Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (31) Salah Paham


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Ritz yang di tinggal pergi putrinya ke ruang makan sampai membuang napas kasar, hanya karena masalah yang sebenarnya tidak penting ia dengan beraninya memperlihatkan wajah masam dan marah-marah tidak jelas.


"Ada apa dengan ku? Kenapa akhir-akhir ini aku mudah terpancing emosi dan,,"


"Aa, sial. Kenapa aku begitu cemburu melihat gadis kecil ku di dekati seorang pria? Apa yang terjadi dengan hati dan pikiran ku, bahkan Maira saja yang jelas-jelas kekasih ku belum pernah sekalipun aku merasakan perasaan yang seperti ini."


Ritz terus berbicara sendiri, ia sampai tidak dengar Bi Nani yang memanggilnya untuk makan malam.


"Itu tuan muda kenapa ya? Di panggil-panggil kok ngga nyahut." Gumam Bi Nani keheranan


Takut jangan sampai kena semprot, akhirnya Bi Nani memilih kembali lagi ke ruang makan menemui Ayana.


"Non Ayana, sebaiknya Non saja yang panggil tuan muda untuk makan malam. Bibi ngga berani, tadi ajah pas Bibi manggil tuan muda ngga nyahut." Lapor Bi Nani


"Ish, kebiasaan bangat. Ya udah Bi, nanti Ayana panggil Daddy. Maaf ya udah ngerepotin Bibi, jadi ngga enak." Sahut Ayana seraya meminta maaf


"Santai Non, sebenarnya Bibi cuma takut ajah kena semprot gunung es." Kekeh Bi Nani di ikuti Ayana


Dengan perasaan kesal Ayana kembali lagi ke ruang santai mendatangi sang Daddy, dapat di lihatnya bagaimana keadaan pria itu yang mulai uring-uringan tidak jelas.


"Udah periksa isi ponselnya? Ada yang aneh ngga? Atau mungkin Daddy menemukan nomor kontak para pria tampan dan wow." Sindir Ayana sengaja memanas-manasi sang Daddy


"Aaaa, Ayana lupa. Tadi kalau ngga salah tuh pria asing sempat ambil ponsel Ayana, apa jangan-jangan pria itu memasukkan nomor kontaknya?" Lanjutnya pura-pura mengingat sesuatu


Telinga Ritz memanas dengan wajah merah padam, marah dan cemburu yang di perlihatkannya mencapai 180ΒΊ. Ingin rasanya Ritz menyumpal mulut putrinya dengan ciuman, namun ia urungkan sadar akan status gadis kecilnya.


Mata Ritz terlihat mulai berkaca-kaca, ingin marah dan membentak putri kesayangannya. Akan tetapi, ia bukan pria brengsek yang hanya tahu mementingkan ego sendiri di bandingkan perasaan putrinya.


Melihat wajah murung dan mata sang Daddy yang berkaca-kaca, hati Ayana tiba-tiba merasakan sakit. Apa candaannya barusan telah kelewatan? Dia hanya asal bicara saja, tapi siapa sangka jika ucapannya malah menyakiti pria kesayangannya.


Mampus, lihatlah kelakukan mu Ayana. Bathin Ayana


Ritz yang tidak dapat menahan emosinya lagi, memilih beranjak dari ruang santai menuju kamarnya. Tidak lupa ia meninggalkan ponsel sang putri di atas meja, rasa sesak di hatinya begitu sulit di kendalikan.


Melihat sang Daddy malah masuk ke dalam kamar bukan pergi ke ruang makan, Ayana menjadi kebingungan campur merasa bersalah.


"Apa Daddy benar-benar sangat marah?" Gumam Ayana pelan


"Ikut nyusul Daddy ngga ya? Tapi aku laper gimana dong?"


"Makan malam dulu Non, urusan tuan muda entar belakangan ajah. Rasanya ngga enak kalau ngebujuk orang yang lagi ngambek dalam keadaan lapar, Bi Nani juga pernah kayak gitu." Jawab Bi Nani dari arah ruang makan


Ruapanya wanita itu sejak tadi memperhatikan gerak gerik Ayana dan Ritz, ingin rasanya Bi Nani tertawa melihat betapa lucunya sang tuan muda ketika berusaha tegar di depan Ayana.


"Bibi benar, kalau Ayana ngga makan dulu sebelum ketemu Daddy bisa-bisa pas baru mau bicara udah pingsan duluan." Kekeh Ayana seraya menggandeng lengan Bi Nani menuju ruang makan


Selama makan malam berlangsung Ayana meminta Bi Nani untuk menemaninya makan, dia tidak terbiasa makan sendiri terlebih melihat sang Daddy yang merajuk menambah rasa tidak nyaman di hatinya.

__ADS_1


Usai makan malam Ayana langsung menuju kamar sang Daddy, tidak lupa dengan nampan berisi makanan yang di bawanya.


Tok tok tok


"Daddy, Ayana masuk ya? Ngga di ijinin sekalipun Ayana tetap akan masuk, ini pintu ajaibnya ngga di kunci kan? Kalau sampai di kunci jangan salahkan Ayana pintunya rusak." Teriak Ayana di depan pintu kamar sang Daddy


CEKLEK!


"Wow, ternyata ngga di kunci. Itu ngambek apa cuma pura-pura ajah, biasanya kan kalau orang lagi ngambek sampai pintu kamar di kunci rapat, lah ini malah di biarin gitu ajah."


Ayana sampai geleng-geleng kepala dengan kelakuan sang Daddy yang menurutnya sangat lucu, ada rasa kasihan timbul dalam hatinya melihat raut wajah sedih si tampan kesayangannya.


Saat masuk dalam kamar, Ayana tidak mendapati batang hidung sang Daddy di manapun.


"Loh, Daddy kemana? Bukannya tadi masuk kamar, kok malah ngga ada." Heran Ayana sambil mencari-cari keberadaan Ritz


Nampan yang tadi di bawanya lebih dulu di letakkan di atas nakas, Ayana kembali mencari Daddy nya sampai di kamar mandi. Akan tetapi, hasilnya nihil di semua tempat yang di carinya tidak menemukan keberadaan pria itu.


"Wah, beneran ngajak ribut." Kesal Ayana


"Daddy keluar ngga! Ayana hitung sampai tiga, kalau sampai Daddy ngga keluar juga, lihat saja bakal Ayana bakar kamar Daddy sampai habis." Teriak Ayana setengah mengancam


"Satu,"


"Dua,"


"Ok, siapa takut. Di tangan Ayana ada satu lilin yang menyala, Daddy ngga keluar juga Ayana lempar lilinnya." Ancam Ayana lagi bersiap melemparkan lilin di tangannya


"Tiga,"


Di hitungan ketiga ternyata Ayana nekat melempar lilin yang menyala ke arah gorden, teriakan Ritz menggema di seluruh kamar saat melihat api yang mulai merambat besar.


"Ya Ampun sayang, apa yang kamu lakukan dengan kamar Daddy?" Jerit Ritz frustasi berusaha memadamkan api


Niat awal ingin mengerjai putrinya, siapa sangka justru dirinya lah yang balik di kerjai.


"Jangan melakukan hal nekat seperti ini lagi sayang, jantung Daddy hampir saja berhenti berdetak." Pinta Ritz usai memadamkan api


Ayana tidak berhenti tertawa aksi gilanya ternyata sukses membuat sang Daddy keluar dari persembunyian, Ayana sampai tidak menyadari saat Daddy nya berteriak lumayan keras.


"Nah, akhirnya membakar gorden sedikit bisa membuat Daddy keluar juga. Kalau dari tadi waktu Ayana panggil Daddy langsung keluar, acara bakar-bakarnya mungkin tidak sampai Ayana lakukan." Kekeh Ayana tanpa rasa bersalah


Kepala Ritz serasa berdenyut hebat membayangkan bagaimana jika sampai api yang membakar gorden tadi sampai meluas ke seluruh kamar, hanya membayangkannya saja ia tidak berani.


"Eh, sampai lupa. Tadi kan tujuan awal Ayana kemari untuk menyelesaikan sesuatu, nanti dulu deh sekarang bukan waktunya membahas itu."


"Kasihan cucu kesayangan Eyang belum makan malam."


Ayana berjalan ke arah nakas dimana sebelumnya makan malam milik sang Daddy di letakkan, satu tangannya memegang nampan berisi makanan sementara tangan yang lain membawa gelas berisi air.

__ADS_1


"Itu apa?" Tanya Ritz penasaran campur takut


"Racun buat Daddy biar cepat ketemu sama yang di atas." Jawab Ayana asal


"Kamu ingin membunuh Daddy?" Tanya Ritz serius


Yang di tanya tidak menjawab, melainkan ikut duduk di samping Ritz.


"Pengen bangat sih, tapi terlanjur sayang sampai tumpah-tumpah." Jawab Ayana setelah menyuapkan makanan ke mulut Daddy nya


"Daddy bisa ngga sih jangan suka marah-marah ngga jelas, kan Ayana sudah jelasin ke Daddy soal pria asing yang di puncak tadi. Tapi Daddy malah diemin Ayana sampai pulang ajah di tinggal, sakitnya tuh ngga berdarah Daddy." Adu Ayana akhirnya mengeluarkan isi hatinya


"Hmm, terus yang tadi di telefon itu siapa?" Tanya Ritz masih ada emosi bersemayam dalam dirinya


"Yang mana? Tadi pas tiba-tiba Daddy minta ponsel Ayana?" Ritz menggangguk iya menjawab pertanyaan putrinya


"Astaga Daddy, itu yang telefon kak Emeli. Memangnya Daddy pikir siapa yang telefon?"


Ayana benar-benar tidak habis pikir dengan sikap aneh sang Daddy, ingin bertanya tapi urung di lakukannya.


Ritz yang ternyata sudah salah paham pada putrinya, merasa bersalah dan malu sendiri.


"Jadi,"


"Iya, makanya tanya dulu baik-baik baru ambil kesimpulan. Ngga enak bangat kan pas tahu yang sebenarnya? Emang enak putri sendiri di salah pahami." Cebik Ayana setengah menyindir


"Eh, eh, tunggu dulu. Tadi kalau ngga salah Ayana lihat mata seseorang yang berkaca-kaca mana wajahnya merah padam lagi, apa jangan-jangan ada yang lagi,,"


Pletak!


"Aw, sakit Daddy." Keluh Ayana mengusap pelan dahinya


"Senang bangat ya ledekin Daddy nya sendiri." Kesal Ritz dengan mulut komat kamit


"Ayya, kan Ayana bicara benar kenapa malah Daddy yang kesal?"


Perdebatan antara ayah dan anak tersebut berlangsung hingga satu jam lamanya, Ritz yang merasakan lelah memilih istirahat lebih dulu.


Pria itu meminta sang putri menemaninya sebentar sampai ia tertidur, di rasa tidak ada lagi pergerakan akhirnya Ayana keluar dari kamar sang Daddy menuju kamarnya sendiri.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Jangan lupa like & komennyaπŸ™

__ADS_1


__ADS_2