Daddy I Love You

Daddy I Love You
D_I L You (28) Kasihan Tapi Tahan


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Ritz yang tiba-tiba keluar FILA, segera masuk ke dalam mobil. Tujuannya saat ini adalah Kafe milik salah satu sahabatnya, kebetulan tempat itu tidak jauh dari FILA.


Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, kesal dan marah bercampur jadi satu memenuhi hati dan pikiran Ritz.


Beberapa pengendara yang lewat sampai meneriaki Ritz karena membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


Tidak sampai lima belas menit, mobil Ritz sudah terparkir indah di parkiran samping Kafe. Ia di sambut hangat sang sahabat yang berdiri di depan Kafe, lama tidak berjumpa membuat Ritz sedikit cangggung.


"Sorry ya Kaf, gue baru bisa temuin lo sekarang." Ucap maaf Ritz pada sahabatnya


"Santai aja, lagian gue juga tahu kesibukan lo akhir-akhir ini." Sahut Kafka seraya tersenyum


"Ayo masuk, kebetulan yang lain juga datang kemari sekalian kita bersenang-senang." Lanjut Kafka mengajak Ritz masuk ke dalam Kafe miliknya


Mereka menuju lantai atas tempat di mana Kafka sering menghabiskan waktu bersantai, entah itu hanya sendiri atau bersama sahabatnya yang lain kecuali Ritz.


Sesampainya di lantai atas, ketiga pria yang duduk santai sambil meminum minuman yang mengandung alkohol, di buat kaget melihat kedatangan Ritz yang menurut mereka begitu kebetulan.


"Lihatlah siapa yang datang!" Seru Alga


"Si gila kerja akhirnya punya waktu luang juga." Sambung Haikal


"Suatu keajaiban bisa melihat si tuan gunung es bisa ikutan gabung." Timpal Dafa


Melihat ketiga sahabatnya perasaan Ritz sedikit lega, ia keluar FILA sampai meninggalkan Ayana bukan untuk mencari kesenangan di luar. Cukup bertemu sahabat-sahabatnya mampu menghilangkan beban yang ada dalam hati dan pikirannya.


Jika ke empat sahabatnya terbiasa bila sedang berkumpul tidak jauh dari minuman mengandong alkohol, berbeda dengan Ritz yang sejak dulu tidak sekalipun menyentuh minuman tersebut.


Ritz bukan tipikal pria yang suka bermain bebas dalam pergaulan, cukup para sahabatnya saja yang suka bermain-main.


Malam semakin larut tidak terasa jam sudah menunjukkan angka 11 malam, itu tandanya Ritz lumayan lama keluar dari FILA meninggalkan si cantik jelita kesayangannya.


"Sial, terlalu asik mengobrol sampai lupa ada gadis kecil yang aku tinggalkan." Gerutu Ritz berbicara pelan


Gerak-geriknya di perhatikan oleh ke empat sahabatnya yang kebetulan masih dalam kondisi sadar meski banyak yang mereka minum.

__ADS_1


"Lo kenapa?" Tanya Alga keheranan


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Sambung Dafa tak kalah ikut merasa heran


"Gue tahu apa yang di khawatirkannya." Ucap Kafka serius membuat yang lainnya penasaran


"Soal apa? Kekasihnya atau hal lain?" Tanya Haikal tidak sabaran


Kafka belum langsung menjawab pertanyaan dari salah satu sahabatnya, ia kembali menuangkan segelas minuman dan meminumnya.


"Pulanglah Ritz! Sekesal apapun lo pada sikapnya yang sedikit aneh, bukan berarti lo tega ninggalin dia tanpa memberinya kabar sama sekali." Titah Kafka meminta sahabatnya untuk pulang


"Pikirannya masih sangat labil, belajarlah untuk peka dan lebih memahaminya mulai dari sekarang! Ingat apa yang gue katakan tadi, percayalah lo pasti akan mendapatkan jawabannya cepat atau lambat." Lanjutnya bicara sebelum turun ke lantai menemui tamu penting yang datang ke Kafe


Sepeninggal Kafka, kini hanya tersisa Dafa, Haikal, Alga dan Ritz di lantai atas.


Ritz terus memikirkan perkataan Kafka tadi, apa ia salah meninggalkan putri angkatnya begitu saja di FILA? Sedangkan ia sendiri yang membawa gadis itu pergi liburan.


"Lo udah mau balik?" Tanya Alga saat melihat Ritz bangkit dari tempat duduk


"Hmmm, gue ninggalin Berlian yang sangat berharga di FILA." Jawab Ritz ngaur


"Sudah jangan memperkeruh keadaan, seharusnya tugas kita menghiburnya bukan malah menambah beban di otaknya. Memangnya kalian pikir gampang ngurusin dua wanita beda karakter sekalipun, gue ajah ngurus satu istri kacaunya minta ampun. Apalagi kalau lagi marah, beuh sampai berhari-hari gue di diamin." Selak Dafa yang sedikit paham perihal kondisi Ritz


Dafa termasuk pria yang tidak pernah sekalipun ikut campur apalagi mencari tahu masalah sahabat-sahabatnya, ia akan menjadi penengah dan pendengar yang baik bila di antara empat sahabatnya memiliki masalah.


"Gue balik duluan, takut Berlian yang gue tinggalin di curi orang." Pamit Ritz seraya terkekeh geli dengan ucapannya sendiri


"OK, hati-hati di jalan." Sahut Dafa, Haikal dan Alga secara bersamaan


Ritz turun ke bawah meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih asik mengobrol, sebelum pergi ia mencari Kafka untuk berpamitan.


Di lihatnya sang sahabat tengah duduk santai di salah satu kursi panjang dekat jendela menghadap laut.


"Kaf, sendirian ajah?" Sapa Ritz menepuk pelan pundak Kafka


"Eh, Ritz. Iya nih gue sendirian ajah, kebetulan tamu nya baru ajah pulang." Sahut Kafka seraya tersenyum hangat

__ADS_1


"Lo mau balik FILA?" Lanjutnya bertanya


"Hmm, gue takut terjadi sesuatu padanya." Jawab Ritz membuang napas kasar


"Jangan egois, lo harus bisa menyesuaikan diri dengannya. Gue cuma minta lo satu, apapun yang terjadi nanti gue harap pilihan yang lo ambil benar-benar yang terbaik buat lo dan mereka." Kafka mencoba memberi pengertian pada Ritz


"Pulanglah sana! Keburu nanti masalahnya makin besar, gue yakin dia bukan gadis sembarangan." Lanjutnya setengah mengusir halus


Ritz hanya mengangguk paham kemudian berlalu pergi keluar Kafe menuju area parkiran, pikirannya hanya tertuju pada satu gadis yang ia tinggalkan di FILA.


Tidak sampai sepuluh menit, mobil yang di kendarai Ritz sampai di FILA. Suasana yang sunyi pertanda bila pasangan suami istri yang menjaga tempat tersebut sudah istirahat di kamar mereka, tinggal mengecek keberadaan putrinya dalam kamar.


"Semoga saja tidak di kunci." Gumam Ritz pelan


Langkah kakinya berjalan naik ke lantai atas menapaki anak tangga satu demi satu, sampai di lantai atas tujuan utamanya melihat sang putri, ia ingin memastikan apakah gadis itu sudah tidur atau belum.


Pria itu tersenyum saat tahu pintu kamar putrinya ternyata tidak di kunci, antara takut dan khawatir Ritz nekat masuk ke dalam kamar dengan perlahan.


Ada rasa kasihan bercampur kesal di rasakan Ritz ketika sampai di sisi ranjang, wajah damai yang begitu berbeda saat bangun dan mengacuhkannya tadi sungguh mengacaukan hati dan pikiran pria itu.


Perlahan Ritz naik ke atas ranjang berbaring sambil memeluk lembut putrinya, hanya itu satu-satunya cara agar beban dalam hatinya hilang.


"Daddy harap sikap mu tidak selamanya begini, rasanya sakit ketika gadis cantik yang sangat Daddy sayangi memilih mengabaikan Daddy." Gumam Ritz pelan


"Marahnya jangan lama-lama ya! Daddy ngga kuat sayang." Lanjutnya berucap lirih


Cukup lama Ritz berada di posisi memeluk sayang putri angkatnya dari arah belakang, di rasa cukup akhirnya pria itu bangkit kemudian melangkah keluar dari kamar sang putri menuju kamarnya.


Tanpa di sadari Ritz, rupanya Ayana tidak benar-benar tidur. Dia bahkan mendengarkan semua yang di ucapkan Ritz, ada rasa kasihan timbul di hati Ayana. Akan tetapi, dia coba menahannya demi satu tujuan, rencana yang di buatnya tidak boleh sampai gagal.


.


.


.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya yaπŸ€—πŸ€—πŸ™


__ADS_2