
Usai makan malam, sebelum pulang masih ada sisa dua jam dari waktu yang diberikan Ayana untuk Daddy nya.
Selama itu juga digunakan Maira untuk berbicara dengan serius bersama kekasihnya.
"Pesanan Ayana udah semua?" tanya Maira saat kekasihnya sudah datang.
"Mmm, banyak banget yang di pesan. Aku ajah sampe heran badan kecil kayak gitu tapi makannya banyak." Sahut Ritz tertawa geli
"Jangan di biasain sayang, kalau sampai Ayana sakit gimana? Kan, kamu juga yang kesusahan nantinya." Tegur Maira mengingatkan kekasihnya itu
"Iya, makasih ya masih perhatian sama musuh bebuyutanmu." Jawab Ritz dengan kekehan membuat Maira menatap tajam ke arahnya
"Mulai deh, jangan bawa bawa Ayana kalau kita lagi bersama. Paham?" tegas Maira tidak suka
"Siap Bos."
Ritz sangat suka menguji kesabaran kekasihnya, garangnya Maira hanya ketika bertemu dengan Ayana saja. Aslinya di luar justru wanita cantik itu sangat rapuh dan mudah tersentuh.
Hal itu, dapat Ritz ketahui sejak setahun yang lalu dimana Maira mendapatkan masalah yang cukup besar, berusaha kuat di depan orang lain. Tetapi, jika sedang sendirian wanita itu akan menangis tanpa henti.
Maira mulai berbicara serius dengan kekasihnya, malam ini dia harus mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Ritz," panggilnya pelan.
"Hmm." Sahut pria itu tanpa menatap kekasihnya
Adanya pesan masuk dari Ayana membuat fokus Ritz teralihkan.
"Alfaritz Rendra." Panggil Maira lagi
"Iya sayang ada apa, hmm?" sahut Ritz lagi segera menyimpan ponsel miliknya di saku celana.
"Ada apa?" lanjutnya bertanya.
"Kamu bisa ngga sih, serius dikit?" Ketus Maira menahan kesal
"Okok, aku serius. Jangan marah lagi yaa," Rayu Ritz.
Wanita itu tidak langsung bicara, sebisa mungkin emosinya di tahan agar tidak meledak.
"Ok, sekarang aku mau ngomong serius soal hubungan kita." Ucap Maira setelah tenang
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Ritz bingung.
Hal apa yang ingin di bicarakan kekasihnya itu? _pikir Ritz_
"Kamu benar-benar serius kan, mengenai hubungan kita?"
Pertanyaan Maira barusan sontak membuat Ritz diam cukup lama, memang hubungan mereka lumayan lama.
Dua tahun lebih rasanya sudah bukan lagi waktu yang singkat, dan tentu mereka harus memikirkan bagaimana hubungan tersebut kedepannya.
"Kenapa tanya seperti itu?" Ritz balik bertanya.
__ADS_1
"Kamu tanya aku kenapa?" balas Maira heran.
"Justru aku yang harusnya tanya mau sampai kapan kita begini? Ingat Ritz, kita bukan lagi pasangan remaja. Aku bukan Ayana yang masih harus perlu banyak belajar untuk menjadi dewasa."
"Usia ku sudah menginjak 20 tahun Ritz, dan kamu juga tahu aku bukan lagi gadis kecil yang kekanakan dan di manja orang tuaku. Sikap ku, tingkah laku ku, cara berfikirku, semua bukan lagi seperti anak gadis pada umumnya."
"Sebenarnya aku malu Ritz, aku sangat malu jika harus membahas masalah ini. Tapi mau sampai kapan? Kadang aku capek terus berjuang memposisikan diri agar sejajar dengan mu, mencoba belajar memahamimu, menerima semua kurang lebih mu, dan yang paling penting kamu ingin aku lakukan adalah menjadi wanita yang baik untuk putri angkatmu itu. Aku lelah Ritz."
Rasanya Maira ingin saja menyerah jika bukan karena orang tuanya.
Ketakutannya terhadap Papa Hendra kadang kala membuat mentalnya terguncang. Tetapi, jika Maira melawan Papanya, sudah pasti yang akan menjadi korban adalah Mamanya sendiri.
Mendengar kalimat yang terucap dari mulut kekasihnya, tentu Ritz paham kemana arah topik pembicaraan wanita itu.
"Kamu menginginkan pernikahan bukan?" tanyanya serius membuat Maira terdiam.
"Aku tanya sekali lagi, yang kamu inginkan adalah sebuah hubungan yang terikat dalam pernikahan bukan?" lanjut Ritz mengulang kembali pertanyaannya.
"Pikirkan baik-baik sebelum kamu menjawabnya Maira, jika pikiranmu ingin kita menjadi pasangan suami istri yang SAH, berarti kamu siap meninggalkan karirmu dan menjadi istri yang baik."
Ritz memberikan kekasihnya waktu untuk berpikir lagi, sebuah syarat mutlak yang di mintanya pada Maira jelas-jelas akan menjadi keputusan yang sangat sulit. Memiliki kekasih yang menjadi seorang aktris tentu tidaklah mudah jika harus meminta wanita itu berhenti.
"Karirmu baru saja naik ke permukaan sayang, dan itu juga impian mu sejak dulu. Jika kamu tanya mengapa aku melarang mu untuk berkarir lagi setelah kita menikah, jawabannya hanya satu."
"Aku tidak ingin aurat istriku sampai di lihat orang lain."
Kalimat terakhir Ritz menampar keras harga diri Maira, memang benar selama menjadi publik figur tidak sedikit dia akan mengenakan pakaian yang terbuka dan terbilang sangat seksi. Beberapa acara yang di hadirinya juga menyediakan kostum yang tidak jarang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.
Cukup lama keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, waktu sudah berlalu satu jam lamanya. Hanya tersisa satu jam lagi sebelum Ayana kembali menghubungi Daddy nya.
"Bukannya aku bersikap egois sayang, aku melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang pria yang akan menjadi suami mu nanti. Aku malu pada penciptaku jika membiarkan wanita yang aku jadikan istri juga sandaran hatiku, nyatanya di luar sana masih saja mengumbar aurat yang hanya akan membuatku lebih berdosa." Sambungnya kembali memberi penjelasan
Hati Maira terasa sakit mendengar ungkapan dari hati kekasihnya tersebut.
"Aku tahu Ritz, aku tahu selama ini hanya kamu pria yang begitu menghormatiku, menjagaku, mencintaiku tanpa harus merusak kehormatanku, aku juga tahu selama ini kamu diam-diam menjagaku agar tidak di celakai orang lain. Aku tahu semuanya dan aku sadar itu." Sahutnya ikut mengungkit perhatian yang diberikan kekasihnya
"Tapi tahu kah kamu betapa cemburunya aku saat melihat kedekatanmu dengan Ayana?" lanjutnya bertanya.
Maira berusaha untuk tidak serakah dan bersikap semena-mena, memang benar dia memiliki sikap yang sombong juga galak. Tapi bukan berarti Maira tidak memiliki hati dan juga perasaan. Semua wanita pasti akan melakukan sebuah kesalahan jika ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya.
Salahkah wanita itu jika tidak menyukai Ayana? Wanita manapun pasti akan sangat iri dan cemburu pada gadis cantik itu, sikap Ayana yang begitu polos dan lugu membuat Ritz harus ekstra siaga dalam menjaga putri angkatnya tersebut.
🍃
Tidak ada lagi percapakan yang terjadi antara Ritz dan juga Maira, sang kekasih. Sebelumnya wanita cantik itu meminta penjelasan banyak dari Ritz, dan tentu tidak ada yang bisa membantah perihal Ayana yang akan tetap ikut mereka kemana pun meski sudah menikah.
"Aku rasa bukan lagi para wanita di luaran sana yang membuatku di landa api cemburu Ritz. Melainkan putri angkatmu sendiri." Dengus Maira tidak bisa mengelak akan kebenaran dari kekasihnya
"Sudahlah jangan berulah sayang, tidak bisakah kalian berdua berdamai?" rayu Ritz setengah menggoda.
"Jangan menggodaku, sampai kapan pun aku takan mau berdamai dengan anak nakal dan posesif itu." Tolak Maira mutlak
"Teriak bisa ngga sih? Punya kekasih tapi anak bawangnya nempel mulu." Lanjutnya sedikit berteriak membuat Ritz tertawa terbahak-bahak
__ADS_1
Di ciuminya pucuk kepala sang kekasih penuh sayang, perihal bagaimana kedepan nanti. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Mobil Ritz sudah sampai di depan Apartement kekasihnya, dari arah jauh sudah ada sang Mama yang menunggu Maira pulang.
"Aku ngga mampir ya, udah larut malam soalnya. Ngga apa-apa kan, sayang?" ucap Ritz sebelum sang kekasih keluar dari mobil.
"Iya, lain kali saja mampirnya. Makasih ya untuk malam ini."
Sebelum keluar mobil tidak lupa Maira mencium kedua pipi kekasihnya dan berakhir di bibir.
"Daa sayang," Ritz hanya tersenyum tanpa membalas, melihat sang kekasih sudah hilang dibalik lift baru ia meminta sopir menjalankan mobilnya kembali.
Hanya butuh waktu dua puluh menit mobil sudah terparkir indah di halaman rumah, seperti biasanya Ritz akan meminta sopirnya membawa pulang mobil miliknya dengan catatan besok pagi sudah kambali lagi.
Langkah kaki panjangnya memasuki rumah yang terlihat sepi, pria tampan itu tahu pasti semuanya sudah istirahat sekarang. Tujuan utamanya adalah kamar putrinya di lantai paling atas setelah kamarnya.
_Tring_
Lift sudah sampai di lantai atas, dengan cepat pria tampan itu keluar dari kereta besi tersebut berjalan tergesa menuju satu pintu yang tertutup rapat.
Ceklek
"Wahh, ngga di kunci rupanya."
Ritz langsung saja masuk ke dalam kamar putrinya yang tidak terkunci, sejak masuk ia tidak mendapati Ayana di dalam kamar.
"Sayang."
"Ayana."
Mulai dari kamar mandi sampai di seluruh kamar di carinya tetap tidak menemukan Ayana.
"Gadis itu kemana?" gumam Ritz khawatir takut jika mungkin saja putrinya keluar rumah tanpa sepengetahuannya.
Ia kembali keluar kamar menuju lantai bawah, namun baru beberapa meter langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang tertawa, Ritz yang penasaran mengikuti kemana arah suara yang muncul tersebut.
"Wah Paman curang ih, masa dari tadi Ayana kalah mulu. Ngga seru, Ayana ngga mau main lagi bareng Paman." Kesal gadis itu merasa telah di bodohi oleh Radit
"Ngga bisa dong gadis kecil, tadi siapa yang lebih dulu mancing buat main?" Sahut Radit tidak terima jika permainan mereka harus berakhir
"Ish, nanti Ayana bilang Daddy kalau Paman mainnya curang." Teriak gadis itu pura-pura menangis
Ritz yang kebetulan baru sampai ikut dibuat kaget dengan suara tangisan dari putrinya angkatnya.
"Radit, apa yang kau lakukan pada putriku?"
Terdengar suara bariton dari arah pintu yang terbuka membuat Ayana dan Radit terdiam.
"Gadis kecil jangan coba-coba mengadu yang tidak-tidak, percaya tidak aku akan kasih lihat foto itu pada Kakak." Ancam Radit tidak main-main
Ayana menelan kasar ludahnya kuat-kuat, apa yang akan di katakan Daddy nya bila melihat sebuah gambar yang sudah pasti gadis itu akan mendapat hukuman.
_Dasar paman ngga ada akhlak._ Rutuk Ayana dalam hati
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃