
...πΎπΎπΎπΎ...
Ayana tahu betul bagaimana perasaan pria tampan yang kini sudah berada dalam dekapannya.
Semenjak kedatangannya ke perusahaan karena pemintaan pria itu pagi tadi, Ayana bisa menilai bagaimana tingkah sang Daddy bila ada sesuatu yang mungkin sedikit sulit untuk di selesaikan.
Perlahan gadis cantik itu melepas pelukannya dari tubuh kekar pria pujaannya tersebut, sorot mata Ayana dapat dengan jelas melihat ada kesedihan yang tergambar di wajah tampan milik sang Daddy.
Hal yang baru pertama kali di lihat Ayana semenjak pertengkaran mereka beberapa minggu yang lalu, dan kali ini semuanya dapat di nilainya lebih jelas lagi bagaimana pria tampan yang mampu mengusai hati dan pikirannya itu merasakan kesedihan juga kekecewaan mendalam pada wanita cantik bernama Maira.
.
.
Huufff, gini amat punya kekasih tapi masih terikat dengan wanita lain. Jeritan hati Ayana merasakan sedikit sesak
Jika boleh memilih antara bertahan dalam sebuah hubungan namun masih tersimpan sedikit kebohongan di sana atau menjauh demi menjaga hati milik wanita lain? Yang jelas Ayana pasti akan pilih poin yang pertama.
Alasannya sudah pasti, karena gadis cantik itu tidak ingin memberikan apa yang sudah menjadi miliknya pada wanita manapun termasuk Adinda Maira.
Baginya di dunia ini Ritz hanya boleh menjadi miliknya dan sampai kapan pun akan selalu begitu.
Egois?
Mungkin itu satu kata yang cocok untuk mengekspresikan bagaimana sikap Ayana sekarang.
Hening beberapa saat membuat gadis cantik itu sedikit bosan dan pusing sendiri, bagaimana pun caranya dia harus mencari solusi agar masalah yang mereka lalui mendapatkan titik terangnya.
.
.
__ADS_1
"Daddy yakin sedikit pun tidak lagi memiliki rasa cinta padanya?" tanya Ayana langsung pada intinya.
Ada sedikit perasaan tidak nyaman ketika kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, selama ini belum pernah Ayana mencampuri hubungan asmara sang Daddy meski hatinya ingin sekali melalukannya.
Namun demikian, dengan adanya masalah yang sangat besar dan fatal seperti ini, sudah pasti hal tersebut menjadi urusan Ayana juga.
"Kenapa diam? Bukankah jujur jauh lebih baik di bandingkan menyimpan kebohongan?" tambah Ayana sengaja mengingatkan sumpah yang pernah di ucapkan Ritz waktu itu.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Ayana, justru yang di lakukan Ritz mala sebaliknya.
"Sekarang aku ingin berbicara dengan mu bukan sebagai pasangan yang masih memiliki hubungan ayah dan anak angkat, tetapi aku ingin berbicara layaknya pasangan kekasih." Ucap Ritz lembut menatap serius ke arah gadis kesayangannya
Entah dengan cara apa lagi ia harus mengutarakan semua yang tersimpan dalam hatinya, terlalu banyak yang di pikirkan sampai membuat otaknya serasa ingin pecah saking banyaknya masalah.
"Aku akui semua yang telah terjadi akibat kebodohan ku sendiri, aku mengaku tidak pandai dalam mengambil keputusan setiap kali ada masalah di antara kita, aku sadar jika selama ini telah menyakiti mu," ungkapnya sedikit terjeda.
"Semua yang pernah kita lalui bersama terjadi begitu saja tanpa di rencanakan, apapun yang aku lakukan selama ini sedikit yang ku tahu semuanya adalah salah, dan aku yakin jika di dalam hati mu tersimpan rasa sakit yang entah seberapa dalamnya, sungguh. Aku benar-benar bodoh bukan?" lanjut Ritz berbicara dengan suara yang serak menahan sesak dalam hatinya.
"Apakah ada yang lucu?" tanya Ritz menatap tajam ke arah gadis kesayangannya tersebut.
Yang di tanya masih asik tertawa seolah apa yang keluar dari mulut sang Daddy hanyalah cerita dongeng di siang hari.
"Ada yang lucu tapi bukan pentas badut," jawab Ayana asal di barengi kekehan.
"Di mana yang terlihat lucu, hmm?" gemas Ritz seraya menangkup wajah Ayana menggunakan kedua tangannya.
"Ayo cepat katakan! di mana yang menurut kamu itu lucu?" tambahnya sudah mencium gemas seluruh permukaan wajah cantik milik gadis kesayangannya tersebut.
"Ampun Daddy," pekik Ayana sembari memohon agar Ritz mau melepaskan dirinya.
"Kamu menguji kesabaran ku lagi, honey" bisik Ritz tepat di telinga gadis itu.
__ADS_1
Ayana sampai harus menahan geli akibat kejahilan pria tampan kesayangannya itu.
"Gini ajah deh, gimana kalau Ayana kasih Daddy sebuah pilihan" tawarnya pada Ritz.
"Pilihan?" tanya pria itu bingung.
"Iya, nanti ceritanya Daddy harus memilih dan pastinya ngga boleh salah." Jawab Ayana serius
Alis Ritz nyaris bertatutan mendengar jawaban dari gadis itu.
"Apa coba?" balas Ritz penasaran.
Ayana tersenyum penuh arti sebelum menyampaikan maksud dan ide gilanya.
.
.
.
"Dari pada Daddy pusing mikirin gimana jalan keluarnya, lebih baik nilahi ajah tante Maira seperti yang sudah di tetapkan." Ucap Ayana lantang seolah tidak ada keraguan di sana
Mata Ritz melotot sempurna dengan mulut yang menganga lebar.
"Kamu serius?" Ayana menganggukan kepalanya.
"Bahkan aku lebih dari kata serius Daddy, beneran deh mala Ikhlas banget kalau sampai kalian berdua jadi nikah." Jawab Ayana langsung bangun dari pangkuan Ritz kemudian berlari cepat keluar ruangan
Jangan sampai amukan pria tampan kesayangannya itu menjadi-jadi.
ππππ
__ADS_1