
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Beberapa waktu yang lalu Ritz di buat pusing dengan tingkah Ayana.
Gadis cantik itu menangis karena keinginannya bermain di kolam tidak mendapatkan izin dari Ritz dan alasannya cuma satu, pria itu khawatir dengan kondisi tubuh Ayana.
#Flasback
"Daddy boleh ya, Ayana main di kolam renang?" tanya Ayana meminta izin.
"No Baby, perut mu lagi sakit jangan main air dulu." Jawab Ritz menolak mentah-mentah keinginan sang putri
Kepalanya serasa ingin pecah mengingat begitu banyaknya masalah.
"Cuma kakinya ajah yang di celupin, Daddy" rengek Ayana masih tetap keukeh berharap pria tampan itu mau menuruti keinginannya.
"Sekali tidak tetap tidak. Jangan membantah atau Ayana mau Daddy hukum?" sahut Ritz sedikit memberi ancaman.
Rasa kesalnya akibat menerima kabar dari Radit yang mengatakan sang kekasih hampir setiap hari medatangi adik sepupunya itu membuat pikirannya kacau, belum lagi masalah di perusahaan yang harus segera ia selesaikan saat pulang nanti.
Sekarang bertambah lagi satu masalah dan menurut Ritz ini yang paling menguras emosinya.
"Masuk ke kamar mu! Jangan keluar sebelum Daddy panggil." Titah Ritz terkesan dingin
Dengan perasaan kesal Ayana berlalu masuk ke dalam rumah menuju lantai atas tempat dimana kamar nya berada.
#Flasback Off
...****...
Di dalam kamar setelah puas menangis, Ayana memilih duduk santai di sofa panjang sambil membaca satu buah buku novel kesukaannya, semua novel berisikan cerita yang bernuansa romantis maupun bertema lain habis di borong gadis itu ketika keluar shopping bersama Ritz tadi siang.
Jam sudah menunjukkan pukul 09 malam, beberapa menit yang lalu Ritz datang ke kamar Ayana dan memintanya segera berganti pakaian.
Sebuah gaun yang di desain begitu sempurna sengaja di siapkan Ritz khusus untuk tuan putri kesayangannya, gaun yang bernuansa campuran warna biru putih itu terkesan elegan dan sangat anggun bila di kenakan Ayana.
Hampir 30 menit Ritz menunggu gadis manjanya selesai berganti pakaian, langkah kaki Ayana menggelitik indra pendengarannya seolah berbisik untuk membalikkan badannya yang masih setia berdiri membelakangi pintu kamar.
__ADS_1
DEG!
Mata indah, senyum yang manis, wajah cantik dengan polesan make up tipis, rambut hitam panjang yang di biarkan terurai, hidung mancung serta bibir mungil yang di beri polesan liptint warna pink.
Satu kata yang bisa Ritz ungkapkan dari dalam hatinya, SEMPURNA.
"Gimana Dadd, udah cantik belum?" tanya Ayana dengan senyum manis yang tak lepas dari wajah cantiknya.
"So beautiful Honey, it feels like Daddy doesn't want to take you to the party." Jawab Ritz menatap lekat wajah cantik gadis itu
(Sangat cantik sayang, rasanya Daddy tidak ingin membawa kamu pergi ke pesta.)
Waktu yang menunjukkan hampir pukul 10 menyadarkan Ritz untuk segera pergi ke tempat dimana pesta di adakan.
...****...
Selama perjalanan menuju hotel, tangan Ritz tidak sedikit pun melepas jemari lentik Ayana dari genggaman nya.
"Sebenarnya kita mau kemana, Daddy?" tanya Ayana penasaran.
Pria tampan dengan hati di penuhi nama gadis kesayangannya itu hanya tersenyum tanpa ada niat menjawab pertanyaan Ayana.
"Daddy jawab!" sentak Ayana masih keukeh dengan rasa penasarannya.
Sebenarnya apa yang akan di lakukan pria kesayangannya itu, tiba-tiba memintanya untuk berganti pakaian tanpa mengatakan kemana mereka akan pergi sekarang.
Ya Tuhan, untung sayang dan cinta. Kalau ngga udah lama pengen Ayana gigit tuh bibir yang suka main rahasia. Jerit Ayana berbicara dalam hati
...****...
Suara sang sopir menyadarkan Ritz dari lamunannya, ia masih dalam posisi menggenggam tangan Ayana.
"Wah, wah, sepanjang jalan cuma diam tiba di tanya malah senyum dan sekarang melamun, Ayana rasa semenjak kita berpisah selama sebulan ini, banyak bangat perubahan yang di perlihatkan Daddy."
Oceh si cantik ketika melihat betapa anehnya sikap sang Daddy
Lalu apa tanggapan dari Ritz?
__ADS_1
Tentu saja pria tampan itu masih tetap berada dalam mode diam lengkap dengan senyuman yang entah apa artinya.
"Ini hotel apa istana, mewah banget beda sama yang punya papa." Jerit Ayana seraya menatap takjub seisi hotel saat mereka masuk ke dalam
Banyak pasang mata yang melihat ke arah pasangan ayah dan anak angkat tersebut, seolah keduanya merupakan pasangan suami istri yang sangat serasi dan menjadi pusat perhatian semua orang.
"JAGA PANDANGAN KALIAN!" Ucap Ritz mengintimidasi
Ayana sampai melongo mendengar suara keras pria itu.
"Jangan galak-galak sama orang," sahut Ayana menegur.
"Daddy kebiasaan deh tiap kita jalan pasti ada ajah yang terjadi." Lanjutnya dengan bibir mencebik malas ke arah Ritz
"Mata mereka memang bagusnya di hilangkan saja," balas Ritz begitu santainya.
PLAKK!
"Aww, sakit sayang." Keluh Ritz meringis kesakitan
"Itu mulut bagusnya di apain biar ngga asal ngomong sembarangan lagi," gemas Ayana tidak tahan.
Baru saja Ritz akan menjawab, suara bariton dari arah lain terdengar memanggil nama Ayana.
Devan hampir mati kebosanan menunggu kedatangan sang sahabat dan Ayana, tanpa permisi lagi pria itu membawa pergi gadis kecil kesayangan Ritz menuju Aula utama.
Semua pertanyaan Ayana di abaikan Devan tanpa ada niat menjawab sama sekali, hal itu sukses menimbulkan rasa kesal Ayana.
"Ihhh, papi Devan,,," teriaknya sebelum pintu terbuka.
CEKLEK!
"Papi,,"
.
.
__ADS_1
..."SURPRISE,,,,"...
πππππ