
Ayana masuk ke dalam ruangannya setelah keluar dari ruangan sang pembimbing
Kejadian waktu itu dimana Maira datang ke kampus dan sempat terjadi pertengkaran, antara Ayana dengan wanita tunangan dari Daddy nya tersebut.
Ceritanya telah terdengar sampai ke telinga wanita berusia 30 tahun bernama Kamila, dan betapa murkanya Kamila saat tahu anak didiknya diperlakukan tidak baik selama dia berada di luar negri menyelesaikan kursus bahasanya.
"Kena amukan lagi 'kan tuh orang-orang, aku bilang juga apa. Percuma koar-koar nyinyirin aku sana sini, ujung-ujungnya pasti Mami Kamila belain aku."
Ayana bergumam sambil sesekali menghela nafas berat, bayangan wajah tampan Daddy nya langsung saja terlintas di matanya.
"Apa jadinya aku tanpa Daddy nantinya? tujuh tahun bukan waktu yang singkat." De-sahnya membayangkan jauh ke depan
Bohong jika dia tidak memiliki perasaan pada pria tampan yang asal usulnya begitu rahasia, namun bisa menjadikannya gadis paling beruntung bisa dengan leluasa tinggal di samping pria itu.
"Tuhan, mungkin aku bukanlah gadis yang baik. Salahkah aku memendam rasa pada orang yang telah merawat ku? Dosakah aku menyukai pria yang sudah memiliki kekasih?" ucapnya begitu lirih yang tanpa sadar air matanya ikut jatuh membasahi pipi.
"Aku tahu Tuhan, rasa ini salah. Tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Semakin aku mencoba untuk menyerah, rasa ini semakin dalam dan begitu menyiksa."
Beruntung ruangan kelas masih dalam keadaan sepi, sehingga tidak ada yang melihat betapa rapuhnya seorang Ayana.
Dari arah luar suara langkah kaki seseorang yang berlari semakin dekat, tetapi gadis cantik yang masih melamun dengan air mata yang terus mengalir tidak tahu ada orang lain yang datang.
_Tak tak tak_
"Ayana, My Beauty Princes."
Suara teriakan Letta menggema di seisi ruangan kelas.
"Aya, eh. Apa yang terjadi?"
Gadis manis itu begitu kaget melihat sahabatnya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Langkahnya semakin cepat menuju kursi dimana Ayana berada, namun belum menyadari kehadirannya.
"Aya, Ayana." Letta mengguncang kuat bahu gadis itu agar tersadar
Ayana refleks menoleh saat merasakan seseorang menyentuh pundaknya.
"Kamu kenapa?"
"Sakit?"
"Apa ada masalah?"
"Atau aku antar pulang ajah yuk."
"Sikap kamu aneh tahu ngga."
Letta terlihat sangat khawatir, berbagai macam pertanyaan di lontarkannya.
"Ngomong dong Ayana." Geramnya mulai kesal sejak tadi gadis itu masih saja diam
"Teriak boleh ngga sih."
Letta sungguh dibuat jengkel.
"Jangan berisik, Taa. Dari tadi kamu ngomong udah bikin fantasi aku hancur berantakan." Sentak Ayana akhirnya buka suara
"Fantasi--, fantasi dengan cara nangis kayak gitu di bilang fantasi." Ketus Letta tidak terima
Ayana malas berdebat, dia memilih diam mendengarkan ocehan non faedah sahabatnya.
Beberapa menit kemudian ruangan kelas sudah penuh, M.K pertama telah berlangsung.
🍀
#Di Perusahaan
Ritz yang baru saja selesai rapat beberapa menit lalu, menerima pesan singkat dari tunangannya yang mengatakan jika hari ini wanita itu akan berkunjung ke perusahaan.
"Radit, hubungi Ayana! Katakan padanya agar tidak ke perusahaan." Titahnya pada adik sepupunya tersebut
"Ogah. Ngga ada sembunyi-sembunyi. Pokoknya aku mau lihat pertunjukkan yang bagus," sahut Radit menolak mentah-mentah perintah dari Ritz.
__ADS_1
"Kamu mau aku pindahkan ke Afrika." Tekan Ritz menatap tajam kearah adik sepupunya itu
"Masa bodoh, aku mau ke ruangan sebelah dulu sekalian kirim pesan ke gadis kecil, haha."
Radit sangat suka melihat pertengkaran antara Ayana dengan Maira.
Ia dengan cepat keluar dari dalam ruangan Ritz menuju ruangan sekertaris yang hanya berdampingan.
"Dasar sepupu ngga ada akhlak."
🍀
Lima belas menit kemudian Maira datang dengan sesuatu di tangannya.
"Hay sayang, i miss you so much."
Maira mendekat kearah Ritz kemudian memeluknya posesif.
Entah apa yang membuat wanita itu tiba-tiba saja datang ke perusahan milik kekasihnya
"Tumben kamu mau datang kemari, biasanya hanya meminta ku pergi menemuimu di Apartement." Ritz merasa sedikit heran dengan tingkah Maira
Hampir dua minggu lamanya mereka tidak bertemu. Kesibukan Maira yang kadang tidak memiliki waktu sekedar memberi kabar, kadang membuat Ritz jengah.
Beruntung ada putri kesayangannya yang selalu menemani.
Berbicara soal putrinya, tiba-tiba saja Ritz teringat akan gadis kesayangannya itu.
_Ayana lagi ngapain yaa_. Gumamnya dalam hati
"Ritz ..."
"Astaga Alfaritz Rendra, kamu lagi lamunin apa sih?"
Maira sungguh kesal melihat kekasihnya seakan tidak merindukannya, padahal dia bela-belain pulang cepat agar bisa menemui pria tersebut.
"Kamu kenapa sih Ritz? aneh bangat deh." Ritz yang sadar telah di perhatikan hanya tersenyum simpul
"Aku lelah, banyak kerjaan sayang. Lagian kamu datangnya mendadak," jawabnya ikut duduk di sofa panjang bersama Maira.
Maira benar-benar tidak suka dengan putri angkat dari kekasihnya, kehadiran gadis itu menjadi penghambatnya untuk berlaku lebih.
Kedua pasangan kekasih itu mulai mengobrol banyak, tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
🍀
Sementara di kampus, Ayana baru saja akan pulang ke rumah. Tetapi, saat membaca sebuah pesan yang di kirim oleh seseorang membuat hatinya langsung mendidih.
"Wahh, parah nih. Maksud Paman Radit apa coba ngirimin pesan kayak gini."
Ayana di buat penasaran dengan isi pesan yang dikirim Radit, tidak mau menerka-nerka membuat gadis itu memilih pergi ke kantor Daddy nya.
"Putar balik! Kita ke kantor Daddy."
Hanya lima belas menit mobil yang di tumpangi Ayana sudah tiba di Perusahaan besar milik Ritz.
Gadis itu langsung naik ke lantai atas menggunakan lift khusus yang terhubung dengan ruangan tempat di mana Daddy nya bekerja.
_Tring_
Langkah kakinya semakin cepat keluar dari lift menuju ruangan yang tertutup rapat.
Radit yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan sekertaris, tersenyum penuh arti melihat kedatangan si biang rusuh.
"Hay gadis kecil," sapanya pada Ayana.
Hampir saja Radit terjatuh andai tidak cepat bertahan pada sandaran pintu.
"Minggir Paman, jangan ganggu Ayana." Ucap gadis itu ketus
"Hey Aya--,"
_BRAK_
__ADS_1
Radit mengusap pelan dadanya yang kaget.
"Buset, badan doang yang kecil tenaganya kuat juga."
Ayana langsung masuk kedalam ruangan Daddy nya, membuat kedua anak manusia yang duduk berdampingan ikut terlonjak kaget.
"Sorry aku ganggu ya, kirain ngga ada orang."
Sekuat tenaga Ayana menahan diri agar tidak kelepasan, inilah yang tidak di sukainya. Melihat kedekatan pasangan kekasih tersebut membuat hati Ayana semakin sakit.
Ritz yang sadar segera menghampiri putrinya di depan pintu.
"Sayang."
Ayana langsung mundur ke belakang saat tangan Daddy nya ingin meraih tangannya.
"Ayana ganggu yaa, Dad? Maaf udah bikin waktu kesenangan kalian terganggu, kalau gitu Ayana pulang dulu. Permisi."
Baru saja gadis itu membalikkan tubuhnya, kakinya tertahan karena pelukan dari Ritz.
"Tetap di sini! Jangan coba-coba pulang tanpa izin dari Daddy." Tegas Ritz tidak mengizinkan putrinya untuk pulang
Maira yang melihat kedekatan Ayah dan Anak angkat tersebut mulai dibuat jengkel dan cemburu.
🍀
Sudah satu jam lamanya Ayana berada di kantor Daddy nya, dan selama itu juga Maira berada di sana.
"Ritz, jangan di biasain Ayana duduk di atas pangkuanmu." Tegurnya tidak suka
"Kamu pikir aku apa? Aku ini kekasih mu, tunangan mu. Dan sebentar lagi kita akan menikah, sikap kamu kayak gini ngga baik di lihat orang lain."
Maira protes dengan sikap kekasihnya, Ritz yang selalu buka-bukaan mengenai kasih sayangnya pada Ayana terkadang membuat orang lain merasa iri dan cemburu, termasuk dirinya.
"Dia putriku, Maira. Dan kamu juga tahu bagaimana sayangnya aku padanya, seharusnya kamu juga bisa melakukan hal yang sama bukan malah balik protes." Ritz tidak terima ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya
"Oh. Ayolah Ritz, ada apa dengan mu. Bagaimana kamu bisa memperlakukan seorang anak gadis yang jelas-jelas bukan--," perkataan Maira terputus.
"Cukup Maira!" Sentak Ritz kesal
"Apa perlu aku tekankan padamu agar belajar bagaimana caranya menghormati perasaan orang lain?"
Ritz benar-benar marah, ia pikir jika kekasihnya itu sudah mengerti. Tetapi, nyatanya tidak sama sekali.
"Kamu membentak ku, Ritz? Hanya karena putri angkat mu ini?"
"Astaga, kamu benar-benar tidak waras Ritz." Kesal Maira tidak takut dengan teriakan kekasihnya itu
"Hey kamu, Ayana. Cepat menyingkir dari kekasihku! Jangan membuat kedatanganmu menjadi alasan kami bertengkar."
Maira tidak suka bila harus berebut perhatian dengan Ayana.
"Ngga mau Tante, lagian Tante juga udah lama ketemu Daddy tadi. Sekarang gantian lah, aku juga mau di sayang Daddy." Tolak Ayana menjulurkan lidah kearah Maira
Mata wanita cantik itu langsung membulat sempurna dengan mulut yang menganga, apa Ayana sedang meledeknya?
"Iihh, sayang. Anak angkat kamu kok nyebelin sih." Adu Maira tidak terima
"Minggir ngga, Ayana!"
Lagi-lagi Maira meminta Ayana agar menyingkir dari atas pangkuan Ritz.
Lalu, apa kabar pria yang menjadi dalang pertengkaran mereka?
Sejak tadi, Radit menjadi penonton yang setia. Bahkan tidak segan-segan ia merekam adegan pertengkaran kedua wanita beda usia tersebut.
"Syukurin Kak, emang enak jadi bahan rebutan. Siapa suruh punya kekasih, sudah tahu anaknya tingkat posesifnya minta ampun. Eeh, malah terang-terangan memiliki tunangan."
"Emang enak di tempelin anaknya mulu udah kayak perangko lagi, ckck."
Bukan Radit namanya jika tidak merasa senang di atas penderitaan Ritz.
Ia sangat menikmati adegan pertengkaran bila Ayana dan Maira di pertemukan.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃