
Di ruang makan.
Sudah ada Ritz dan Radit, meski sudah waktunya sarapan, kedua pria tampan itu tidak akan menyentuh apapun sebelum si gadis cantik yang manja turun dari kamarnya.
"Radit," panggil Ritz yang mulai merasa bosan.
"Ya Kak." Sahut Radit menoleh kearah sang Kakak sepupu
"Kau mempunyai kekasih bukan?" Tanya Ritz serius.
"Benar, memangnya ada apa?" Jawab Radit balik bertanya.
"Kenapa semua wanita kalau dandan lama sekali?" Ritz akhirnya mengeluarkan isi pikirannya.
"Memangnya Maira ngga gitu?" heran Radit.
"Mana aku tahu, selama kita menjalin hubungan tidak sekalipun aku harus menunggunya berdandan sampai berjam jam lamanya. Yang ada malah dia yang menunggu ku." Terang Ritz jujur apa adanya sebab selama ini belum pernah ia menunggu sang kekasih berdandan
Adu debat dan rentetan pertanyaan antara kedua pria tampan tersebut berlangsung hampir lima belas menit lamanya, bahkan tidak jarang keduanya ikut tertawa bersama saat menceritakan perihal masalah wanita masing-masing.
Entah apa yang mereka bicarakan sampai harus terhenti kala seorang gadis cantik yang sejak tadi di tunggu akhirnya muncul juga, Ayana sudah turun dari lantai atas melangkah anggun menuju ruang makan di mana Radit juga Daddy nya sudah memasang wajah masam.
"Duh, pada kenapa tuh wajah mereka Bibi? Perasaan Ayana kok ngga enak ya." Sindir Ayana ikut duduk di samping Daddy nya, seraya tersenyum manis kearah dua pria tampan tanpa ekspresi sama sekali.
"Lihatnya wajah tidak berdosanya itu Kak! Hampir satu jam lamanya buat kita menunggu di meja makan, bahkan aku tidak lagi berselera untuk sarapan." Radit menatap kesal kearah gadis cantik yang pura-pura tidak tahu apapun kesalahannya
"Bukankah kita hanya akan ke kantor, untuk apa berdandan sampai selama itu. Bahkan ngga ada tuh yang terlihat berbeda, malah lebih kelihatan aneh loh Kak." Lanjutnya lagi sambil terus memperhatikan Ayana dari ujung rambut sampai ujung kaki, menurutnya tidak ada yang berubah tetap sama saja seperti biasanya.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria itu, sukses membuat Ayana memalingkan wajah kearah Radit.
"Paman tahu kenapa wanita suka lama kalau dandan?" Tanyanya serius tanpa ekspresi sama sekali
"Ngga bisa jawab ya?" Lanjutnya mengejek
"Kalau ngga tahu apa-apa jangan asal ngomong, kadang wanita pas di ajak pergi tapi lama bangat keluar kamar, bukan berarti mereka sibuk buat dandan biar kelihatan sempurna di mata orang. Wanita pada dasarnya ya suka ngga percaya diri apalagi minder, ketemu banyak orang harus bisa jaga sikap, terutama apa yang kita kenakan saat keluar. Ayana juga sama, ngga mungkin 'kan ikut Daddy ke kantor tapi pakaiannya ngga sesuai. Ngga mungkin juga Ayana pergi dengan memakai piyama tidur kan?" Jelasnya panjang kali lebar sambil sesekali menyuapkan sepotong roti yang sudah di olesi selai kacang kesukaannya.
"Yakin cuma dandan?" Selidik Ritz merasa ada yang di sembunyikan oleh gadis kesayangannya itu.
"Ngga usah di tanya lagi Kak, waktu kita hanya tersisa satu jam sebelum sampai kantor. Perjalanan dari rumah kesana memakan waktu setengah jam, kalau terus meladeni gadis kecil bicara yang ada kita malah membuat mereka menunggu." Selak Radit memotong pembicaraan antara Ayah dan Anak tersebut
Mereka sarapan tanpa ada lagi obrolan yang berlangsung, mengingat waktu terus berjalan.
Usai sarapan baik Ayana, Ritz dan Radit langsung bergegas menuju mobil yang terparkir di depan halaman rumah.
Mobil sedan warna hitam itu segera melesat dengan kecepatan di atas rata-rata.
🍀
Sampai di perusahaan, Ritz meminta Radit untuk pergi ke ruang rapat meninggalkan Ayana sendirian di ruangan miliknya.
Sepeninggal Radit dan juga Ritz, tidak berselang lama suara dering ponsel milik Ritz yang bergetar di atas meja membuyarkan lamunan Ayana.
"Siapa sih yang telefon, ngga tahu apa aku lagi asik-asik ngehaluin jadi seorang putri." Kesal Ayana segera meraih bendah pipih tersebut
Sebuah nama tertera begitu jelas di layar ponsel Ritz, satu nama yang sangat tidak di sukai Ayana sejak dua tahun terakhir ini.
(Maira)
Dengan cepat Ayana mengangkatnya.
Tit.
[Ya ampun sayang, kenapa lama bangat di angkat sih?]
__ADS_1
[Aku sms dari tadi ngga di balas, kamu lagi apa sebenarnya. Bukannya hari ini ngga sibuk?]
[Hallo, Ritz]
[Alfaritz Rendra, dengar ngga sih yang aku omongin?]
Ayana membiarkan Maira terus berbicara sendiri tanpa mau di jawabnya, baru saja ingin di matikannya tiba-tiba kalimat yang di keluarkan Maira barusan membuat hati gadis itu mencelos sakit.
[Jangan bilang kamu lagi sama gadis kecil sok manja itu?]
[kenapa sih Ritz setiap aku hubungin kamu selalu saja alasannya karena dia. Apa gadis itu begitu penting sampai kamu ngga punya waktu buat aku?]
[Aku ini tunangan kamu, calon istrimu. Tapi kenapa malah gadis itu yang selalu kamu utamakan? Aku muak dengan semua alasan kamu yang lebih mengutakannya dari pada aku]
Sekuat tenaga Ayana berusaha menahan emosinya, berharap Maira mau berhenti bicara.
"Ini aku, tante." Sahutnya kemudian merasa tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak ikut bicara
[Kenapa ponsel Ritz ada sama kamu? Dimana Ritz? Oh apa sekarang kamu sudah menguasai semuanya Ayana, iya?]
"Jaga bicara tante, ngga penting ponsel Daddy ada sama aku atau tidak, ngga usah marah-marah."
"Tante Maira tenang ajah. Saat Daddy datang nanti, aku akan memberitahu Daddy kalau tante telefon, bye."
Tutt.
Ayana memutus sambungan telefon secara sepihak, tanpa menunggu balasan kalimat dari Maira.
🍀
setengah jam berlalu, Ritz kembali dari Rapat yang lumayan singkat.
Ceklek
"Gadis kecil jangan nakal ya, aku akan ke perusahaan cabang sebentar." Ucap Radit saat masuk ke dalam ruangan
"Batal ke Mall-nya?" Tanya Ayana dengan sorot mata sedih
"Kan ada Kakak yang akan menemanimu pergi." Jawab Radit mencoba bernegosiasi
"Daddy ngga bisa bawa Ayana ke Mall Paman."
"Kenapa?" Tanya Radit kebingungan sebab yang ia tahu ketika rapat selesai Ritz berjanji akan menggantikannya menemani Ayana jalan-jalan.
"Ada yang lebih membutuhkan Daddy dari pada Ayana." Jawab gadis itu seraya menahan sesak dalam hatinya
Baik Ritz yang mendengarnya maupun Radit hanya saling pandang, tanda tidak mengerti dengan perkataan Ayana.
"Kenapa Daddy tidak bisa, sayang?" Tanya Ritz merasa ada yang membuat suasana hati putrinya tidak nyaman
"Jawab yang jujur gadis kecil!" Timpal Radit tidak kala ikut dibuat penasaran
Ayana diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari dua pria tampan di hadapannya tersebut. Di tariknya napas dalam-dalam lalu dibuang dengan perlahan.
"Tante Maira tadi telefon Daddy." Jawab Ayana datar namun terkesan santai
"Dia marah karena Daddy akhir-akhir ini sulit ditemui, katanya setiap pesan yang di kirimnya tidak satupun yang Daddy balas. Telefon juga banyak sekali alasan yang Daddy berikan, termasuk ..."
"Semua karena Daddy fokus ke Ayana saja." Lanjutnya berbicara tanpa menatap wajah Ritz yang tercengang tidak percaya
"Aa haha. Itu Kakak, sepertinya Aku harus segera pergi ke perusahaan cabang sekarang." Ucap Radit sengaja menghindar, jelas ia tahu selanjutnya akan seperti apa.
"Tetap di tempatmu, jangan coba-coba melangkah keluar dari ruangan ini" Ancam Ritz todak main-main
__ADS_1
Glek
Radit susah payah menelan ludahnya, seakan tenggorokannya habis dicekik kuat.
_Buset, salah aku di mana coba. Ayah dan Anak ini yang bermasalah, kenapa aku malah ikutan sih._ Rutuknya dalam hati seraya mengumpat kesal dengan situasi saat ini.
Sementara Ritz, sudah menghampiri putrinya yang duduk di sofa panjang dengan posisi menatap kearah luar jendela.
"Ayana marah sama Daddy?" Tanya lembut Ritz sudah duduk bersimpuh di atas karpet tepat di kaki putrinya, kedua tangannya bertumpu di atas paha gadis itu sambil menggenggam erat tangan mungilnya.
"Daddy tanya, Ayana marah sama Daddy?" Ulangnya lagi yang hanya di jawab Ayana dengan gelengan kepala
"Terus kenapa ngga mau lihat Daddy, hmm?" Gadis cantik itu membuang napas kasar sebelum menjawab
"Daddy sayang Ayana kan?" Tanyanya dengan suara parau ingin menangis
"Lebih dari nyawa Daddy sendiri," Ayana tersenyum manis mendengar jawaban yang di berikan oleh Daddy nya.
"Kalau begitu Daddy mau kan, turutin perkataan Ayana?" pintanya memohon.
"Maksudnya apa sayang? Jangan buat Daddy khawatir." Jawab Ritz dengan perasaan campur aduk
Diraihnya tangan mungil Ayana untuk di genggam, sekelabat bayangan negatif mulai terlintas di kepalanya saat gadis itu mulai berbicara lain.
"Ayana tahu, selama ini Daddy ngga pernah menjadikan Ayana berada di urutan kedua setelah tante Maira. Dan Ayana juga tahu kalau Daddy menjadikan Ayana sebagai prioritas utama, Daddy selalu mendahulukan perasaan Ayana dibandingkan kekasih Daddy." Ucap gadis cantik itu sambil menitikkan air mata
Rasa sakit karena cintanya belum terbalas tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit karena ada hati wanita lain yang terluka, dia cukup tahu diri dalam hal perhatian dan juga kasih sayang dari Ritz.
"Daddy ngga boleh gitu ke tante Maira," sambungnya sudah menangis tidak dapat lagi menahan sakit dihatinya.
"Ayana 'kan tahu kalau Daddy ngga bisa lakuin itu sayang," keluh Ritz mulai frustasi dengan perasaanya sendiri.
Memang benar selama beberapa hari ini ia jarang menghubungi kekasihnya, bahkan sekedar menerima telefon atau membalas pesan Maira tidak lagi di lakukannya.
Semenjak kejadian dimana Ayana dengan berani memberikan ciuman pertamanya pada Ritz, dari situlah perasaan dan pikiran pria itu mulai dilema. Entah apa yang terjadi.
"Daddy jangan gitu, tante Maira juga seorang wanita yang masih memiliki hati dan perasaan. Dia justru lebih membutuhkan Daddy sekarang, kalian sudah bertunangan. Dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, bagaimana bisa Daddy mengabaikannya begitu saja." Sentak Ayana sedikit berteriak
"Tapi ..."
"Jangan bicara lagi Daddy!" Selak gadis itu menutup mulut Daddy nya menggunakan jari telunjuk
Sekuat tenaga, Ayana berusaha untuk tersenyum semanis mungkin, berharap Ritz tidak lagi mempertanyakan setiap ucapannya.
"Ayana tidak ingin EGOIS, Dad."
Satu kalimat yang terucap dari mulutnya bagai pisau tajam yang menghunus dalam hati Ritz.
"Sayang," lirihnya menatap sendu kearah putrinya.
Rasa bersalah karena membuat dua wanita sekaligus di liputi rasa cemburu dan juga sakit hati, nyatanya mampu membuatnya kehilangan kata-kata.
"Ayana ngga apa-apa Dad," ucapnya kembali tersenyum manis.
"Pergilah! Temui kekasih Daddy, jangan biarkan tante Maira menunggu, OK."
Ayana meminta Ritz agar menemui kekasihnya yang katanya ingin makan siang bersama.
Tidak lupa Ayana mencium lembut seluruh wajah Daddy nya yang berakhir di bibir.
_I Love You Daddy._ Ucapnya namun hanya di dalam hati.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1