Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (26) Kenakalan Ayana


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Hampir satu jam lamanya Maira berada di dalam ruangan Ritz, tujuan awal kedatangan wanita itu tidak lain adalah perihal masalah penundaan acara lamaran.


Berkali-kali Ritz memberi penjelasan pada Maira, alasan mengapa sampai harus di tunda mengingat semua media masa sudah mengetahui perihal lamaran tersebut.


Maira tidak tahu kalau Eyang sudah satu langkah ke depan dalam menghadapi kritikan dan berbagai macam pertanyaan berbagai media.


"Lebih baik kamu pulang dan jangan banyak berpikiran yang tidak-tidak, apa yang di putuskan Eyang sudah pasti semuanya demi kebaikan kamu juga." Ucap Ritz meminta sang kekasih segera pulang


"Kamu mengusir ku, Ritz?" Kaget Maira tidak percaya


"Jangan membuat ku marah, kamu tahu betapa aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Kedatangan Eyang mengubah semua peraturan perusahaan sedikit mengganggu para karyawan yang belum lama masuk, dan aku harus memeriksa semua pekerjaan mereka setiap harinya." Jawab Ritz mulai kehilangan batas ketenangannya


"Tapi aku masih ingin di sini bersama mu, lagi pula aku tidak akan mengganggu mu bekerja." Maira begitu keukeh tidak ingin pulang


Tok tok tok


Suara pintu yang di ketuk mengalihkan fokus Ritz dan Maira, pintu yang di buka perlahan menampakkan sosok dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


Hal itu sukses membuat Maira panik bukan main, dia berkali-kali menelan ludah dengan kasar ketika mata tajam tersebut tidak sengaja saling bertatapan dengannya.


"Ritz, sejak kapan orang yang tidak berkepentingan di biarkan masuk kemari?" Tanya orang tersebut dengan nada terkesan dingin


"Apa ada peraturan yang memperbolehkan sembarangan orang masuk ke ruangan mu tanpa sepengetahuan ku? Bukankah sudah jelas aku katakan sebelumnya jangan ada yang asal masuk kemari jika bukan masalah pekerjaan."


"Kamu lupa dengan apa yang aku katakan Ritz? Apa perlu aku ulangi lagi semuanya agar kamu paham dan tahu dimana letak kesalahan mu?"


"JAWAB!!"


Suara keras di barengi teriakan menggema di dalam ruangan milik Ritz yang pintunya tidak tertutup rapat, alhasil Radit dan Arsinta yang tidak sengaja akan keluar dari dalam ruangan milik Amalia ikut mendengarkan suara keributan di dalam ruangan sang presdir.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, Radit?" Tanya Arsinta bingung


Kedatangannya kemari sebenarnya untuk menemui Ritz, sebagai sekertaris kedua yang di beri kepercayaan Ritz mengatur semua pekerjaan di kantor cabang, Arsinta tentu kaget melihat kejadian seperti ini.


"Aku rasa akan ada masalah besar terjadi di ruangan kakak, lebih baik kita turun ke bawah jangan sampai ikut kena imbasnya." Jawab Radit memilih pergi demi menghindari amukan dari seseorang


Arsinta mengikuti ucapan Radit dan ikut turun ke lantai bawah meninggalkan sang Bos dengan seseorang yang tidak boleh di ganggu.


...****...


Di dalam ruangan Ritz, suasananya mulai mencekam dan menakutkan, kilat amarah yang di perlihatkan seseorang memenuhi atmosfer yang sebelumnya dalam keadaan tenang.

__ADS_1


Maira yang tidak tahu malu justru berusaha mendekat dengan harapan apa yang di perbuatnya bisa meluluhkan amarah orang itu.


"Maafkan atas kelancangan saya yang nekat datang ke kantor Ritz, saya hanya ingin menemui Ritz guna membicarakan masalah hubungan kami, tidak ada maksud yang lain dan saya," Terang Maira langsung terputus


"Siapa kamu begitu berani menyahut ucapan ku? Apa kamu orang penting di perusahaan ini? Apa masalah pribadi pantas di bicarakan saat jam kantor belum selesai?" Potong orang itu cepat tanpa membiarkan Maira meneruskan kalimatnya


"Saya,"


"Keluar!"


"Apa?" Tanya Maira syok


"Keluar dari ruangan ini sekarang!"


"Ini, Ritz." Maira berusaha meminta Ritz untuk membantunya


"Aku bilang KELUAR! Apa kamu tuli? Di mana rasa malumu dengan berani menyela setiap apa yang aku ucapkan? KELUAR!"


Lagi-lagi suara orang itu menggema, Ritz yang terdiam kaku di kursi kerjanya tak mampu buka suara apalagi membantu sang kekasih. Rasa takut dan khawatir akan Ayana di dalam kamar jauh lebih besar di bandingkan Maira.


Melihat Ritz hanya diam saja tanpa ada niat sedikit pun membantunya, akhirnya Maira keluar dari dalam ruangan tanpa berpamitan terlebih dahulu pada kekasihnya.


Rasa malu dan marah bercampur jadi satu, Maira merasa di perlakukan tidak baik. Apa yang membuat orang itu sangat marah padanya? Sedangkan selama ini dia belum pernah sekalipun menyinggung orang tersebut.


"Eyang," Panggil Ritz pelan nyaris tidak terdengar


Sedetik kemudian pria tampan itu menjerit kesakitan kala salah satu telinganya menjadi sasaran empuk jemari lentik tanpa keriput sang Eyang.


"Aw, aw. Ampun Eyang, sakit jangan di tarik terus." Jerit Ritz berusaha melepaskan diri dari wanita baya tersebut


"Anak nakal, anak kurang ajar. Rupanya kamu memang ingin di hukum biar menyadari di mana letak kesalahan mu, sudah berapa kali aku katakan jangan coba-coba mengizinkan wanita itu masuk kemari. Beraninya kamu memberinya izin lalu meminta gadis ku bersembunyi di dalam kamar, aku akan membuat telinga mu sadar agar tidak lagi mengabaikan perintah dariku." Omel Eyang tanpa melepas jewerannya di telinga sang cucu


Betapa murkanya wanita baya itu saat mendapatkan pesan dari gadis kesayangannya, bunyi isi pesan yang di kirim Ayana membuat darahnya mendidih.


#Isi pesan yang di kirim Ayana


(Eyang, tadi Daddy minta Ayana sembunyi dalama kamar dengan Aunty Amalia. Kata Daddy ada tante Maira datang ke kantor ingin bertemu Daddy, tapi sudah satu jam lebih Ayana sembunyi tante Maira belum juga pergi. Ayana mau ketemu Daddy, tapi Ayana tidak suka lihat tante Maira.πŸ˜“ Apa Eyang bisa datang ke kantor Daddy? Tolong Ayana😒)


...🏡🏡🏡🏡🏡...


...****...


"Ampun Eyang, sungguh aku janji tidak akan lagi mengizinkan Maira masuk ke ruangan ku tanpa sepengatahuan dari Eyang." Mohon Ritz berharap sang Eyang melepaskannya

__ADS_1


Sang Eyang melepaskan jewerannya di telinga sang cucu yang memerah, tanpa menunggu lama kakinya melangkah cepat menuju satu pintu yang tertutup rapat.


Tok tok tok


"Ayana sayang, buka pintunya! Ini Eyang." Panggil Eyang seraya mengetuk pintu


CEKLEK!


Saat pintu sudah di buka Amalia, dengan cepat Ayana berhambur ke pelukan wanita baya tersebut.


"Eyang, kangan Eyang banyak-banyak." Seru Ayana begitu senang melihat sosok yang beberapa waktu lalu di hubunginya akhirnya muncul juga


Kepala gadis itu sedikit menyembul dari balik bahu kanan Eyang, matanya seperti mencari sesuatu namun tidak dia temukan.


"Eyang," Bisik Ayana sangat pelan


"Hmm, ada apa?" Tanya Eyang tak kalah ikut berbisik


"Tante Maira udah pergi?"


"Sudah, Eyang mengusirnya tadi." Jawab Eyang pelan hanya bisa di dengar Ayana


Tawa gadis cantik itu langsung pecah ketika mata indahnya tidak sengaja bertatapan dengan netra sang Daddy, dari gerak-gerik yang di perlihatkan Ayana bisa di pastikan Ritz jika penyebab Eyang sampai datang ke kantor semua karena ulah dari kenakalan gadis itu.


"Ritz, Eyang pulang dulu ada tamu baru datang di rumah utama. Jaga gadis ku dengan baik, awas saja Eyang tahu kamu melakukan kesalahan." Pamit Eyang sedikit mengancam cucunya


Kepergian sang Eyang beberapa menit yang lalu, membuat Ritz lega. Kehadiran wanita baya itu bagai masalah besar yang harus di selesaikan dengan cepat.


Tepat jam 04 sore, Ritz keluar dari ruangannya bersama Ayana menuju parkiran mobil. Tujuan utama mereka yaitu pergi ke FILA yang baru minggu lalu di resmikan, kebetulan besok weekend.


Kesempatan itu di gunakan Ritz untuk membawa putrinya jalan-jalan, ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama sang putri saja.


.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Like & Komennya jangan lupa yaπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk para pembaca yang masih setia mengikuti cerita receh Author.πŸ€—


__ADS_2