
...ππππ...
Ayana hampir kehilangan batas kewarasannya ketika menghadapi sikap Ritz yang mabuk entah karena masalah apa, selama tujuh tahun mereka hidup bersama belum pernah sekalipun gadis cantik itu mengetahui sang Daddy menyentuh minuman beralkohol tersebut.
Niat awal ingin membantu Daddy nya membersihkan diri pupus sudah di gantikan dengan kegilaan pria tampan itu yang kadang marah dan sesekali menuduh Ayana tidak-tidak.
Mulai dari mengungkit masalah yang sudah berlalu sampai mengaitkan orang lain dalam perdebatan mereka, bukan Ayana tidak tahu apa penyebab pria itu sampai begini, sedari tadi selalu menyebut nama sang kekasih yang berada jauh di sana membuat hati kecil gadis itu seperti di tusuk ribuan pisau tajam.
.
.
"Daddy kalau ngga mau diam juga, sumpah demi apapun bakal aku tinggal." Ucap Ayana dengan ancaman mutlak tidak mampu lagi menghadapi keanehan sang Daddy
Mata Ritz yang sudah memerah karena mabuk dan mengantuk, kembali terbuka lebar saat kalimat ancaman terucap dari mulut gadis cantik kesayangannya tersebut.
"Coba ulangi sekali lagi?" titah Ritz dengan mata menatap tajam ke arah lawan bicaranya.
Kali ini hilang sudah sisi kewarasan Ayana ketika menghadapi tingkah laku Ritz yang menurutnya kelewatan batas.
Nafas Ayana memburu dengan tangan mengepal kuat, habis sudah rasa sabarnya menghadapi sosok gila di hadapannya sekarang.
Pengen gue pitas sekalian biar ngga ingat terus sama si kunti. Geram Ayana berbicara di dalam hati
Sebagai seorang wanita tentu Ayana masih memiliki perasaan dan hati, mengucap kata Cinta padanya tetapi masih menyebut nama wanita lain di hadapannya. Sungguh miris
Tidak kuat mengikuti permainan bodoh pria tampan yang sukses merebut hatinya, bukan Ayana bila mudah di kelabui seperti sekarang ini.
"Daddy jangan berbohong lagi, Ayana bukan anak kecil berusia 5 tahun yang dengan bodohnya percaya bahwa Daddy benar-benar mabuk berat." Kekeh gadis cantik itu seraya menatap mengejek ke arah Ritz
"Mana ada orang mabuk bisa nyebut lafaz Allah begitu fasih," tambahnya dengan nada penuh kekesalan.
Dia bukan gadis kecil lagi yang dengan bodohnya mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut orang dewasa seperti Ritz, cukup dulu Ayana pernah di kelabui sang Daddy ketika ingin menemui sang kekasih bernama Maira.
Alih-alih keluar malam untuk bertemu dengan sahabat-sahabat Daddy nya, justru yang sebenarnya pria tampan itu lakukan malah pergi mengunjungi Apartement wanita cantik musuh bebuyutan Ayana.
.
.
__ADS_1
Ritz yang ketahuan tengah berbohong dengan cepat merangkak naik ke atas tempat tidur demi menghindari amukan gadis kecilnya, tanpa di sadari ia telah membuat Ayana murka.
Tentu dugaan Ritz tepat sasaran, ia yakin sepertinya Singanya marah besar kali ini.
Mampus kau, Ritz. Kali ini berhasil membangunkan singa yang sedang tidur. Umpat Ritz dalam hati
.
.
"Siapa yang suruh Daddy tidur, hmm?" tanya Ayana dengan perlahan mendekat ke arah tempat tidur.
"Daddy ngantuk sayang," jawab Rit lemas.
"Bangun!" titah Ayana serius.
"Jangan sekarang sayang, ok." Mohon Ritz dengan wajah memelas
Gadis cantik itu menggelengkan kepala tidak, cukup sudah malam ini kesabarannya terus di uji.
"Daddy sengaja kan?" tuduh Ayana langsung menohok hati Ritz.
DEG!
Jantung Ritz berdetak kencang, menyadari apa yang di lakukanya beberapa waktu lalu.
"Daddy bilang selama kita bersama, tidak akan ada nama wanita itu terucap keluar dari mulut Daddy, benar kan?"
"Daddy juga bilang kalau di hati Daddy cuma Ayana seorang, tidak ada lagi tempat untuk Tante Maira, apa itu bohong?"
"Daddy juga bilang ke Ayana jika masalah yang di alami pada wanita itu sudah lama Daddy ketahui, bahkan orang-orang suruhan Daddy pun selalu memberikan informasi tentangnya. Terus sekarang apa?"
Tubuh lemah Ayana jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.
"Siapa aku, bagimu? Dimana tempat yang kau maksudkan ada aku di sana? setiap hari mengucapkan kata cinta dan dengan bangganya aku merasa bahagia, tidak ada sekalipun terbesit dalam pikiran ku bahwa Daddy bisa saja hanya ingin membuat ku merasa nyaman dan tidak terbebani."
Hati Ayana sungguh sakit bila selalu menerima tekanan dari pria yang sangat dia percaya selama ini.
"Bila hati mu masih tersimpan namanya walau sedikit, lebih baik jangan ucapkan kata cinta selagi status di antara kita masih ada dinding besar yang berdiri kokoh di sana." Ungkap Ayana pasrah akan takdir yang di milikinya
__ADS_1
Ritz yang ikut duduk di samping gadis kecilnya, tanpa persetujuan meraih tubuh mungil Ayana masuk ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu ucapkan sayang? Bukan ini yang aku inginkan keluar dari mulut mu," sahut Ritz lirih tanpa mengindahkan rontaan Ayana ingin melepas pelukannya.
"Sebegitu bencikah dirimu ketika satu nama itu terucap dari mulut ku?" tambah Ritz bertanya.
.
.
.
"Jika kau sendiri tahu akan jawabannya lalu untuk apa pertanyaan itu keluar dari mulut mu?" jawab Ayana terlampau tenang
Jleb!
Hati Ritz mencelos sakit mendengar jawaban yang terucap dari mulut gadis kesayangannya.
"Sayang, aku"
"Tolong!" potong Ayana dengan cepat.
Dadanya terasa sesak tetapi mulutnya sangat sulit untuk diam.
"Bisakah selama kita bersama jangan ada nama wanita itu membayangi di antara kita?" pinta Ayana memohon.
"Rasanya sakit sadar akan posisi ku sekarang, tempat ku di hatimu masih lah abu-abu Daddy. Bahkan bila sedikit saja kau menyebut nama wanita itu di hadapan ku, tanpa sadar kau mengingatkan di mana posisi ku yang sebenarnya." Lanjutnya dengan nada bergetar menahan tangis
Tanpa di minta air mata Ritz ikut terjatuh melihat betapa rapuhnya seorang gadis yang kini memeluknya begitu erat.
.
.
.
ππππ
Maaf ya kalau misalnya cerita ini belum sempurnaπ
__ADS_1