Daddy I Love You

Daddy I Love You
Besok Pulang?


__ADS_3

...💕💕💕💕...


Bagaikan anak kucing yang tidak di berikan Asih oleh ibunya.


Contoh pepatah yang cocok untuk Ayana saat ini.


Tetap di biarkan menangis sesegukan dengan tangan asik memilin ujung kemeja Ritz yang sengaja di keluarkan tanpa melepas ikat pinggang.


Rasa gerah dan marah bercampur jadi satu melanda jiwa dan raga pria tampan itu, seharian berkutat dengan banyaknya berkas menumpuk di atas meja kerjanya membuat otak Ritz serasa ingin pecah.


Belum lagi masalah yang beberapa jam lalu hampir menjadikan gadis cantik kesayangannya tersebut di temukan oleh orang suruhan dari suami Syifana.


Ritz membiarkan gadis kecilnya terus menangis tanpa ada niat membujuknya, rasa kesalnya jauh lebih besar di bandingkan rasa kasihan melihat mata indah milik gadis cantik yang membuatnya hampir kehilangan akal itu.


.


.


Tatapan sedih bercampur kesal di perlihatkan Ayana, kali ini menurutnya sangat sulit mengambil perhatian sang Daddy.


Tuh kan, percuma aku nangis bombai campur manja kayak gini kalau pada akhirnya aku tetap di abaikan, kasihan sekali diriku ini. Greget Ayana berbicara dalam hati


Sekarang tidak mudah lagi mengelabui pria tampan kesayangannya tersebut, mau nangis kejar sampai hujan deras dan petir turun pun tidak akan membuat hati Ritz tergerak.


Satu menit, dua menit, tiga menit.


Sampai dua puluh menit lamanya pertahanan Ayana akhirnya runtuh sudah, tidak ada cara lain lagi selain berbicara yang sejujurnya pada pria tampan itu.


"Daddy," seru Ayana memanggil Ritz.


Pria tampan berbadan tinggi tegap dengan postur tubuh bak model tersebut mendadak tuli ketika ia di panggil oleh gadis pujaannya tersebut.


"Wah parah nih," syok Ayana tidak mendapat respon apapun dari sang Daddy.


Dirinya tentu menyadari di mama letak kesalahannya, pergi keluar tanpa izin dan hampir mendapatkan masalah.


.

__ADS_1


.


Meski hubungan mereka bisa di bilang lebih dari hubungan ayah dan anak angkat atau lebih tepatnya sudah menjadi sepasang kekasih, bukan berarti Ayana berbangga diri akhirnya harapan yang selama ini dia impikan telah terwujud.


Hal yang lebih penting di luar sana baru lah masalah yang utama, belum lagi desakan dari pihak wanita cantik masih berstatuskan tunangan atau calon istri dari pria tampan yang kini hatinya memilih Ayana sebagai pasangan hidup.


Kedua orang tua wanita tersebut atau lebih tepatnya sang ayah hampir setiap hari menghantui keluarga Mahendra, apa yang di khawatirkan pada akhirnya terjadi juga.


Genap dua bulan waktu yang di berikan sang Nyonya besar kepada pihak kekasih dari cucu kesayangannya telah berakhir, kini saatnya mereka menagih kembali janji tersebut untuk segera melangsungkan acara lamaran yang sempat tertunda.


Kabar tersebut telah sampai ke telinga si cantik kesayangan Ritz, tanpa sengaja gadis itu mendengar percakapan kedua orang tua sang Daddy bersama Eyang di ruang keluarga beberapa hari yang lalu.


Hati Ayana sedikit terusik mengingat waktu begitu cepat berlalu, kesembuhannya dari sakit yang hampir meregang nyawa rasanya terlalu cepat.


Ayana melamun cukup lama sampai bunyi suara pintu ruangan yang terbuka lumayan keras menyadarkannya.


.


.


Radit masuk ke ruangan sang kakak tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sial, tangan ku sakit" umpatnya masih bisa di dengar Ayana maupun Ritz.


Dua orang yang menatapnya tajam membuat Radit keheranan, namun detik berikutnya ia sadar akan apa yang terjadi.


.


.


"Wiihh, apa sekarang waktunya perang dingin?" seru Radit sengaja memanas manasi.


"Ada apa dengan kalian?" herannya tanpa mengalihkan tatapan mata yang tertuju pada meja kerja milik sang Presdir.


"Cuaca hari ini bukannya sangat bagus? Apa sempat hujan atau mendung di luar sana, sampai membuat ruangan ini menjadi gelap dan menyeramkan." Lanjut Radit mulai waspada melihat salah satu dari mereka bergerak pelan


Tetapi sayang seribu kali sayang kewaspadaan Radit kalah cepat dengan botol air mineral yang di layangkan Ayana tepat mengenai kepalanya.

__ADS_1


"Mampus," gumam Ritz tertawa pelan.


Ia saja sedari tadi sengaja tidak bersuara apalagi salah menegur karena takut akan amukan gadis cantiknya itu, malah sekarang yang menjadi sasaran kekesalan dari singa betina tersebut di lampiaskan pada Radit.


"Gila lo, gadis kecil main lempar sembarangan." Pekik Radit meringis kesakitan sebab dahinya ikut terkena tutup botol


"Lo kalau lagi kesal sama orang lain jangan lampiasin ke gue, mikir ngga sih sebelum lempar barang sembarangan." Tambahnya mulai terpancing emosi


Kedatangannya bukan untuk melihat drama pertengkaran dari pasangan kekasih belum jelas itu.


.


.


Ritz yang sadar akan perubahan sikap dari sang adik segera buka suara untuk mengalihkan perhatian pria itu.


"Besok pulang kan? Atau masih di tunda?" tanya Ritz sekedar basa basi.


Radit yang di tanyai hanya mengangguk kan kepala, matanya masih tetap fokus menatap tajam ke arah Ayana.


"Dit,," seru Ritz memanggil sang adik pelan.


Yang di panggil menoleh sekilas dengan wajah merah menahan amarah siap meluap.


"Ajari gadis mu dengan baik jangan sampai tangan ku yang memberinya pelajaran," ucap Radit penuh penekanan di setiap katanya.


Usai berbicara, pria tampan itu keluar dari ruangan dengan membanting pintu cukup keras di selingi umpatan yang masih bisa di dengar.


BRAKKK!


Ayana ikut telonjak kaget melihat kemarahan dari pria tampan yang mirip dengan sang Daddy.


Waduh, jangan bilang paman Radit marah lagi gara-gara aku lempar pakai botol air. Khawatir Ayana berbicara dalam hati


Salahnya tidak bisa mengontrol diri agar tidak mudah terpancing.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2