Daddy I Love You

Daddy I Love You
Mabuk?


__ADS_3

...🌿🌿🌿🌿...


Tepat jam makan malam berakhir, semua anggota keluarga memilih masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, tidak terkecuali si cantik kesayangan Ritz yang memilih kembali turun ke lantai bawah.


Tepat di ruang tengah hanya di terangi lampu tamaram, Ayana duduk manis sembari berbicara di telefon dengan seseorang.


.


.


"Ayana mau jalan-jalan," serunya berdecak kesenangan.


(..........)


"Tapi ngga apa-apa ya kalau nanti Ayana bawa Daddy ikut juga?" tanya gadis cantik itu memelas.


(..........)


"Ngga di ijinin Daddy kalau keluarnya sendirian, apalagi sama orang yang baru Ayana kenal."


(..........)


"Kata Daddy dua hari lagi kita pulang, mungkin ngga bisa ketemuan lagi." Ucap Ayana lirih


(..........)


"Aahaa, maaf Bibi Cantik. Bukannya Ayana ngga mau dengar apa kata Bibi Cantik, selama ini orang yang Ayana percaya cuma Daddy. Siapa pun itu entah niatnya baik atau buruk, Ayana tetap akan menjaga jarak. Bukankah pertemuan kita sebelumnya hanya kebetulan saja kan?"


(..........)


"Sudah dulu ya Bibi Cantik, besok baru Ayana kasih kabar lagi."

__ADS_1


Tuttt.


...****...


Ayana meletakkan ponselnya asal setelah sambungan telefon terputus, rasa haus yang tiba-tiba membawa langkah kakinya menuju area dapur bersih.


Jemari lentiknya membuka perlahan lemari pendingin, sudah ada satu kotak susu rasa cokelat yang di ambilnya tidak lupa sepotong kue rasa mocca dengan taburan cokelat di atasnya ikut di bawa Ayana kembali lagi ke ruang tengah.


Belum sampai gadis cantik itu menapaki kakinya di ruangan yang di tuju, tiba-tiba dari arah pintu utama terdengar suara bariton milik seorang pria, hal itu sukses membuat jantung Ayana hampir berhenti berdetak.


"Ngapain jam segini masih gentayangan di luar?" seru Ritz tepat setelah pintu Apartement di kuncinya dari dalam.


Ayana meletakkan kotak susu dan kue yang dia ambil dari lemari pendingin ke atas meja dan beralih menatap tajam ke arah sang Daddy.


"Sengaja ya mau buat mati dadakan?" sungutnya dengan kedua tangan berada di pinggang.


Ritz tertawa melihat raut wajah masam si cantik kesayangannya itum


"Maaf sayang. Lagian kenapa jam segini belum masuk kamar, hmmm?" jawab Ritz berjalan pelan menuju Ayana.


Tanpa meminta persetujuan kedua tangan Ritz sudah melingkar erat di pinggang Ayana, tidak peduli dengan kekesalan gadis kecilnya itu yang berusaha untuk melepaskan diri.


"Daddy awas iihhh," rengek Ayana merasakan sesuatu yang asing mulai mengeras di bawah sana.


Gadis cantik itu tentu sadar akan perubahan sikap sang Daddy malam ini, melihat tatapan sayu Ritz dengan bau mulut yang berbeda membuat Ayana yakin bila ada sesuatu yang terjadi pada pria kesayangannya tersebut.


Kok kayak bau alkohol yang tajamnya Astagfirullah. Heran Ayana berbicara dalam hati


Tidak ingin menerka-nerka lebih baik Ayana membawa tubuh tinggi Ritz menuju sofa panjang yang terletak tidak jauh dari pintu masuk.


Ritz yang masih setengah sadar membiarkan gadis kesayangannya itu memapah tubuhnya sampai ke sofa.

__ADS_1


.


.


"Aku mencintaimu Ayana sayang, sangat sangat mencintaimu." Gumam Ritz setelah gadis kecilnya berhasil meletakkan tubuh lemahnya di atas sofa panjang


Sementara yang di sebut hanya diam membisu tanpa ada sepata katapun keluar dari bibir mungilnya akibat syok bukan main.


"Kamu pastinya sangat membenci ku bukan?" tanya Ritz pelan


"Ahaa, bukan bukan. Lebih tepatnya aku lah pria brengsek yang dengan gilanya menahan mu agar tetap bersama ku sampai detik ini." Racaunya mulai menjadi


"Kamu tahu sayang. Dia marah padaku dan berulah di saat aku berada jauh darinya dan kamu,"


Pria itu menjeda sedikit ucapannya ketika merasakan mual tetapi sulit untuk di keluarkan.


"Mmm, kamu mungkin akan melakukan hal yang sama seperti dia. Benar kan?" tuduh Ritz pada sosok cantik yang kini menatap sedih ke arahnya.


Ayana menangis, tidak menyangka pria tampan yang begitu di kaguminya selama tujuh tahun lebih, sekarang malah terlihat begitu menyedihkan.


Rambut yang acak-acakan, kemeja putih di gulung sampai batas siku, mata yang merah serta mulut bau alkohol sangat menyengat di indra penciuman Ayana.


"Daddy kenapa sampai begini," ucap gadis itu lirih seraya membenarkan tatanan rambut milik Ritz.


"Tidak ada," jawab pria itu singkat seraya tersenyum manis.


Hati Ayana mencelos sakit melihat pria yang sangat di cintainya menjadi seperti ini.


"Kita pindah ke kamar ajah ya, biar Ayana bantu Daddy mandi. Ok" rayu gadis itu dengan penuh kelembutan.


Ritz menurut segera bangkit dari tempat duduk dan melangkah pelan menuju lift dengan Ayana memapah tubuh lemah pria itu.

__ADS_1


Dalam hati Ayana bertanya-tanya masalah apa yang membuat Ritz pulang dalam kondisi mabuk.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


__ADS_2