
...πΏπΏπΏπΏ...
Sebulan telah berlalu, kini hubungan Ritz dan Ayana semakin baik dan mulai saling menerima satu sama lain.
Ayana sangat sulit tidur bila belum mendapatkan ciuman dan pelukan sayang dari Ritz, dan itu berlangsung setiap malam selama satu bulan mereka kembali bersama.
CUP!
Satu kecupan lembut mendarat sempurna di kening Ayana, malam ini dia ingin tidur bersama pria tampan tersebut.
Akan tetapi, mengingat keduanya sudah di beri batasan oleh Eyang dan lainnya, tidak mungkin Ritz nekat melanggar perintah dari wanita baya kesayangannya.
Seperti malam ini, beberapa menit yang lalu usai makan malam Ayana masuk lebih dulu ke dalam kamar.
Dia juga meminta Ritz ikut menemani menuju kamarnya, tidak peduli sudah semasam apa wajah Eyang dan mama Ritz saat melihat kelakuan Ayana.
Dan di sinilah Ritz berada, berbaring nyaman di atas ranjang sambil mendekap hangat tubuh mungil gadis manjanya.
Sesekali pria tampan itu menahan kesal di dalam hati.
"Tidak boleh sayang," tolak Ritz halus ketika Ayana memintanya untuk tidur bersama.
"Kenapa? Bukankah biasanya Ayana sering tidur dengan Daddy?" tanya si cantik seraya menatap heran ke arah Ritz.
__ADS_1
Yang di tatap menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ayana.
"Kamu bukan lagi gadis manja yang selalu menempel pada Daddy setiap saat, sayang." Jawab Ritz hati-hati takut jangan sampai gadis itu merajuk seperti biasanya.
"Memamg dulu Daddy tidak pernah melarang mu bila ingin tidur bersama Daddy, bahkan Eyang sendiri pun tahu bagaimana manjanya kamu bila di rumah," lanjutnya sedikit terjeda.
"Kan, hanya tidur saja Daddy." Rengek Ayana masih keukeh pada keinginannya
"Tidak boleh sayang, sebab. Mulai dari sekarang Ayana harus belajar tidur sendiri tanpa Daddy menemani mu setiap malam. Sebagai gadis cantik yang baik hati, di larang untuk tidak patuh pada aturan yang sudah Eyang berikan. OK?" Jawab Ritz sembari memberi pengertian
Sedangkan Ayana merenggut kesal tidak terima, selama ini dia sudah terbiasa menempel pada pria itu.
"Tapi Daddy," protes Ayana terpotong.
Pria tampan itu sebenarnya tidak tega melihat betapa Ayana sangat menempel padanya, terlebih semenjak mereka di pisahkan selama satu bulan penuh, sikap gadis itu semakin hari kian manja dan terlampau posesif.
Apa lagi sekarang hubungan mereka bukan lagi sebagai pasangan ayah dan anak angkat, sudah pasti kedepannya tingkat posesif Ayana semakin menjadi.
Salahkan saja Ritz yang tidak bisa bersikap sabar walau hanya sedikit, ini semua karena rasa takutnya akan niat Ayana ingin segera menjaga jarak dan mulai belajar hidup mandiri.
Dapat pria itu rasakan bagaimana sikap acuh Ayana mulai terlihat sedikit demi sedikit, belum lagi ketika sang Eyang dengan santainya membawa gadis itu berobat ke Negara lain, semuanya seolah sudah di rencanakan.
Walaupun begitu, Ritz bukanlah orang bodoh yang mudah percaya pada ucapan manis wanita baya kesayangannya itu.
__ADS_1
Alih alih mengatakan hanya pergi melakukan pengobatan, ternyata di balik semua itu ada keinginan timbul dalam hati gadis kesayangannya untuk kembali pulang ke negara asal.
Betapa murkanya Ritz kala mengetahui kebenarannya waktu itu, tanpa menunggu lama ia nekat mencari cara agar bisa mengikat Ayana di sisihnya.
Ia sungguh tidak peduli bagaimana tanggapan orang nanti bila tahu hubungan mereka, yang jelas apa yang sudah menjadi miliknya akan tetap begitu sampai kapan pun.
...****...
"Ish, Daddy lagi lamunin apa sih?" tanya Ayana penuh selidik.
Ritz yang tersadar pun hanya tersenyum manis seraya mengusap pelan punggung gadis manjanya itu, ia tahu bagaimana rasa penasaran Ayana bila melihatnya sedikit saja melamun.
"Tidak ada sayang," jawab Ritz singkat.
"Tidurlah! Besok kamu ikut Daddy keluar kota," lanjutnya sengaja mengalihkan pikiran Ayana.
Tidak mau mencari masalah, akhirnya gadis itu memilih menutup mata dan berusaha untuk tidur.
Dada bidang sang pujaan hati adalah tempat ternyamannya, dan mungkin mulai dari sekarang Ayana akan bersikap egois.
Sejak awal Daddy hanya milik ku, tidak peduli bagaimana orang lain akan menilai ku. Bathinnya berbicara
ππππ
__ADS_1