Daddy I Love You

Daddy I Love You
Tersisa Kenangan


__ADS_3

...🍁🍁🍁🍁...


Ayana menutup rapat mulutnya demi menghindari pria tampan yang kini mencarinya dalam kamar pribadi milik sekertaris Amalia.


Hanya karena tidak sengaja mendengar percakapan antara pria tampan itu dengan Bibi Cantik, sudah pasti Ayana belum siap bila harus bertemu sekarang.


Aunty tolong Ayana. Jerit gadis cantik itu dalam hati


.


.


"Baby keluarah! Daddy tahu kamu mendengar semuanya," seru Ritz terus mencari keberadaan gadis kecilnya di dalam kamar pribadi milik sang sekertaris.


"Tolong jangan bersembunyi lagi, kita bicarakan semuanya dengan baik-baik. OK" rayunya penuh rasa bersalah.


Betapa bodohnya pria tampan itu yang tidak melihat notifikasi pesan masuk dari Ayana, terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai melupakan bila hari ini gadis kecil kesayangannya akan berkunjung di perusahaan.


Sementara di luar kamar atau lebih tepatnya di depan pintu ruangan, masih ada Amalia dengan posisi yang sama berdiri kaku sambil berpegangan tangan pada gagang pintu.


Wanita cantik itu langsung bergerak dan ikut masuk ke dalam kamar setelah sadar jika sang Bos memasuki ruangan pribadi miliknya.


Selama ini belum pernah orang lain masuk ke dalam sana terlebih itu adalah pria, bahkan Ayana sendiri pun baru kali pertama nekat menerobos masuk ke ruangan pribadi milik wanita cantik itu.


"Pak Bos ngapain di kamar saya? Keluar sana!" kesal Amalia hendak mengusir keluar pria tampan yang berdiri tidak jauh dari posisinya berada.


"Ingatlah! Jika dalam ruangan saya tentu anda harus tahu batasannya ada di mana bukan? Saya harap pak Bos mengerti dan segeralah keluar dari kamar saya! " tambahnya sembari menarik paksa lengan kekar Ritz keluar dari dalam kamar.


Ritz yang tiba-tiba saja di tarik lumayan kuat, sampai mengadu kesakitan akibat kuku panjang Amalia menancap kuat di atas telapak tangannya.

__ADS_1


"Apaan sih, Liaa. Ngga usah pakai tarik-tarik segala juga dong, ini tangan aku sakit kena kuku kamu" balas Ritz dengan nada ketus sembari melepaskan cekalan tangan Amalia.


Terbiasa memanjakan dan membiarkan wanita cantik itu bebas melakukan apa saja tanpa harus menunggu persetujuan dari Ritz, nyatanya membuat sekertaris cantik kepercayaannya tersebut semakin besar kepala dan suka melawan.


Seperti yang tengah Amalia lakukan sekarang ini, bahkan perkataan Ritz seolah angin lalu baginya.


"Kamu kalau masih tetap paksa aku keluar, jangan salahan aku bila berlaku nekat" sambung pria tampan itu dengan gerakan cepat menarik balik lengan Amalia.


BUGH!


Tubuh tinggi semampai wanita cantik itu sontak terduduk di atas sofa panjang samping tempat tidur, punggungnya ikut membentur sandaran sofa saking kuatnya tarikan tangan yang di lakukan Ritz.


"Maaf Nona," kekeh Ritz tanpa merasa bersalah hendak menuju lemari pakaian yang terletak di bagian samping meja rias.


Amalia menatap tajam ke arah pria tampan di hadapannya tersebut dengan mulut menganga tidak percaya.


BUGHH


BUGHH


BUGHH


Amalia benar-benar melakukan apa yang terlintas di otaknya, rasa kesal dan gemas bercampur jadi satu.


"Aww, stop Amalia! Sakit," jerit Ritz memohon agar wanita cantik itu berhenti memukulinya.


Ritz bukan merasakan sakit hanya karena pukulan tidak berasa dari Amalia, sedari tadi justru matanya begitu fokus menatap tajam penuh intimidasi ke arah celah pintu lemari pakaian yang sengaja di buka Ayana.


Menarik, ternyata kucing nakal itu sedang bersembunyi di sana. Bathin Ritz menyeringai tipis

__ADS_1


Apapun yang di lakukan Amalia hanya untuk mengusir sang Bos keluar dari ruangan pribadinya, tidak membuahkan hasil apapun.


Pada dasarnya wanita cantik itu memang berniat ingin membiarkan Ayana bertemu dengan Ritz, mencoba jadi sosok yang hanya akan memperkeruh keadaan bukanlah sikap Amalia.


"Saya keluar dulu, selesaikan masalah di antara kalian dengan cara baik-baik" seru Amalia pasrah langsung membuang bantal tepat di wajah Ritz.


"Kamu kelewatan sekali Liaa," sahut Ritz ingin membalas perbuatan sekertaris nya namun urung ia lakukan.


Amalia hanya tersenyum miring seraya melangkah pelan menuju arah pintu kamar meninggalkan Ayana bersama pria tampan tersebut.


.


.


Langkah kaki jenjang Amalia berhenti sejenak.


"Mungkin cerita dari kisah masa lalu anda, akan terulang kembali andai gadis kecil itu meminta anda menceritakannya," ucap Amalia masih berdiri di ambang pintu.


"Ceritakan yang penting saja pak Bos! Selebihnya biarkan semua menjadi kisah suram yang hanya tersisa kenangan dan tidak harus semuanya anda ungkapkan."


Usai mengatakannya, baru wanita cantik itu benar-benar pergi.


Bukan hanya keluar dari dalam kamar, melainkan Amalia keluar meninggalkan ruangan miliknya dan memberikan ruang privasi untuk dua orang di dalam sana.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Berusaha tetap update walau yang like.hanya sedikitπŸ˜ͺπŸ˜ͺ


Apalah daya ceritanya masih jauh dari kata sempurna.

__ADS_1


__ADS_2