Daddy I Love You

Daddy I Love You
Rencana


__ADS_3

...🌿🌿🌿🌿...


#Pagi Tiba


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan, tidak terkecuali Ayana dan Ritz.


Mereka sarapan pagi dengan tenang tanpa di barengi obrolan ringan.


Usai sarapan semuanya kembali di sibuk kan dengan pekerjaan masing-masing, para pria berangkat ke perusahaan dan rumah sakit sedangkan para wanita tinggal di rumah, kecuali Amalia yang harus ikut bersama Ritz.


Eyang sengaja meminta sang cucu agar tidak selalu membawa Ayana kesana kemari di karenakan keadaan di luar sana belum memungkinkan.


Tidak ada yang tahu bagaimana jika salah satu atau sebagian tamu undangan yang hadir di acara ulang tahun Ayana, ada yang buka suara.


Sekuat apapun mereka mencegahnya tetap saja ada yang tidak bisa di percaya, hal ini sudah pasti akan mempengaruhi kondisi mental gadis itu.


...****...


"Ayana takut, Mah" bisik si cantik kesayangan Ritz di telinga wanita cantik tersebut.


"Ngapain harus takut? Biarkan saja mereka berbicara sesuka hati di luar sana, sebab yang jauh lebih tahu putri cantik mama ini tentu mama sendiri." Ucap mama Ritz santai


"Tapi, apa kata mereka nanti jika tahu calon istri Daddy bukan lagi tante Maira?" tanya Ayana serius.


Wanita cantik yang merupakan ibu kandung dari pria tampan kesayangan Ayana tersebut terdiam sejenak sebelum menjawab.


Di tatapnya lekat lekat wajah cantik gadis itu lumayan lama, sampai yang di tatap jadi malu dan salah tingkah.

__ADS_1


Kepolosan Ayana dan ketulusan hatinya mampu membuat siapa saja mudah luluh dan begitu sayang padanya.


"Kamu kenapa sayang, kok pipinya ada merah?" goda mama Ritz tanpa mengalihkan tatapan matanya.


"Jangan liatin Ayana mulu dong Mah, kan Ayana jadi malu" jawab gadis cantik itu dengan wajah menunduk malu.


Semenjak Ayana menceritakan perasaan yang tersimpan rapat hampir tujuh tahun lamanya terhadap Ritz pada wanita itu, hanya dalam waktu sebulan dirinya semakin dekat dan akrab dengan ibu dari pria kesayangannya itu.


"Bersikaplah seperti biasanya sebelum mama tahu pria mana yang hampir membuat jantung mama copot hanya gara-gara kamu masuk rumah sakit bahkan sampai harus di operasi." Cebik wanita tersebut berbicara panjang lebar


Ayana menatap malas ke arah si cantik yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah dengan bibir yang mengerucut sempurna.


"Ish, mama jahat" balasnya tidak suka.


"Mana ada, kan mama bicara jujur apa adanya masa di bilang jahat" elak mama Ritz sengaja menggoda gadis kesayangan sang putra.


"Auu aaa, Ayana ngga mau lagi ngomong sama mama." Seru gadis itu seraya bangkit dari tempat duduk


"Bye mama sayang. Permisi, gadis cantik kesayangan anak mama mau lewat dulu." Kekeh Ayana kemudian berlari kencang menuju arah tangga


Eyang yang kebetulan baru datang dari arah kamar di buat kaget akan tingkah Ayana.


"Kenapa dia berlari, sayang?" tanya wanita baya tersebut pada menantunya.


"Bukan apa-apa kok Mih, biasa kalau aku udah mulai bicara lain pasti ujungnya bakal kayak gitu." Jawab sang menantu tertawa


Kedua wanita beda usia tersebut menggunakan waktu santai dengan mengobrol sambil sesekali mengghibahi Ayana dan Ritz.

__ADS_1


...****...


#Di Perusahaan


Rapat penting yang memakan waktu sekitar 3 jam lamanya akhirnya berakhir juga, dapat di lihat bagaimana marahnya sang papa ketika mengetahui ada yang berbuat curang di perusahaan.


"Kenapa bisa sampai kebobolan begini Ritz?" tanya papa Ritz sedikit berteriak.


"Maaf Pah," jawab Ritz sangat menyesali kecerobohannya.


"Bukankah sudah berulang kali papa peringatkan agar tidak sembarangan percaya pada orang lain, kalau sudah begini akan lebih sulit mencari jalan keluarnya." Geram Alfian kini menatap tajam penuh amarah ke arah putranya


"Semua salah ku tidak berhati-hati waktu itu, maaf Pah." Sahut Ritz kembali meminta maaf


Alfian memilih pergi meninggalkan ruangan sang putra untuk pulang ke rumah, ia butuh wanita kesayangannya untuk menenangkan diri akibat kecerobohan putranya sendiri.


"Urus semuanya sampai selesai!" Pinta Alfian sebelum keluar ruangan


"Mintalah sopir membawa Ayana kemari, setidaknya keberadaan gadis itu bisa mengurangi rasa lelah mu." Lanjutnya kemudian benar-benar meninggalkan sang putra yang masih diam berdiri bak patung.


Radit yang paham tidak perlu lagi menunggu perintah sang kakak, dengan cepat ia menghubungi orang rumah mengatakan maksud dan tujuannya.


Usai berbicara di telefon, Radit pamit undur diri menuju ruanganya. Belum sampai di depan pintu ruangan, ia berbalik melihat ke arah sang kakak seraya berpesan.


"Ingat kak, gunakan akal sehat mu sebelum mengambil keputusan. Masih banyak lagi yang harus di selidiki, aku harap masalah ini cepat selesai."


Setelah mengutarakan maksudnya, Radit benar-benar menghilang dari balik pintu yang kini tertutup rapat.

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


__ADS_2