Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (36) Nyaris Kecoplosan


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Hampir satu jam lamanya Ritz keluar entah kemana, di rumah utama Ayana uring-uringan mencari keberadaan pria kesayangannya itu.


"Daddy mana Eyang?" Tanya Ayana berulang kali


Mata gadis itu sudah berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya, ini adalah terakhir kalinya Ayana bisa melihat dan mendengarkan suara sang Daddy.


"Daddy pergi kemana? Bukankah sudah janji tidak akan meninggalkan ku?" Lirih Ayana


Mama Ritz ingin menghampiri Ayana lagi di dalam kamar, namun melihat gadis itu seakan butuh ketenangan urung dia lakukan.


"Maafkan mama, sayang. Andai kamu tahu bahwa pembicaraan kita telah di dengarnya, mama tidak yakin bagaimana reaksi mu saat berhadapan dengan putra mama." Gumam mama Ritz berbicara pelan


Wanita itu kembali turun ke lantai bawah untuk menghubungi sang putra, sebagai seorang ibu bukanlah hal yang muda baginya menjadi penengah antara dua orang yang terhalang dinding pemisah.


Tuuttt.


(Hallo, Mah.)


"Kamu dimana sayang? Cepatlah kembali! Sejak tadi Ayana terus mencari mu dan menangis."


(10 menit lagi aku sampai.)


"Ok, mama tunggu."


***


Usai berbicara di telefon, mama Ritz menuju ruang keluarga di mana semua orang berkumpul di sana.


Tidak berselang lama deru suara mobil milik Ritz terdengar memasuki halaman rumah, pria tampan itu bergegas naik ke lantai atas tanpa menghiraukan pertanyaan dari sang Eyang.


CEKLEK!


Pintu kamar di buka perlahan, wajah sembab Ayana lah pertama kali di lihat Ritz. Dengan langkah tergesa ia masuk ke dalam kamar menghampiri gadis kesayangannya.


"Hey, kenapa menangis sayang?" Ritz langsung mendekap erat tubuh mungil Ayana


Ia masih belum yakin dengan kenyataan yang menurutnya tidak mungkin terjadi, tetapi menolak percaya pun ia rasa mustahil.


"Ssst, tenanglah Daddy minta maaf sudah meninggalkan mu tadi." Rayu Ritz berusaha menenangkan


"Jangan pergi lagi, Daddy kan tahu setelah ini kita tidak bisa saling memberi kabar apapun alasannya." Sahut Ayana masih menangis


"Maaf, Daddy janji tidak pergi lagi." Bisik Ritz pelan di dekat telinga gadis kesayangannya


Entah harus bahagia atau justru sebaliknya, yang jelas mengetahui selama ini gadis manja yang ia rawat selama tujuh tahun menaruh perasaan padanya, sukses membuat hati dan pikiran Ritz menjadi kacau.


Ayana terlelap dalam dekapan hangat Ritz, tempat ternyaman dan teraman selama gadis itu menjadi putri angkat dengan berlimpah kasih sayang dan perhatian.


...****...


Dua jam kemudian Ayana bangun dari tidur nyenyaknya, posisi yang masih sama sebelum dia tertidur. Akan tetapi, ada yang mengganggu penglihatannya.


Saat mata Ayana terbuka yang pertama kali di lihatnya adalah wajah tampan milik sang Daddy dengan mata menatap intens ke arahnya, seolah itu pertama kali di alami Ayana.


"Daddy, hmmpt."

__ADS_1


Ucapan Ayana terhenti kala bibir Ritz sudah membumkam mulutnya, lum atan lembut dan hangat di rasakan gadis itu.


Ritz tidak memberikan Ayana sidkit saja jeda, ia berhenti setelah di rasa pasokan oksigen gadis itu mulai menipis.


Plakkk!


"Aww, sakit sayang." Keluh Ritz meringis kesakitan


Ayana nekat menamparnya lumayan keras.


"Daddy kenapa sih tiba-tiba jadi mesum begini?" Kesal Ayana tidak habis pikir


Bagaimana tidak, ciuman yang Ayana kira hanya sekedar ciuman biasa saja ternyata malah menjalar kemana-mana. Tangan Ritz hampir saja menyentuh sesuatu yang tidak boleh di sentuh.


Ritz yang tidak menyadari letak kesalahannya sampai di buat bingung, melihat Ayana mulai mengomel tanpa henti.


"Apa lihat-lihat, tuh kan pasti Daddy ngga sadar barusan." Geram Ayana menatap tajam ke arah sang Daddy


"Apa? Memangnya Daddy ngapain tadi?" Tanya Ritz bingung


"Tau aa, lebih baik ngga usah di bahas dari pada akhirnya kebablasan." Jawab Ayana langsung bangkit dari tempat tidur


Ritz memperhatikan gerik-gerika putri angkatnya, ingin sekali ia bertanya langsung. Tetapi terlalu takut akan kondisi mental gadis itu, terlebih hari ini mereka akan berpisah dan mungkin tidak pasti kapan bertemu kembali.


...****...


Usai makan siang, Ritz mengajak Ayana pergi ke suatu tempat yang belum pernah mereka datangi.


Jadwal keberangkatan masih ada sekitar lima jam, itu artinya masih ada sisa beberapa jam lagi sebelum mereka berpisah.


Ritz mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan Ayana terus bercerita apa saja yang menurutnya lucu.


"Daddy serius kita datang kesini?" Tanya Ayana memastikan


Pasalnya tempat yang mereka datangi hampir semua pengunjung adalah pasangan suami istri atau pasangan kekasih, sedangkan mereka hanyalah ayah dan anak angkat.


"Pulang ajah yuk Dad, ngapain coba kita datang kesini? Lagi pula mereka semua adalah pasangan, sementara kita bukan." Sambung Ayana merasa tidak nyaman


Melihat sejak tadi Ritz hanya diam saja tanpa mengatakan sepata kata pun, membuat Ayana di runduh kesal.


Baru saja gadis itu hendak masuk ke dalam mobil, tangan Ritz dengan cepat meraih tubuh mungilnnya kemudian di gendong.


"Daddy jangan mulai lagi." Keluh Ayana sangat malu


Mereka akan tetap jadi pusat perhatian di manapun dan kapan pun itu.


"Selamat siang Tuan Ritz, mari saya antar." Sapa seorang pria menuntun Ritz dan Ayana menuju salah satu gazebo


Ayana hanya diam tanpa berani mengangkat wajahnya, terlalu malu untuk melihat keadaan sekitar.


"Silahkan Tuan Ritz, pesanan anda akan sampai beberapa menit lagi."


"Saya permisi dulu, selamat siang."


Ritz hanya menganggukan kepala, ia terlalu fokus pada gadis cantik yang masih betah bersembunyi di balik lehernya.


"Apa begitu nyaman?" Goda Ritz sengaja memainkan hidung mancung miliknya di telinga Ayana

__ADS_1


"Iiih, geli Daddy." Protes Ayana seraya mengangkat wajahnya


Matanya menatap ke sekeliling di mana ada banyak gazebo penuh dengan pengunjung.


"Kita ngga lagi kencan kan, Daddy?" Tanya Ayana bingung


Tempat ini terlalu romantis bagi Ayana.


"Kalau iya kenapa, Ayana tidak suka?" Jawab Ritz balik bertanya


Ayana tersenyum begitu manis mendengar jawaban dari mulut pria itu, sedetik kemudian dia menepis jauh harapan yang mustahil terjadi.


Tidak berselang lama makanan yang di pesan Ritz sudah datang, mereka mulai menikmati hidangan yang tersaji di atas meja kecil.


...****...


Saat ini Ayana berada di tepi danau, sehabis makan dia meminta Ritz jalan-jalan sebentar.


"Danau nya jernih ya, Dad? Begitu tenang dan nyaman, Ayana jadi malas pulang kalau begini." Ucap Ayana dengan kekehan


Ritz hanya diam sambil menatap intens wajah cantik alami milik Ayana.


"Daddy tahu ngga, sejak dulu Ayana punya keinginan besar ingin mengajak Daddy liburan berdua. Tanpa adanya orang lain yang hanya menjadi pengganggu."


"Menjadi satu-satunya gadis paling beruntung bisa dekat dengan Daddy adalah hal yang paling Ayana syukuri."


Manik matanya sedikit mengeluarkan cairan bening.


"Ayana selalu berdo'a semoga kedepan nanti kebahagiaan selalu bersama Daddy, setiap hal baik terus datang di hidup Daddy."


Gadis itu sedikit menjeda ucapannya.


"Tante Maira merupakan wanita paling beruntung bisa menjadi calon pendamping Daddy, apalagi tidak lama lagi kalian akan segera menikah."


"Pasti Ayana akan sedikit merasa iri dan cemburu, dan mungkin sedikit tidak rela. Tetapi Ayana ngga boleh egois hanya karena Daddy yang akan menikah. Sebenarnya,,"


Sekuat tenaga Ayana menahan air mata yang jatuh tanpa di minta.


"Kamu menyukuai Daddy bukan?" Tanya Ritz tiba-tiba atau lebih tepatnya ia sengaja


Tanpa sadar mulut Ayana menjawab spontan.


"Iya, Ayana sangat menyukai Daddy." Jawabnya polos


"Suka sebagai apa?" Pancing Ritz


"Sebagai,," Ayana segera menutup rapat mulutnya sadar akan pertanyaan sang Daddy


Hampir saja dia nyaris kecoplosan saat Ritz dengan berani bertanya.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Like dan komen yuk ramaikanπŸ™πŸ™


__ADS_2