
...💕💕💕💕...
Ritz yang masih belum merasa tenang akan jawaban yang keluar dari mulut gadis kecilnya itu mencoba untuk merayu, akan sangat fatal jika sikap terlalu acuh dari Ayana membuat pikirannya melayang kemana-mana.
"Kalau marah bilang, Baby." Bisik Ritz dari balik ceruk leher Ayana
"Jangan menyimpan sesuatu yang hanya akan menyiksa dirimu, sayang. Jika ingin marah, kesal atau merasa cemburu luapkan saja! Daddy akan dengan senang hati menerimanya, asal jangan diam tanpa berkata jujur yang hanya akan menjadi sakit mu di kemudian hari, hmm?" lanjutnya mulai beralih mencium kedua pipi chubby gadis itu.
CUP!
Satu kecupan manis di berikan Ritz tepat di bibir mungil kemerahan gadis kesayangannya.
Ia tahu ini salah, dengan mengikat sepenuhnya gadis itu di sisinya bukanlah sesuatu yang mudah untuk di lakukan. Semua berjalan begitu saja tanpa ada rencana yang di buat-buat, tidak ada yang bisa menyelami dalamnya isi hati seseorang termasuk Ritz sendiri.
Mata pria tampan itu kembali menatap penuh sayang pada sosok cantik yang sudah tujuh tahun lebih ini menjadi alasannya untuk tetap hidup dan berjuang, masa lalu gelapnya yang di penuhi kekosongan kini di terangi oleh cahaya indah sampai ia lupa kapan terakhir kalinya mengurung diri di dalam ruangan yang penuh kehampaan.
Dunianya hancur sebelum bertemu dengan gadis kecil yang sangat menggemaskan tersebut, hari dimana ia hampir putus asa menjadi awal mula kebahagiaannya di mulai.
Ritz mendapatkan kembali cahaya hidupnya setelah bertahun-tahun menjadi manusia yang tidak berperasaan, tawa kecil dan raut wajah bahagia yang terlihat dari sosok malaikat kecil tanpa sayap itu mampu menghangatkan hatinya yang sudah lama membeku.
Ritz merasakan hidupnya kembali berwarna semenjak kehadiran gadis kecil yang menjadi putri angkatnya tujuh tahun yang lalu, namun sekarang mungkin semuanya akan berbeda.
Rasa sayang dan ingin melindungi dari pria itu bukanlah sekedar rasa sayang sebagai ayah, melainkan rasa sayang dari seorang pria kepada lawan jenisnya.
.
.
"Daddy mencintaimu, sangat mencintaimu, Baby." Ungkap Ritz begitu tulus
Sorot matanya tersirat akan sebuah rasa yang sulit di ungkapkan hanya dengan kata atau kalimat manis saja, mungkin terlalu cepat menurut pria itu.
Akan tetapi, sebagai pria yang normal ia tidak bisa menyangkal perasaan cinta yang mulai bersemayam dalam hatinya untuk sosok gadis kecilnya itu.
"Sayang, tatap mata Daddy!" pinta Ritz ketika melihat gadis kesayangannya terus menundukkan kepala.
Ayana menggeleng pelan tanda tak mau menuruti perkataan dari sang Daddy, bulir bening mulai menetes sedikit demi sedikit membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Ngga mau," tolaknya pelan seraya terus menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan.
"Daddy mohon, Honey" pinta Ritz lagi.
Akan tetapi, hanya ada isakan kecil yang pria itu dengar keluar dari bibir mungil kemerahan milik gadis cantik kesayangannya itu.
"Ayana terlalu takut, Daddy. Hiks" gumam si cantik mulai menangis sesegukan
Anggap saja dia terlalu cengeng dan sangat sensitif akan hal-hal sekecil apapun itu.
Bohong kalau mengatakan dirinya tidak merasakan cemburu dan sakit hati, bertahun-tahun menyimpan sebuah rasa dalam hatinya mampu membentuk pribadi lain dalam diri gadis cantik itu.
Di usianya yang masih terbilang sangat muda dan labil sudah mendapatkan tekanan bathin lumayan besar, salah satunya adalah TRAUMA di masa lalu.
Ritz yang sadar akan perubahan suasana hati gadis kecilnya memilih diam, tangan kekarnya meraih tubuh mungil Ayana untuk di dekap.
"Sstt, tenanglah. Sampai kapan pun Daddy hanya menjadi milik mu, buang jauh-jauh semua pikiran negatif yang melekat di otak kecil mu itu, OK." Bisik Ritz seraya mengusap penuh sayang punggung kecil Ayana
Tidak ada yang lebih berharga selain melihat senyum terukir indah di wajah cantik milik gadis kecilnya tersebut, Ritz sangat benci akan air mata yang mengalir dari manik mata indah milik Ayana nya.
.
.
Rasa cemburunya semakin menjadi-jadi ketika tanpa sengaja kembali mengingat peristiwa beberapa hari lalu, dimana gadis itu begitu nekat menghukum Ritz hanya karena mengatakan sebuah kebenaran yang kelewat jujur.
Itu sebabnya gadis cantik tersebut masih menyimpan banyak pertanyaan dalam otaknya tetapi enggan menanyakan pada Ritz.
"Kenapa dia tidak tahu malu sekali masih saja menghubungi Daddy, bukankah sudah memiliki pria lain?" sungutnya penuh kekesalan.
"Huaaaa, Ayana ngga suka. Iiii, jadi pengen bangat masukin cabai sekilo tuh mulut suka bohong."
"Ngga ada acara ketemuan berdua lagi dengannya, pokoknya semua harus atas izin Ayana dulu."
"Daddy dengar kan, Ayana ngomong?" tekan Ayana menatap penuh permusuhan ke arah Ritz.
Masa bodoh dengan tanggapan orang lain yang bisa saja menilai Ayana tidak baik.
__ADS_1
Mendengar keluhan lumayan banyak keluar dari mulut gadis kecilnya, cukup menjadi pendengar yang baik di lakukan Ritz.
Terlalu beresiko bila sampai memotong sedikit saja ucapan kesayangannya tersebut, ia hanya menganggukan kepala saja selama gadis cantik itu berbicara.
Gini amat punya satu bayi, kalau ngga di iyakan bisa bisa jatah peluk cium hilang dalam sekejap. De sah Ritz berbicara dalam hati
...****...
"Daddy dengar ngga sih apa yang barusan Ayana omongin?" kesal Ayana setelah puas meluapkan isi hatinya di hadapan Ritz.
"Iya sayang, udah ya marah-marahnya. Nanti cantiknya berkurang kan jadi sayang," jawab Ritz penuh kesabaran menghadapi tingkah posesif dan cemburu akut gadis kecilnya.
"Janji ngga akan ketemuan dengannya?"
Ritz mengangguk dengan sangat cepat.
"Ngga boleh terima telefon atau balas pesan?"
Lagi-lagi hanya ada anggukan kepala dari pria itu.
"Kalau pun mau ketemuan harus ada izin dari Ayana, paham?"
"Iya sayang, semuanya ikut keinginan mu Baby." Bukan Ritz namanya bila tidak akan menyela sedikit saja
Kepalanya sangat pusing menghadapi masalah dengan dua orang sekaligus yang bernama wanita.
"Udah dong sayang, lebih baik kita keluar OK? Daddy sangat lapar," kekeh Ritz sembari menarik pelan lengan Ayana menuju pintu keluar.
Dari pada duduk diam membiarkan gadis kecilnya terus mengoceh tanpa henti, akan lebih bagus bila mereka keluar ruangan untuk makan siang.
Radit dan Amalia ikut bersama pasangan belum jelas statusnya itu masuk ke dalam lift menuju lantai bawah tempat parkiran.
Pengen bangat gue buka suara sekedar basa-basi, tapi kalah saing dengan wajah masam si gadis kecil. Kekeh Radit berbicara di dalam hati
Apa ia ketinggalan sesuatu di dalam ruangan milik sang kakak?
Jika tahu begitu lebih baik tadi Radit memilih tetap tinggal di ruangan sang Presdir demi melihat pertunjukkan yang seru.
__ADS_1
"Singkirkan pikiran kotor mu itu, Radit." Cebik Amalia seolah tahu akan isi pikiran dari adik sepupu dari Bos nya
🍃🍃🍃🍃🍃