Daddy I Love You

Daddy I Love You
DILY BAB 20 ~ Pertemuan Dengan Keluarga Maira


__ADS_3

Hampir satu minggu lamanya Ayana tinggal bersama Eyang.


Selama disana, gadis cantik itu tidak mengeluh apapun pada Ritz. Semua berjalan seperti biasanya, suasana yang terbilang sejuk dan tenang, membuat Ayana melupakan sejenak beban dalam hatinya.


Setiap hari Ritz hanya memberi kabar melalui sambungan telefon atau vidio call, jika Ayana mulai merasa rindu.


Banyaknya kesibukan sang Daddy di kantor dapat Ayana mengerti, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini justru perasaan gadis itu sedikit tidak nyaman.


Sejak usai sarapan, Ayana terus menghubungi sang Daddy. Tapi hasilnya nihil hanya ada nada sambung yang di dengarnya.


"Daddy ngapain ya?" gumam Ayana pelan sambil sesekali menormalkan detak jantungnya.


Bayangan Ritz sedang bersama sang kekasih terus berputar di otak Ayana.


"Hah, beginikah rasanya menahan diri untuk tidak serakah? Setiap saat mencoba ikhlas dengan perasaan yang sepihak, aku rasa selama ini hanya membodohi diri sendiri." Ayana hanya bisa pasrah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti


Tinggal dua bulan lagi Ayana akan berulang tahun yang ke-18, itu tandanya semakin bertambah usia gadis itu, semakin dewasa juga pola pikirnya.


"Setiap ulang tahun ku di rayakan pasti Daddy lah orang pertama yang mengucapkan selamat."


"Tapi, aku rasa tahun ini mungkin berbeda." De-Sah Ayana menahan sesak dalam hati


Beberapa hari yang lalu, dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Eyang dengan orang tua Ritz di ruang keluarga.


Mereka membahas tentang acara lamaran yang akan di lakukan dua bulan mendatang, yang membuat hati Ayana sakit adalah bulan dan tanggalnya bertepatan di hari ulang tahunnya.


Kala itu, Ayana hanya bisa mendengarkan apa saja yang di bicarakan Eyang. Semua sudah di siapkan jauh-jauh hari oleh keluarga besar Bachtiar, tidak heran jika berita mengenai acara lamaran yang akan di langsungkan dua bulan mendatang itu sudah tersebar luas sampai keluar.


.


.


Sejak makan siang, Ayana tidak lagi keluar dari dalam kamarnya. Panggilan Eyang dan Mama Ritz tidak di hiraukan, gadis itu memilih diam meringkuk di tengah ranjang sambil memeluk guling dengan erat.

__ADS_1


Rasa kesal dan marah bercampur jadi satu mana kala dia membaca satu pesan singkat yang masuk dari sang Daddy.


Isi pesan yang mengatakan hari ini belum bisa pulang ke rumah Eyang, sebab ada pertemuan dengan keluarga Maira dan tentu Ritz menolak pun tidak bisa.


Helaan nafas panjang begitu jelas terdengar.


"Sesakit inikah rasanya, Tuhan?" Lirih Ayana menangis dalam diam


"Aku tidak meminta lebih, cukup kuatkan hatiku jika memang ia bukanlah pria yang bisa aku jadikan tempat bersandar. Rasanya sakit menahan sebuah rasa begitu lama, menahan untuk tidak cemburu buta, menahan diri untuk tidak bersikap egois. Aku telah berusaha melakukannya Tuhan, semua yang bisa aku lakukan sudah aku coba."


"Tapi apa harus begini? Jantung ku bagaikan di tusuk pisau tajam ribuan kali, rasanya sungguh menyakitkan, setiap kali berpura-pura tegar membuat ku semakin tersiksa."


Tangis pilu seorang gadis cantik yang begitu tersiksa dengan perasaan yang dia miliki menggema di seluruh ruangan kamar yang kedap suara.


Teriakan frustasi dan juga ungkapan dari hatinya terus keluar dari bibir mungil yang sedikit memucat, tidak ada yang tahu jika gadis itu sekarang membutuhkan pelukan dari seseorang.


Satu jam kemudian terdengar deru napas tersengal keluar dari mulut Ayana. Rasa sesak dan sulit bernapas mulai gadis itu rasakan, untuk mencoba bicara saja dia tidak bisa.


"Aaa, aaa--," Ayana tidak dapat berbicara, lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya mulai sakit.


Dengan langkah kaki yang bergetar hebat gadis itu berjalan pelan menuju pintu kamar, berharap ada orang lain di luar sana yang bisa menolongnya.


_Jangan sekarang Tuhan, bukan ini yang aku inginkan_. Bathinnya terus memohon


Sementara Di Perusahaan.


Usai mengirimkan pesan pada putrinya lima menit yang lalu, kini Ritz sudah bersiap pulang kantor bersama Radit.


Mereka akan menghadiri acara pertemuan dengan keluarga Maira, dan sudah pasti semua telah menunggu.


"Apa yang kamu lakukan Radit?" Tanya Ritz melihat adik sepupu sekaligus Asistennya itu sibuk dengan ponsel


"Haa? Tidak ada apa-apa Kak, hanya mengecek beberapa Email yang baru saja di kirim sekertaris Amalia." Jawab Radit sebenarnya berbohong

__ADS_1


Ritz yang tidak curiga memilih berjalan keluar ruangan lebih dulu, ia meninggalkan Radit yang mengekor di belakanngnya sambil melangkah pelan.


_Eyang tidak bohong kan?_ Tanya Radit berbicara dalam hati


Entah apa isi dari sebuah pesan yang masuk di kirim oleh Eyang pada Radit, tidak ingin berprasangka buruk pada sang Eyang dengan cepat Radit menyusul Ritz sudah masuk ke dalam lift.


Pertemuan yang di adakan dengan keluarga Maira berlangsung hampir dua jam lamanya.


Selama itu juga gelagat Radit semakin uring-uringan, raut wajah yang panik sesekali di lihat Ritz. Tetapi ia tidak ingin bertanya apapun.


"Makasih ya sayang, akhirnya sebentar lagi kita akan menikah." Ucap Maira sangat bahagia sebab hari yang di nantinya sejak dulu akhirnya tiba juga


"Mmm, dan aku harap semua yang aku katakan barusan benar-benar akan kamu lakukan!" Balas Ritz dengan kalimat yang tegas


Dalam hati, Maira hanya bisa tertawa miris. Mana mungkin dia akan meninggalkan karirnya hanya karena sudah menikah, bukankah itu hal yang mustahil?


_Aku takan pernah mau berhenti berkarir sampai kapanpun itu_. Ucap Maira berbicara dama hati


Usai pertemuan, Ritz lebih dulu meninggalkan Maira dan orang tuanya di Restaurant.


Adanya sebuah pesan yang masuk dari sang Eyang, membuat dada Ritz bergemuruh hebat ingin menghancurkan apa saja yang berada di hadapannya.


Sepanjang perjalanan, Ritz terus mengumpat kesal akibat jalanan yang sangat macet. Beberapa pengendara sampai balik berteriak mana kala mobil Ritz berusaha menerobos masuk ke tengah jalan.


"Woy, cari mati yaa."


"Apa pria itu sudah gila?"


Dan masih banyak lagi umpatan yang di berikan pada Ritz, tidak peduli dengan teriakan mereka yang merasa tidak nyaman. Ritz tetap melajukan mobilnya sampai tepat keluar dari zona kemacetan yang cukup parah.


Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu membela jalan raya menuju rumah sakit milik keluarga Bachtiar, sementara Radit yang duduk di sampaing Ritz sejak tadi hanya diam tanpa berani buka suara. Ia sadar habis ini pasti akan mendapat hukuman dari sang Kakak, karena sudah berani menyembunyikan kebenaran yang jelas-jelas harus di ketahui oleh Ritz.


_Maafkan aku, kak. Jika bukan karena Eyang menyuruhku untuk menutup mulut, aku mana mungkin menutupinya darimu._ Bathin Radit merasa bersalah

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil Ritz sudah tiba di area parkiran khusus rumah sakit.


🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2