudah tersaji di atas meja lengkap dengan makanan penutup terutama kue kesukaan si gadis cantik kesayangan mereka.


Selama makan malam hanya ada dentuman garpu dan sendok yang beradu dengan piring, sesekali dibarengi obrolan ringan seputar hal-hal kecil sering di lakukan Ayana.


Usai makan malam, semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga guna membahas sesuatu yang penting.


Tepat lima menit yang lalu Amalia dan Radit tiba di Apartement, keduanya baru saja pulang dari perusahaan setelah membereskan beberapa masalah kecil sebelum besok pulang ke negara asal.


.


.


"Malam ini sebaiknya kalian bersiap untuk untuk kepulangan besok!" ucap sang Nyonya Besar memulai percakapan.


"Bagaimana dengan masalah di perusahaan Ritz?" lanjut wanita baya itu bertanya pada sang cucu.


"Semuanya baik Eyang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, beberapa berkas penting yang mungkin di butuhkan sudah aku bawa pulang kecuali berkas kerja sama antara pihak perusahaan milik pria itu dengan perusahaan kita." Jawab Ritz berbicara panjang lebar


"Biarkan saja itu menjadi tanggung jawab Rafka untuk menyelesaikan masalah, Eyang harap kedepannya perusahaan kita tidak lagi memiliki hubungan kerja sama apapun dengan orang itu."


Tutur sang Nyonya Besar yang tentunya hanya bisa di pahami oleh orang dewasa kecuali si cantik kesayangan mereka.


.


.


Tepat jama 10 malam semuanya kembali masuk ke dalam kamar masing-masing begitu pun dengan Ritz dan gadis kecilnya.


Ayana masih di sibuk kan dengan koper yang belum selesai di packing, banyaknya barang hasil shopping beberapa minggu yang lalu membuatnya pusing sendiri.


"Daddy," panggilnya tanpa menoleh ke arah Ritz.


"Hmm, ada apa sayang?" sahut Ritz kemudian menghampiri gadis kecilnya tersebut.

__ADS_1


Tawanya ikut pecah setelah sadar akan apa yang membuat Ayana kesal setengah mati sedari tadi, ada satu benda yang di paksanya masuk dalam koper padahal jelas-jelas tidak muat.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2